Ternyata

0
354

Berada di tempat yang baru dengan situasi berbeda, membuat aku sedikit tercengang. Lain dari biasanya, jika itu tempat bermain dan belanja cukuplah menyenangkan. Namun, area di mana aku berdiri sekarang, sangatlah aneh. Pikirku, semoga saja bisa nyaman di tempat ini  seperti apa inginku, di kampus lama.

Pukul 7.30 tertera pada jam tangan yang melingkar pada pergelangan. Sesekali kuedarkan pandangan ke seluruh penjuru. Hanya saja, satu dua orang petugas kebersihan dan security sedang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing.

Masih dalam posisi yang sama, mataku kembali kufokuskan pada gerbang masuk datangnya mahasiswa. Hasilnya nihil, tidak ada tanda-tanda dari mereka  berani menonjolkan batang hidungnya. Tersadar dengan aksi gilaku menunggu seseorang agar bersamaan memasuki pusat ruangan kelas, ternyata waktu dua puluh menit terbuang sia-sia.

Tetiba, aku ketir-ketir pada saat itu juga. Khawatir, kalau ternyata benda di pergelangan tanganku tidak berfungsi seperti sedia kala. Tanpa mengindahkan di sekitar, kakiku dengan gesitnya menuju ruangan.

Saat mulai mencari nomor kelas, entah kenapa angka itu hilang dengan mudahnya di ingatanku. Berhenti sejenak, lalu mencari secarik kertas jadwal matakuliah lengkap dengan ruangannya. Masih dalam keadaan nafas tidak beraturan, tanganku juga  sibuk mengaduk seisi tas yang kukenakan. Aku mendesah, kemudian mengeluarkan semua benda-benda tersebut.

Augh…..

Aku tersungkur di lantai dan sedikit mengerang kesakitan. Orang yang menabrakku sampai terjatuh pergi begitu saja tanpa membantu atau setidaknya meminta maaf. Saat hendak berteriak dan mencacinya, Ia pergi menghilang dengan cepatnya. Untung, sempat mataku menangkapnya walau wajah tidak sempat kukenali dengan baik.  Ia seorang mahasiswi terlihat dari pakaian yang dikenakan dengan rambut menjutai ke bawah, seperti itulah peragainya.

“Dinda, kamu kenapa?” sahut seseorang dari belakang.

“Oh kamu, ngagetin aja,” jawabku seadanya. Ky menimpali jawabku dan bertanya kembali.

“Kok ceroboh sekali Din, sampai terjatuh?”

“Tadi itu, ada mahasiswa yang menabrak aku, sampai Jatuh kayak gini”

Ky tertawa lepas menatap ekpresi mukaku yang penuh amarah. Ia membantuku memungut buku-buku dan beberapa lembaran kertas di atas lantai.

“Btw Din, Aku duluan yah “ pamit sahabatku itu.

Aku berdiri dan melanjutkan mencari nomor kelas N202. Meski sakit melanda pada lutut, aku harus kuat, karena ini merupakan kuliah perdana. Baru beberapa meter melangkah, terdengarlah bunyi decitan sepatu disertai suara bergemuruh. Menengok ke belakang, dan mendapati wajah-wajah tidak asing lagi. Bersamaan melihatnya, mereka menghampiri untuk menyapa satu sama lain setelah beberapa bulan tidak bertemu.

“Din, kok jalannya terseok-seok sih?” tanya Maul, kemudian mendekat mengecek kaki aku di dalam balutan rok span. Memang Maul ini sangat perhatian.

“Maul, nggak apa-apa kok”

“Nggak kanapa-kenapa bagaimana, di pergelangan kaki kamu kebiru-biruan” protesnya dengan nada sinis.

Tidak ingin membiarkam mereka khawatir, aku pun terus terang menceritakan kejadian tadi. Dengan serempak menimpali ingin mencari tahu siapa pelakunya.

*************

Aku bersama teman-teman memperhatikan deretan setiap angka tertera di atas pintu setiap ruangan. Menoleh celingak-celingukan. Terkadang salah satu diantara kami mengendap-ngendap ketika di ruangan tersebut sudah ada dosen pengajar. Aku berdiri tepat depan ruangan N198, sontak kaget. Sesorang membuka pintu, dari rawat wajah, nampaknya ia kesal.

