“Jangan Ada Cinta, Pun Rangga”

0
648

Kamu harus belajar tentang rasa.

Apapun itu.

Rasa buah kesukaanmu.

Rasa kopi kesukaanmu.

Atau bahkan,

Rasa manis yang membuatmu tersenyum malu.

Rasa kecewa yang membuatmu pilu.

Juga.

Rasa memiliki.

Hingga

Rasa kehilangan.

Apapun itu.

 

Sebab semua punya makna dihadirkan, sedemikian baiknya Tuhan.

Meninggalkan misalnya.

Dia bukanlah musibah, seperti yang kau sesali.

Sebab, meninggalkan adalah rasa yang tersaji di menu kehidupan.

Kamu punya andil untuk memesannya, kapan saja.

 

Meninggalkan itu pilihan yang menghasilkan.

Jika kamu belum juga paham.

Coba tanyakan kepada dirimu, untuk apa kau meninggalkan?

 

Meninggalkan remaja menuju hari tuamu.

Meninggalkan ibu-bapakmu menuju keluarga barumu.

Meninggalkan duniamu menuju Tuhanmu.

Atau apa saja.

 

Seperti pun aku.

Meninggalkan puisi sebagai pesan untukmu.

Begitu berat menjadi yang ditinggalkan.

Mungkin itu juga alasan Cinta.

Rangga terlalu arogan untuk memilih meninggalkan.

Ia lupa…

Meninggalkan dan ditinggalakan adalah pilihan rasa yang berbeda.

 

Di menu kehidupan. Ditinggalkan adalah sajian yang tak sebebas untuk dipesan.

Ia ibarat mading yang mempertemukan Cinta dan Rangga.

Tetapi di kehidupan selanjutnya, ia tak mendapatkan peran lagi.

Jika pun mendapatkan peran, tapi Cinta tak sengotot lagi mengisinya.

Pun Rangga.

 

Penulis : Ilham Safar

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here