Bukan sebuah ketidakpastian namun semua pasti dan akan terjadi. Seperti Alima, perempuan tua, yang jika saja menerima salah satu lamaran pria pada 30 tahun lalu mungkin hari ini atau hari-hari kemarin, baju pesanan orang-orang yang dijahit dengan rapi akan lebih cepat selesai karena bantuan anak-anaknya, dan anak dari anaknya. Namun semua hanya menjadi penyesalan belaka Alima.

Tumbuh dari keluarga pemilik tailor yang cukup besar, dan kebutuhan hidup bukan sebuah masalah bagi ayah dan ibu Alima. Karena keyakinan, anak perempuan tak perlu bersekolah tinggi-tinggi, cukup selesai sampai SMA. Hingga setelah menikah perempuan hanya akan mengurus rumah, suami dan anak. Persis seperti ibu Alima, hidupnya yang dulu serba susah, dan setelah dipinang oleh pak Satir pemilik tailor hidup susah layaknya sumur kering yang tiba-tiba meluap.

Alima senang bergabung dengan para penjahit tailor ayahnya, dan waktu itu Alima gunakan untuk belajar menggunakan mesin jahit. Tak kurang pakaian pesanan orang yang menjadi korban latihan Alima, namun rusaknya pakaian milik pesanan orang bukanlah hal yang buruk bagi pemilik, melainkan merupakan keuntungan yang tak terkira. Karena baju yang dirusak Alima akan diganti oleh ayahnya dengan kualitas yang lebih baik.

Setelah pakaian kedelapan yang dirusak Alima, ia menjadi lebih mahir dan menjadi penjahit andalan bagi para penitip, meski sedikit memakan waktu yang cukup lama. Ayahnya pun telah menyediakan baju-baju yang baru dibeli dari toko untuk Alima. Tentu ia gunakan sebagai bahan jahitan, walaupun bahan kain pembuatan baju cukup banyak yang dimiliki ayahnya, namun Alima akan tetap menggunakan pakaian yang telah jadi untuk bahan latihannya.

“Menjahit baju dari bahan yang disediakan,” kata Alima saat ditanya oleh langganan jahit. “Tidak menantang, dan hanya akan membuatku bekerja dengan hitungan bukan keberanian”.

Hal-hal yang dilakukan Alima di tailor ayahnya persis seperti apa yang dilakukan ibunya. Namun ibunya sudah tidak melakukannya. Kini ia hanya mengurus apa yang dibutuhkan ayahnya secara pribadi. “Aku menikahimu bukan untuk mengelola usaha ini,” kata ayah Alima saat di mana ibunya meminta posisi bagian administrasi. Ayah Alima beranggapan pekerjaan itu hanya akan mengabiskan waktu yang ayah Alima butuhkan untuk dirinya.

Hingga Alima memasuki umur ke-18 tahun, waktu di mana seharusnya melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Namun hal itu bukan pinta ayah Alima untuk tidak perlu melanjutkan pendidikan, tapi atas keinginan Alima sendiri. Kenikmatan hidup Alima ia temukan pada suara mesin jahit dan gerakan kaki yang sinkron dengan tangan pada saat menjahit pakaian. Ayahnya telah meminta Alima untuk berhenti melakukan perkerjaan menjahit, namun Alima menolak. “Saya akan berhenti setelah menjadi istri,” seperti itu kata Alima, lantas tidak membuat ayahnya marah dan tetap mengikuti kemauan Alima. Bahkan di umur yang sebentar lagi 20 tahun Alima masih menjadi anak tunggal.

Warna kuning pada wajah Alima dan ibunya, menandakan senja sebentar lagi akan melambai. Di tangan kanan Alima sebuah belanjaan pakaian gaun yang baik digunakan saat acara pernikahan. Alima membelinya karena tertarik dengan modelnya dan tentu lebih tertarik untuk merubahnya.

“Apakah ibu tidak menginginkan anak lagi?,” tanya Alima saat senja telah menurunkan lambainnya dan memberikan tempat pada rembulan di sebuah rumah makan sari laut.

“Sepertinya ibu tidak akan mengandung lagi,” jawab ibu dengan ikut merapikan kerudung yang digunakan Alima.

“Jadi aku sudah layak disebut anak tunggal?,” tanya kembali Alima. Ibunya mendesah dan mengiyakan pertanyaan Alima.

Minggu pagi, pukul 10:30 hari dimana Alima tidak berada di tailor milik ayahnya dan hanya berdiam di rumah, demi memenuhi pinta ayahnya. Sebab hari ini seorang prajurit TNI yang baru saja lulus dari pendidikan akan datang meminangnya.

Sosok Alima yang gemar mengotak-atik beberapa jenis pakaian justru hanya menggunakan kerudung yang panjangnya melewati siku dan rok panjang buatannya sendiri. Dengan gaya seperti itu, Alima terlihat lebih sederhana dan natural. setelah 15 menit Alima duduk di kasur menunggu panggilan ayahnya untuk keluar menemui seorang prajurit TNI yang akan meminangnya, Alima keluar dengan kepala dan mata lebih senang memandang tegel putih pada lantai rumahnya. Alima duduk di samping ayahnya dan memulai perbincangan antara ayah masing-masing.

Perbincangan yang cukup lama dan yang dilakukan Alima masih seperti semula. prajurit TNI yang akan meminangnya telah menampakkan wajah berseri, bahagia dan tarikan kedua ujung bibir. Namun harapannya tidak seperti kenyataan, Alima menolaknya dengan alasan sederhana

“Seharusnya ia hanya berpakaian biasa, dia kan datang dengan tujuan meminang bukan bertugas, aku masih ingin di tailor,” jawab Alima saat ditanya ayahnya setelah si peminang pamit dan akan diberitahu nanti malam apa keputusan Alima. Setelah mendengar kata, “Aku masih ingin di tailor” ayahnya sudah tahu apa jawaban Alima.