“Ngapain di sini Din?” ujarnya dengan gelagapan. Aku menoleh ke dalam dan mendapati seseorang hampir mirip pelaku yang menabrak aku tadi. Lamat-lamat memperhatikan dan bermaksud mencondongkan muka ke dalam, buru-buru Ky menutupnya dengan kencang, sedikitnya memekakan telinga.

“Siapa sih di dalam?”

“Nggak ada siapa-siapa Din, tadi itu aku masuk ke sini karena kelas kita masih dibersihkan. Loh tau sendiri kan, aku tuh paling malas nunggu di depan kelas” sergahnya tetapi mencurigakan.

Dari ujung ruangan, Maul memanggil dengan suara dipelankan. Bersama dengan Ky aku menghampirinya begitu pun dengan teman-teman yang lain.

Aku cengengesan menatap Maul dengan ekpresi wajah seriusnya. Ia tidak berkata apa-apa, cuman, menunjukkan sesuatu di dalam kelas. Sejenak, semuanya terdiam membisu dan berpandangan keheranan. Pikiranku pun berkecamuk.

Selang beberapa menit, tiba-tiba ky menjadi orang pertama yang kucurigai. Hal ini sebenarnya ingin kusampaikan pada Maul, tetapi momentnya belum pas. Reynaldy geram melihat ke dalam kelas. Tangannya meraih gagang pintu dan membuka secara perlahan-lahan. Seketika bau anyir melanda ruangan, mungkin karena banyaknya percikan darah merembes. Beberapa diantara kami mulai mual dan memilih keluar. Tulisan “WELCOME 2016” di papan tulis tidak ada yang tahu maknanya.

Ky, Maul, dan Reynaldy menyusuri jejak-jejak sang penulis. Sementara aku memilih keluar karena tidak tahan lagi bau yang menjalar dihidungku. Aku duduk sambil menerka-nerka apa motif dari semua ini.

Krekkk,krekkk

Bunyi gesekan pintu dari ruangan N198 tertangkap di indra pendengaranku. Aku menoleh dan mendapati gadis itu menuju tangga lantai 2, rambutnya disampirkan, hingga wajahnya sedikit terlihat. Belum lepas pandangan ke arah gadis tersebut, Ky dari dalam tergesa-gesanya meninggalkan kami semua. Firasatku mengatakan ini Aneh!

Aku kembali masuk ke ruangan menemui Maul, mengatakan seputar gerak-gerik Ky sejak datang ke kampus sampai memergoki di ruangan N198 bersama seorang gadis yang menabrak aku.

“Bagaimana mungkin Ky melakukan ini, apa coba untungnya” Reynaldi menyergah pembicaraan kami berdua.

“Sebenarnya, aku sependapat dengan kamu Din. Aku juga menaruh juriga padanya, semenjak kamu menceritakan kejadian tadi itu” tambah Maul setuju dengan pendapat aku.

Teriakan dari luar bersahutan, kala lampu tiba-tiba padam. Peluhku pun mulai bercucuran, karena ketakutan. Reynaldi mengamit tanganku demi mengusir kegusaranku saat ini . Sumpah serapah pun mulai ia ucapkan. Memang di lantai 3, kalau lampu tidak menyala itu sangat gelap, disebabkan tidak ada pantulan cahaya masuk, kecuali ruangan bagian depan. Sementara ruangan kelas letaknya dibelakang dan diapit ruangan-ruangan penyimpanan buku-buku.

“Maul, Maul, Maul, kamu di mana?” panggilku tapi tak dijabah. Aku semakin ketakutan. Di luar masih saja terdengar suara-suara menjerit dan memanggil-manggil nama ibunya.

Lampu menyala kembali, tinggal aku dan Reynaldi di ruangan.

“Din, Maul mana?” tanya orang di sampingku ini. Aku berlari keluar mencari Maul tanpa mengubris Reynaldi. Tidak ada tanda-tanda keberadaannya. Seketika pun, air mataku mulai mengucur keluar menyaksikan teman-teman aku meringkik ketakutan.

Aaaaghhhhhh….

Jeritan itu membuyarkan tangisanku. Nisa yang dekat tangga berlari dengan cepat ke arah kami. Kami pun keheranan. Mataku membelalak menyaksikan Ky dan gadis tadi itu berlumuran darah. Hampir mukanya tidak dikenali lagi. Aku langsung menjerit dan bermaksud menghampirinya.  Belum sempat maju mendekati Ky dan temannya mungkin, Maul pun muncul di belakang dengan senyum kepuasan serta  pisau digenggamannya.

Penulis: Justina

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here