Dilema Mahasiswa dan Ambiguitas Masa Depan Sarjana
Dilema Mahasiswa dan Ambiguitas Masa Depan Sarjana

By KertasOnline 20 Des 2020, 16:43:55 WIB Opini
Dilema Mahasiswa dan Ambiguitas Masa Depan Sarjana

Seperti pemuda kampung pada umumnya, aku hanya sedang mencoba beradaptasi pada setiap pendapat masyarakat yang sedang berkembang tentang pendidikan. Setelah melalui kontemplasi panjang tentang pentingnya pendidikan, apakah pendidikan mampu menjadi kendaraan yang laju untuk melewati setiap masalah yang akan kuhadapi kedepannya? Apakah pendidikan tinggi mampu menjamin kesejahteraanku dan keluargaku kedepannya? Ini sebenarnya pertanyaan klasik bagi semua orang sebelum melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.


Namun ternyata ungkapan seperti "kita tidak akan mengetahui rasanya kopi sebelum mencobanya dengan lidah kita sendiri" atau ungkapan apapun yang merujuk pada pengalaman empiris manusia, ada benarnya juga. Maka kuceburkanlah diriku dalam indahnya ibu kota provinsi dengan tujuan melanjutkan pendidikan Strata 1.

Baca Lainnya :


Dilema perjalanan pendidikanku pun dimulai. Dunia kampus yang awalnya tebersit di pikirkanku <em>yaahh</em> seperti apa yang ditampilkan dalam FTV. Kuliah, pacaran, lulus, kemudian kerja dan akan berakhir seperti apa? Terserah penulis skenario <em>lahhh</em> hahaha namanya juga FTV.

Kalaupun hidupmu berakhir susah yaah mungkin akan mulai muncul gugatan kepada Tuhan di pikiranmu. "Saya ini belajar susah payah, sudah usaha setengah mati tapi lohh kok hidup gini-gini aja Tuhaaannn?," Gerutu dalam hati si pemeran utama. Hahaha.


Lalu apa yang salah?


Fenomena seperti ini banyak kujumpai, mungkin kalian juga, bahkan mungkin sedang kalian alami. Katanya pendidikan mampu menjamin masa depan rakyat, tapi kok sarjananya banyak yang melarat haduuhhhh mana sudah bayar mahal lagi, tapi deritanya tidak ada habisnya.

Yang sedih tapi juga lucu, dari beberapa kejadian yang kutemui karena sarjana-sarjana kita mulai banyak yang menjalankan usaha kecil-kecilan. Oke baik, saya masih terima alasan menjalankan bisnis demi bertahan hidup (ini kisah sedihnya). Lucunya dimana? Disiplin ilmu yang mereka pelajari di kampus sebelumnya bertolak belakang dengan apa yang mereka jalankan setelah lulus. Ini menjadi lucu karena belajarnya kita selama beberapa tahun di kampus jadi terasa sia-sia. (Terus asistensi, presentasi, begadang kerja tugas dan laporan selama ini untuk apaaaaaa?) Katakan lah sarjana teknik yang berakhir dengan jualan kopi. Atau sarjana farmasi yg berakhir dengan bisnis online dan jutaan sarjana yang harus berkhianat dari disiplin ilmunya. "Kok tidak ikut daftar CPNS?," (Tanya tetanggamu! Yahhhh anjing menggonggong kafilah berlalu hahaha). Ayolah, kuanggap ini sebagai bentuk pemerkosaan terhadap disiplin ilmu. Memangnya lapangan pekerjaan yang sesuai dengan keahlian sarjana kita sudah tidak ada? Ada dong!


Tapi persyaratannya tidak kalah ribetnya dengan polemik UU Cipta Kerja (santai lah udah ketuk palu kok hahah) sarjana kita lagi-lagi dituntut untuk menyelesaikan tingkatan keprofesian (bayar lagi dong!) "Loh bukannya setelah lulus Strata 1 itu sudah menjamin untuk mendapatkan pekerjaan?," Tidak semudah itu "sayaaaang".


Minimal anda punya serifikat K3 untuk masuk kedalam perusahaan, ikut pelatihan seminggu sampai dua minggu yang biayanya hmmmm sepertinya sedang mempermainkan perekonomian keluarga ku. (sudah sarjana masiiiiiiih saja harus bayar, tapi kali ini beda bandar saja hahah) Duhhh gokil pak! Itupun belum manjadi sesuatu yang absolut untuk bisa diterima dalam dunia kerja. Wahhh rasa-rasanya kok ada yang janggal yah?!


Sebodoh-bodohnya aku, sempat terlintas di pikiranku, pendidikan keprofesian maupun pelatihan K3 kok tidak dimasukkan saja dalam kurikulum pendidikan S1? Biar mahasiswa-mahasiswi kita setelah lulus sudah siap bersaing dalam dunia kerja, tidak ngabisin usia dan juga biaya. Tapi ternyata semua itu tak semudah yang kupikirkan dan tak segampang yang kubayangkan. (Hidup... Hidup... Anda kok jahat sekali?!)


Lalu bagaimana nasibku? Nasibmu? Nasib kita semua kedepannya setelah menjadi sarjana?

Pikir-pikir mko dlu sendiri deh :D


Penulis: R. Sikky




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment