Pemakaman Sunyi

0
119
Ilustrasi. (Sumber : www.google.com)

Kali terakhir berjumpa, September 2016. Entah takdir atau hanya kebetulan, gerhana matahari total menggelapkan sebagian bumi dan membiarkannya berputar tanpa sentuhan sinarnya. Isakan seolah tak ingin berhenti. Jariku gemetar tanpa gertakan, bunyi terakhir dari sebuah mesin seolah merenggut hidupku. Aku berpaling tanpa kata. sesosok bayang berlalu dan tak kuindahkan.

Dua tahun berlalu, tak cukup sebulan untuk menyambut hari itu kembali. Hari,tanggal dan bulan yang sama, seakan menjadi hantu bagiku. Kuurung niat kembali ke kota, kerabat pun tak memaksa. Aku tak ingin berkunjung di waktu yang sama.

Di sana ia menyambutku dengan senyuman hangat dan secangkir teh juga cookies yang baru di oven. Adalah hal yang sangat istimewa baginya.

“Kau datang lebih awal dari waktu yang telah kita tetapkan,” ia melempar senyuman sehabis bertanya.“ Heh, waktu itu bukan kita, hanya saja kebetulan,” sanggahku dengan mata berkaca.“ Sudahlah, tak usah kau taruh dendam, hanya membuat sulit dirimu saja,”.

Ia lalu berdiri mengambil sebuah buku nampaknya seperti album foto, di dalam buffet usangnya. Belum sempat ia duduk, Kakiku seolah tak ingin berlama-lama. langsung saja ku ayuh langkah tanpa sepatah kata dan berlalu meninggalkannya.

Di ujung jalan, kulihat dia berjalan menggandeng anak kecil, mengenakan busana pesta dengan warna senada. Si kecil tampak bahagia dengan balutan dress panjang dipenuhi gliter dari lilitan kain tile. Mereka tertawa.

Dari desak embusan angin, “Ma, ma, sapi loncat, ma, ayo ma kejar,” si kecil dengan langkah mungil menariknya jauh dari jalan. Rerumputan tunduk terkena kaki mereka. Semakin jauh dan jauh. Gelap pun menyapu, hanya ada bintang dengan remangnya.

Kakiku bergetar, aku seolah sedang berada di atas kapal. Kacau, suasana menjadi panik, gelap bak di hantam ombak lalu menabrak karam, ada yang jatuh dan tersapu. Kususuri koridor, kucari si kecil namun tak ada.

Tak lama, bangunan di sekitar rubuh lalu menimpa tubuh ku, dan tak tahu apa yang terjadi dengan si kecil.

Aku tersadar, dengan balutan kain putih disekujur tubuhku. Kutarik nafas, kupikir sudah mati, ternyata hanya ilusi. Entah mengapa, saat bangun aku kelalapan mencari seseorang. Seperti tengah di kejar dan mencari sesuatu yang tak pernah kulihat sebelumnya.

Langkahku cepat,

Menelusuri lorong rumah sakit.

Di ujung jalan itu,

Aku berhenti saat ku lihat wajah serupa, Ia menoleh dengan senyum hangatnya kepadaku. Si kecilnya pun tak ada, digenggaman maupun pelukannya. Hanya ada kesunyian.

Bunyi itu sontak menyadarkanku, kulihat sekeliling tersedu. Air mataku jatuh, saat ku tahu akulah sikecil dengan dress panjang yang ia genggam. aku tahu betul dia masih di sini.

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here