Robeknya Sakralitas Agama dan Keluarga

1
270
Ilustrasi (Sumber Foto :google.com)

Terik memanggang aspal. Riuh bising. Klakson menyalak-nyalak. Mobil, motor, berebut ruang kosong jalan raya. Asap knalpot bercampur udara. Kendaraan digerakkan ambisi hidup kota. Berebut. Salip-menyalip. Tak peduli. Aku adalah aku. Kalian adalah aku bagi diri kalian. Toh jalan raya gambaran kiamat. Kiamat sosial.

Panas menggerahkan. Keringat asin basahkan bulu. Merembet kain-kain penghalau telanjang. Tapi apa peduli. Ego menuntut hidup. Kalau tidak, kota menyeret. Berakhir di bawah lampu merah. Memulung botol bekas. Makan sisa. Dari tempat sampah. Tidur bersama tikus. Beruntung jika koran, kardus, jadi alas.

Tak ada trotoar. Bebatuan kecil, pasir, debu, jadi karpet. Jalan etalase tokoh, mall, tempat karaoke, memotong. Bibirnya mencium pinggir jalan raya. Tempat tukang parkir memungut pundi belas  kasih. Menetapkan tarif sesuka-suka. Illegal dari sudut meja kantor pemerintah. Lupakan sosok berdasi. Kucing-kucingan, legal jadi ada.

Dia berjalan. Lewati keriuahan. Ikut ke mana tungkai menghendaki.

Sepatunya, tampak robekan. Helai benang-benang mulai putus. Lem tak lagi mengutuh. Pun putih alas pudar. Jeansnya usang. Noda, debu, jadi warna dominan. Sayang, tak sadar dia, bagian bokong kiri, di bawah kantong, sudah bolong. Kaus oblongnya lusuh. Bagian punggung tergores kalimat “Masa terbaik dalam hidup seseorang adalah masah ia dapat menggunakan kebebasan yang telah direbutnya sendiri”. Bagian dada kausnya, wajah si pemilik kalimat, Pram dengan kacamata. Mengerutkan kening. Garis raut pipi. Melihat tajam.

Dia bukanlah aktivis. Walau pernah terhitung di barisan Demonstrasi. Menghalau pengendara dengan bakar ban. Suara teriakannya hanya bising. Pengnyemangat bagi kawan-kawanya. Tapi tak memecahkan kaca ruang Dewan. Tak sampai di ruang atas penentu Kebijakan.

Dirinya sekarang di posisi sendiri. Tidak. Dia berdua. Ke-Aku-annya dan Saul. Menyerah pada lalu-lalang kemunafikan. Memilih mengasingkan tubuh. Jika di pondokannya, rutinitasnya melompat-lompat di deretan aksara. Lalu menyelinap di balik huruf A…K…U. Menelusuri lorong gelap. Mencari makna. Makna hidup sesungguhnya.

Menatap ke depan. Tatapan hampa. Menerawang. Sesekali tertunduk. Menendang kaleng, botol plastik bekas, rerumputan. Pikirannya menyibak hal-hal lalu. Menyusuri lorong-lorong ingatan. Menemukan Ibunya sakit-sakitan di rumah neneknya.

***

Tersiar kabar. Tetangga rumah. Tetangga kampung. Saling berbisik. Hal yang aku temukan di kampung, tiga hari sebelum pembacaan kisah Ibrahim dan anaknya, Ismail, di mimbar Mesjid.

Bisik-bisik ini tak mengusikku. Percaya aku, di rantau sana, bapak bekerja untuk istri, anaknya.

Selang beberapa hari. Setelah terpukau cerita kesetiaan, kasih, sayang, Hajar. Ketugahan Ibrahim sebagai bapak. Patuhnya anak bernama Ismail. Bisik-bisik itu mulai jelas. Sepupu yang bekerja bersama bapak pulang kampug. Darinya jelaslah sudah. Ayahku di negeri perantauan. Menikah. Lagi. Untuk kedua kalinya.

Semuanya runtuh. Langit tanah merapat. Menjepit. Kepercayaan hilang pada bapak. Tahulah aku ujung dari keluarga

Lewat sambungan telepon. Aku tatap mukanya. Ku katakan;

“Istrimu. Ibuku. Meninggalkan agamanya. Meninggalkan adatnya. Meninggalkan orang tuanya. Datang mengikutimu. Memelihara anakmu. Merawatnya hingga di bangku kuliah. Orang tuanya meninggal, saudaranya meninggal. Saat itu, istrimu baru kembali ke kampung halamannya. Hampir 30 Tahun di sisimu sebagai tulang rusukmu. Kau dustakan pengorbanannya. Bapak campakkan kesetian dan sayangnnya. Kau genapkan kesakitannya. Dua kali hidup ibu dihancurkan laki-laki…”.

“Aku. Kini. Tak menganggapmu bapak. Yang aku tau, kau hanya laki-laki, yang karenamu aku berpijak di bumi. Tak lebih. Sebatas itu. Ibu. Bukan lagi istrimu. Biar aku menjaganya. Menghiburnya. Menghapus luka. Pekerjaan utama seumur hidupku. Senyumnya. Itu kebahagianku”.

***

Kilauan keringat di wajahnya. Basah bajunya . Kesadarannya hilang. Beberapa saat. Ketika kokohnya bangunan muncul di depannya. Kampus. Susunan lantai. Dari lembaran-lembaran uang mahasiswa. Berlalu. Langkah ketak pedulian. Kanan, kiri. Kanan, kiri. Kanan, kiri. Silih berganti. Memijak anak tangga.

Disamping kelas. Tinggal hitungan langkah membuka pintu. Suara itu. Menyentuh gendang telingannya.

“Dua kitab suci agama. Samawi. Tersebut di sana. Istri tunduk. Patuh. Pada suami…”

Matanya. Lagi. Menerawang hampa. Tak jadi lanjutkan langkah. Di baliknya badannya. Memunggungi ruang. Berlalu. Perlahan. Suara itu lenyap.

Penulis: Egita

Facebook Comments

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here