Membaca Status mu adalah jalan ninja ku!
Membaca Status mu adalah jalan ninja ku!

By KertasOnline 15 Nov 2021, 22:31:03 WIB Opini
Membaca Status mu adalah jalan ninja ku!

Keterangan Gambar : Sumber: Haibunda.com


Membaca Status mu adalah jalan ninja ku!

Bulan Juni telah usai, namun hujannya masih saja betah bercucuran bersamaan dengan postingan yang sarat akan konotasi melankolis di beranda media sosial ku sore itu. Sepertinya puisi "Hujan Di Bulan Juni" karya Pak Sapardi Djoko Damono akan terus berlanjut dibulan-bulan selanjutnya.

Ditengah situasi PPKM saat ini, begitu menarik bagiku memperhatikan postingan status dimedia sosial, sekedar menghibur diri dan mengusir kejenuhan mengerjakan tugas akhir. Coba lihat! berapa banyak kutipan puitis yang bisa kamu temukan dari status media sosial hari ini?! Banyak bukan?

Baca Lainnya :

Bahkan tak sedikit yang mencoba merangkai sendiri kalimatnya agar terlihat romantis ataupun memamerkan kegundahan hatinya untuk menarik simpati lawan jenis. Bagiku itu tak apa, media sosial hari inikan toh sudah multifungsi, tergantung dari niat si penggunanya. Memang asik memperhatikan fase pertumbuhan seorang remaja menuju dewasa dalam menggunakan akun media sosialnya. Bukannya sok tua atau merasa lebih dewasa. Sampai hari ini saya masih percaya, dalam dunia akademis penggolongan usia tidak menjadi problem yang krusial.

Perkembangan teknologi digital memanglah suatu kecanggihan peradaban yang tidak bisa kita tolak. Apalagi dalam masa pandemi seperti sekarang semuanya serba digital dan virtual. Interaksi langsung antar manusia semakin terbatas. Saya tidak bisa bayangkan betapa Bete'nya orang-orang sebelumnya melewati pandemi saat dunia dilanda peristiwa Black death. Sedikit beruntunglah kita, memiliki teknologi yang bisa memberikan hiburan untuk menjaga kewarasan.

Nahh kembali pada status dimedia sosial tadi, mari kita perhatikan saat pergantian waktu. Di Sore hari menjelang Maghrib terdapat rentan waktu yang paling banyak digemari oleh ramaja, apa itu? Yahh benar pada saat senja, waktu dimana sang langit berwarna jingga merona nan menggoda menawarkan keindahan bagi siapa saja yang melihatnya. Di waktu tersebut perhatikanlah cuitan status yang beterbangan di media sosial. Tiba-tiba ada yang menjadi puitis dan ada juga yang galaunya sampai ke ubun-ubun. Lantas apa yang menarik? Tidak lain adalah pengalaman emosional remaja yang menulis kalimat-kalimat tersebut. Barangkali dari mereka ada yang sedang patah hati, menulis puisi-puisi dengan kalimat bersayap seperti Gibran yang terus mengalami pahitnya pengalaman cinta. Tapi itulah realitas pengalaman dari remaja tadi.

Maka dari itu, saya mau turut ikut-ikutan juga. Peduli setan dengan kata orang. Kali ini tentang puisi karya Pak Sapardi Djoko Damono tapi bukan Hujan di bulan Juni karena bulan juninya telah usai meskipun masih menyisahkan hujan dan romansa-romansa yang mendalam. Siapa yang tak mengenal penulis sekaliber beliau. "Yang Fana Adalah Waktu" dan "Aku Ingin" adalah dua judul puisi Pak Sapardi yang membingungkan hati dan pikiran ku, entah apa maunya beliau ini.

"Yang fana adalah waktu, Kita abadi, memungut detik demi detik, Merangkainya seperti bunga, sampai suatu hari kita lupa untuk apa." Puisi ini betul-betul membuat habis pikiran ku, terlebih lagi ketika membaca kalimat akhirnya. Seolah-olah saya diangkat ke khayangan lalu dihempaskan turun ke bumi tanpa pegangan.

Terlebih lagi, "Aku ingin mencintai mu dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada."

Cinta yang sesederhana apa rela dibakar hingga menjadi abu? Tanpa isyarat apapun kemudian hilang begitu saja, pikir ku. Saya mencoba meraba-raba benang kusut dari dua puisi diatas namun tak sampai akal ku, biarlah menjadi bahan renungan buat ku. Kendati demikian, Puisi-puisi diatas menegaskan kemampuan pak Sapardi menangkap detail-detail realitas dalam kehidupan. Puisi-puisi tersebut kini menemukan wajah barunya dalam bentuk digital ataupun virtual dimedia sosial yang dianggap menjadi representatif kondisi emosional seseorang. Seolah-olah membenarkan ramalan Engels tentang masa dimana akan terjadi pemindahan ruang-ruang keintiman dalam kehidupan para buruh di London.

Ruang intim yang saya pahami dari ungkapan Engels adalah tempat dimana para buruh industri bisa bercakap tentang kehidupan dan pengalaman emosional sehari-harinya, yang mana kondisi tersebut hanya bisa ditemukan di meja makan sederhana yang terbuat dari kayu saat menikmati hidangan makan malam bersama keluarganya. Ruang intim itu kini berwajah baru, berwajah digital, berwajah virtual. Pengalaman emosional seseorang kini bisa kita nikmati dari status-statusnya dimedia sosial.


Muh. Yamin








Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment