Vulcanolovey – War in Mind

0
339

Terkadang, atau mungkin selalu. Pernah, atau mungkin masih. Dulu, atau hingga kini tetap begitu. Entah. Rasanya seperti perang. Perang di dalam pikiran sendiri.  Tere Liye berkata, “masa lalu tidak akan pernah menang, karena ia selalu ada di belakang.”

Well, agreed! Karena pada kenyataannya kita memang hidup hari ini ya hanya untuk hari ini. Dan masa depan adalah tujuan kita. Urusan kemarin itu diikhlaskan saja. Ibarat pohon, petik buah yang bagus dan buang buah yang busuk karena jika dimakan hanya akan mengakibatkan sakit perut.

Tapi sayang, semua tidak seenteng yang tertulis pada empat kalimat barusan. Bagaimanapun juga, sekeras apapun kita berusaha, kita akan selalu diteror oleh masa lalu. Atau mungkin hanya saya? Ya, semoga saja.

Semua ini bukan tentang luka. Hanya saja yang dia lakukan terlalu berbahaya. Dia membuatku lebih bahagia dari bahagia. Sampai-sampai saya lupa, bahwa ternyata saya bukanlah siapa-siapa. Kedengarannya lucu, ya? Tapi saya tidak bercanda.

Semenjak mendaftar di perguruan tinggi yang sama, dan kebetulan juga di jurusan yang tidak beda, kami saling kenal dan jadi akrab. Kami tidak selalu sependapat, tapi tidak membuat kami berakhir dengan debat. Apalagi dalam hal berpakaian, ya tentu saja, dia laki-laki sedangkan saya perempuan.

Dari SMA, saya memang tidak terlalu senang bergaul dengan sesama perempuan. Ya, saya kira semua orang sudah tahu sifat umum perempuan seperti apa, if you know what I mean, and I guess you do. Tidak semuanya ya, kan saya bilang umumnya. Dan saya tidak akan membantah jika sifat-sifat itu ada dalam diri saya juga. Tapi saya tidak akan bercerita panjang tentang itu.

Baru saja saya menoleh ke arah kalender. Hari ini, adalah hari itu. Tiga tahun yang lalu, di mana segala rasa tiba pada puncaknya. Seperti gunung meletus yang memuntahkan berbagai jenis substansi yang berasal dari perut bumi. Akibatnya? Kau tahu kan? Coba ingat-ingat pelajaran geografi yang pernah diajarkan saat di bangku sekolah dulu.

Sekarang pukul 03.42 subuh. Sebenarnya, masih melek di jam segini sudah tidak awam lagi bagiku. Saya tinggal di lingkungan tetangga yang masih primitif, bahkan saya rasa orang primitif saja malas melakukannya. Jika saja kalian ingin tahu, para tetangga kini sedang memainkan musik dangdut koplo. Dari jendela kamarku, kau bisa mengintip mereka yang berjejer berpasang-pasangan menikmatI alunan musiknya. Jangan bayangkan.

Sudah pukul 4.15, dan saya ada jadwal meeting pagi sekali. Tetangga-tetanggaku masih asyik dengan dangdut koplonya, biarkan saja. Tentang kisah patah hati yang saya singgung di awal cerita, nanti saja ya.

Just kidding

Hari itu dia menciumku. Bibirnya menyentuh bibirku, begitupun sebaliknya. Maaf, tidak perlu kujelaskan. 1, 2, 3, 4, 5. God.

“Maaf Al, kurasa sebaiknya kita segera pulang, hari mulai gelap.” kataku sambil menangkis ciumannya (tapi telat).

Dia tidak bergeming dan langsung berdiri dari bangku tempat kami duduk senja itu. Pas. Bangku itu menghadap  ke laut. Such a very perfect moment and situation. Bunyi stater motornya mengoyak lamunanku. Kali itu adalah perjalanan pulang yang paling lama dan juga cepat, sunyi dan ramai sekaligus – setidaknya di dalam sini.

Sambil bertolak pinggang saya berdiri di depan lemari pakaian. Lima menit yang lalu saya menerima pesan whatsapp darinya. Katanya ingin ke acara University Anniversary Party sama Ara. Saya. Tentu saja tanpa berpikir panjang saya menerima ajakannya. Yang harus saya pikirkan hanya, ‘baju apa yang harus saya kenakan’.

“Astaga, mau pakai baju apa? Tidak ada lagi yang cocok!” keluhku pada diri sendiri.

