Cerita Cinta dari Negeri Tropis

0
667
(IST)
(IST)
(IST)
Nurparamadina | KERTAS

Daun yang hijau perlahan-lahan berubah warna jadi kecoklat-coklatan, pun tanah depan rumah juga ikut retak, satu pertanda bahwa aku tidak lagi berada dimusim yang kemarin. Musim boleh saja berubah, tapi hati dan perasaannya tidak! Semua sama saja, seperti awal mula kau menatap mataku dibawah gerimis, masih kuingat betul kornea mata berwarnakan coklat yang terus saja menatap mataku kala itu, dan berdiri tepat dihadapanku membuat frekuensi jantungku naik hingga tiga kali lipat.

Minggu pertama dimusim penghujan semuanya masih baik-baik saja, kau masih terus saja berusaha untuk tahu apapun tentangku, tapi kini tidak lagi, semuanya berbeda sejak kau pulang dari negeri ginseng, entah apa yang membuatmu berubah sepulang dari sana. Apa disana salju terlalu indah? Hingga kau jatuh cinta lebih kepadanya? Ataukah warna merah jambu sakuranya yang membuatmu enggan untuk cepat kembali?

Kau tidak tahu betapa sulitnya melalui sisah musim kemarin menahan rasa rindu seorang diri! Aku menunggumu berharap kau kembali dipenghujung musim untuk sama-sama kita akhiri dengan satu cerita cinta yang tak dapat kita lupakan. Namun, ternyata aku salah menaruh harapan itu padamu, kau kembali saat musim benar-benar telah berganti.

***

Aku perempuan berusia 18 tahun bernama Rahel  yang mengagumi, menyukai, bahkan mecintai seorang laki-laki berusia 19 tahun dengan tinggi 170 cm tidak jauh beda dengan dengan tiang jemuran ibuku, dengan kulit yang sedikit gelap, mata yang bulat seperti panda dan hidung yang mancung layaknya orang barat dan namanya Ian, cukup! jika kuceritakan lebih jauh maka kalian bisa jatuh hati padanya, ntar aku punya banyak saingan deh hehe.

***

Gemerisik hujan terdengar jelas kedalam kamarku juga dentuman air yang mengena tepat diatas kaleng yang semakin menambah dramatisnya hujan kala itu. Waktu masih menunjukkan pukul.02.30 pagi, hari dimana hujan mulai memasuki lagi tanggal mainnya, tak berfikir panjang, aku melepas selimut dan melihat dari balik jendela yang berembun itu, ternyata benar-benar sedang hujan, dan diluar masih cukup gelap, sontak hatiku seperti tertusuk diikuti oleh air yang jatuh pertama kali dari mata kananku menyusul mata kiri, itukah air mata kesedihan?, aku bertanya pada diri sendiri, kenapa menangis? (tanyaku dalam hati), toh, aku juga bukan siapa-siapanya Ian, bahkan bisa dibilang aku tidak punya kenangan romantis apapun dengan dia, lantas apa yang mestiku tangisi? (tanyaku lagi pada diri), aku hanya tidak lebih dari seorang perempuan yang kegeeran atau mungkin korban PHP (Pemberi Harapan Palsu).

Diawal musim penghujan ini, ada rasa yang harus aku kubur sebelum senja dan ada hati yang harus kutegarkan sebelum esok, aku tidak boleh menjadi perempuan berusia 18 tahun yang selalu sedih manakala hujan jatuh dihadapannya, justru aku harus menjadi perempuan berusia 7 tahun yang selalu riang gembira tatkala hujan mengena rambutnya yang baru saja dia sisir dengan rapih dan tidak marah karena hujan merusaknya, meski itu hujan deras sekalipun.

***

Dibulan kedua dimusim penghujan, aku perempuan yang sangat menyukai warna merah jambu ini, seketika berubah dan seperti tidak mengenal warna lain selain hitam kala itu, Iya…warna hitam adalah salah satu warna dasar dalam hidup yang sering kuartikan gelap, sepi, sunyi dan sendiri, seperti Ian yang baru saja merasakan kesepian, kesunyian dan seorang diri dalam dunia barunya. Iyah.. aku kehilangan Ianku yang berusia 19 tahun itu, dia pergi untuk selamanya dia pergi bersama Dia yang lebih pantas untuk menjaga Ian. Ian pergi menghadap ilahi dengan catatan medis yang mengatakan bahwa Ian menderita Lambung kronis.

Setelah Ian memasuki rumah barunya, Ibunya dengan wajah yang sedih datang menghampiriku dan bilang, kamu Rahel kan? Bisa ikut ibu sebentar? (tanyanya sambil menarik lenganku dan membawaku kedalam mobilnya). Ternyata, ibu Ian membawaku kerumahnya, dan menyuruhku masuk kekamar Ian.

Hatiku benar-benar hancur berkeping-keping saat kutemui fotoku terpanjang dengan ukuran 3 R disamping tempat tidurnya, dan beberapa pajangan foto keseharianku dikampus yang terpajang diuntaian tali yang dijepit dengan jepitan warna pink kesukaanku, lengkap dengan keterangan fotonya yang bertuliskan Rahelku apa kabar hari ini? Semua foto diberi keterangan seperti itu.

Tak lama, Ibu Ian masuk kekamar dan memberiku satu surat, yang luarnya tertulis, “untuk Rahelku”, air mataku sungguh tak terbendung lagi disaat kubaca surat itu, yang isinya, Rahel mungkin kau akan membaca surat ini saat aku tidak lagi bisa mempertanggung jawabkan apa yang kukatakan ini, Rahel.. Aku mencintaimu, maaf untuk semua tingkah laku anehku, ingin rasanya kukatakan ini lebih awal, tapi aku tidak mau membebanimu dengan diriku yang penyakitan ini, oh yah aku membelikanmu beberapa oleh-oleh dari negri Ginseng, kamu bisa memintanya sama Ibuku, didalamnya juga ada bunga sakura yang mungkin tidak lagi berwarna merah jambu seperti kesukaanmu. Salam cinta dan rindu dari Ian.

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here