Sama sekali tidak ada masalah yang terjadi di malam anniversary itu. Maksudku tidak untuk sesuatu hal yang negatif. Sebagai mahasiswa seni yang banyak koneksi – setidaknya dalam skala kampus, kami mengenal hampir semua yang hadir pada malam itu baik dari sesama mahasiswa sampai kalangan dosen. Dan kehadiran kami berdua membuat dugaan semua orang semakin menjadi-jadi.

Semua pertanyaan mereka seolah terjawabkan, seperti, apa benar kami berdua ada hubungan yang special. Padahal kami tidak memberi jawaban apapun, baik saya maupun Al. kami hanya tertawa mendengar godaan-godaan mereka. Mungkin di situlah letak kesalahannya. Fatal, bisa jadi.

Kami berdua semakin sering terlihat bersama. Sampai suatu hari, mahasiswa baru pindahan dari ‘jekardah’ masuk ke kampus kami, Syilbi Neyla. Dia tidak sekelas dengan kami, dan itu membuat Al semakin penasaran. Begitu pun saya. Ditambah dengan desas desus yang semakin hari semakin meluap dari mulut ke mulut. Membuatku mendidih.

Segala jenis pendekatan yang tidak pernah dia lakukan padaku – mungkin karena pada dasarnya kita dekat tidak dengan dibuat-buat – ia terapkan pada Syilbi.

People changes, feelings don’t – at least for me. Mungkin, dia juga tidak. Mungkin, segala jenis kemungkinan, perkiraan, dan peluang yang terbentuk, hanya  sekedar wacana. Mungkin, dia tidak pernah memiliki perasaan apapun padaku. Mungkin, seharusnya kuhapus saja kata mungkin.

Pernah suatu hari, hari di mana gunung itu meletus untuk kedua kali. I saw them kissing. And I hope this is just a joke. But it’s not. Tragis. Bahkan sebelum gunung Itu meletus sepertinya semesta sudah merasakan dampak negatifnya.

Pada saat itu , otakku seketika tidak bisa berfungsi dengan baik, apapun yang kupikirkan hal itu, adalah hal terbodoh yang pernah kulakukan dalam hidupku. Saya menghampiri mereka.

Are you kidding me? What are you guys doing?” seruku dengan nada yang sedikit tinggi.

“Apa-apaan sih kamu? Kamu gila ya?” jawabnya dengan nada yang tidak kalah tinggi.

“Saya hanya tidak mengerti Al dengan kamu. Dengan apa yang kita jalani selama ini.” Saya putus asa.

For god sake, we’re just friends, Ara!” Katanya, kemudian menarik tangan Syilbi yang dari tadi berdiri kebingungan dengan ‘drama’ yang barusan terjadi.

Bagaimanapun juga, semua itu hanyalah sepenggal masa lalu. Jika ini adalah kisah di dalam Novel, ataupun FTV, mungkin Syilbi adalah bukan orang baik. Hanya diawalnya saja, seiring waku berjalan, kebohongannya akan terungkap mulai dari selingkuh sampai materialistis dirinya.

Tapi saya tidak akan menuliskan kisah yang seperti itu. Karena memang bukan begitu. Cerita cinta mereka berjalan lancar, hanya mereka yang tahu masalah-masalah yang dilalui dalam hubungan mereka.

Pagi ini sebelum berangkat kerja, Mama memberikanku sesuatu. Sebuah undangan. Katanya datang dari kemarin, mau diberikan kepadaku sepulang kerja tapi saat itu Mama sudah tidur, saya pulang telat karena ada lembur di kantor.

Nama yang tertera di undangan itu sudah sangat akrab di ingatanku…

Sudah delapan bulan saya kembali menjalin hubungan dengan seseorang. Beruntung. Kami selalu bertukar cerita sepulang kerja dari kantor masing-masing. Mulai dari bos yang tukang marah, staf yang tidak becus, kerjaan yang menumpuk, dan lain sebagainya.

Sorenya kami singgah di tempat favorit kami menikmati senja. Dia menceritakan harinya di kantor. Saya tidak. Saya fokus mendengarkan. Atau mungkin tidak.

“Bagaimana harimu?” tanyanya setelah beberapa saat tidak mendapat tanggapan dariku.
“Aku ingin bertanya.”
“Silakan.”
“Sayang, adakah yang lebih jujur dari perasaan yang tidak pernah terungkap?”

Seketika bibirnya melandas di bibirku, tak perlu kujelaskan.

“Maaf Al, kurasa sebaiknya kita segera pulang, hari mulai gelap.” Kataku singkat.

Hari ini, adalah hari itu. Di mana rasa tiba pada puncaknya. Seperti gunung meletus yang memuntahkan berbagai jenis substansi yang berasal dari perut bumi.

Penulis: El Syahrany Saiman

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here