Hal itu bukan masalah bagi ayah Alima, justru membuatnya bangga, entah karena apa. Namun sebagai seorang perempuan, Alima cukup baik dalam hal memilih. Tahun berlalu, seperti hari-hari kemarin. Alima masih berada di tailor ayahnya dan belum pergi dan melanjutkan hidup berkeluarga. Kenyamanan lebih ia dapatkan bersama para pekerja. Setelah prajurit TNI, guru SD, juru masak, atlet sepakbola, dan yang terakhir tetangganya sendiri semua berakhir menjadi angan yang tertiup angin hingga tak ada yang tahu kemana perginya. Semua tertolak kerena alasan sederhana, sejatinya Alima belum kepikiran untuk menikah, hingga tidak inginnya membuatnya tidak sadar dengan waktu.

Karena mayoritas pekerja adalah ibu-ibu, Alima sangat senang berbagi cerita bersama para pekerja, dan berusaha untuk membuat posisinya setara dengan para pekerja. Karena itu, Alima sendiri sangat marah jika salah satu penjahit menyikapi Alima seperti para pekerja menyikapi ayahnya. Alima juga memberikan gaji tambahan kepada semua para penjahit tanpa sepengetahuan ayahnya, dan tidak mempermasalahkan pekerja yang terlalu santai dalam bekerja.

Berbuat sesuatu hal yang menyenangkan, itulah yang terus Alima tanamkan pada dirinya. Hingga hari di mana Alima bertemu dengan situasi yang belum sempat ia pikirkan dan siapkan. Ayahnya meninggal tanpa sebab yang pasti. Ayahnya berangkat pada pagi hari dengan mobil sedan berwarna hitam. Ibunya tidak ikut lantaran harus menemui tukang service AC dan Alima sedang pergi bersama salah satu penjahit bernama Samira. Umurnya dengan Alima berbeda 2 tahun.

Hingga pukul 10 malam waktu di mana ayah Alima sudah sedari tadi seharusnya pulang. Ia pun tak dapat dihubungi melalui nomor telepon. Kekhawatiran menyelimuti ibu Alima pada dinginnya malam di depan teras rumah.

“Barangkali bapak terjebak macet atau lagi ada urusan penting,” ucap Alima setelah melihat ibunya yang sedari tadi duduk termangu di teras. Tak ada pilihan lain, Alima pun ikut duduk bersama ibu menunggu ayahnya yang belum juga pulang, hingga jam dinding menujuk angka 11. Kepergian ayahnya di waktu pagi juga tak sempat ibu Alima tanyakan karena memang seperti itu selalu, ibu Alima tidak menanyakan karena ia tahu suaminya hanya pergi ngopi bersama teman-temannya.

“Ibu tahu ayah pergi kemana kan?,” tanya Alima.

“Semenjak pertanyaan ibu yang hampir sebulan berturut-turut dan hanya dijawab dengan jawaban yang sama, sejak itupun ibu tak pernah lagi bertanya. Hanya menyiapkan semua kebutuhannya”.

Sejam kembali berlalu dan yang mereka tunggu pun datang. Ayahnya pergi dengan mobil sedan berwarna hitam dan pulang dengan becak yang di mana ia terlihat sedang bersandar di dada anak remaja dan tak sadarkan diri. Alima dan ibunya kaget. Mereka segera mendekat dan membantu tukang becak dan remaja itu untuk mengangakat ayahnya ke dalam rumah. Namun ibunya hanya mampu mengangkat hingga langkah ketiga. Setelahnya, ibu hanya mampu berdiri di samping Alima dan bergelimang air mata.

“Apa yang terjadi?,” tanya ibu dengan suara isak tangis yang membuat suaranya tidak begitu jelas.

“Pak Satir saya temukan di atas becak saya,” Kata si tukang becak. “Saat itu saya sedang berada di rumah dengan anak saya dan pada saat kembali ke becak pada pukul 10, pak Satir sudah ada di becak”.

“Apakah ayahku masih hidup?,” tanya Alima yang perlahan menampakkan mata yang berkaca-kaca setelah melihat ayahnya tak menampakkan pergerakan nafas sedikitpun.

“Saya kemudian pulang ke rumah saya dan memanggil anak saya untuk memegang Pak satir”.

Setelah ayah Alima sudah berada di atas tempat tidur Alima segera pergi memanggil pak Sudin, tukang urut ayah Alima untuk memastikan ayahnya masih hidup atau tidak. Informasi dengan cepat sampai ke telingah para warga dan pekerja tailor. Hampir semua warga yang datang menampakkan wajah yang terpaksa terbangun.

“Sepertinya pak Satir sudah tidak bernyawa sedari tadi,” kata pak Sudin dan suasana kelurahan menjadi berisik kerena suara tangis yang bergema pada pukul 12 malam.

Dua bulan setelah kematian ayah Alima, ibunya pun menyusul karena terpeleset di kamar mandi dan ditemukan setelah satu jam Alima menunggu ibunya yang tak kunjung keluar dan Alima kembali memanggil pak Sudin untuk membuka pintu dengan sekali tendang, dan tentu bukan pak Sudin yang menendangnya melainkan anaknya yang juga ikut dan masih remaja. Ibu Lila wafat pada umur 79 yang lebih muda 3 tahun dari suaminya — ayah Alima.

Di umur Alima yang sebentar lagi memasuki kepala 6 dan belum juga berkeluarga. Ada penyesalan pada diri Alima kerena telah menolak 5 pelamar yang datang. Dan hingga umurnya yang sebentar lagi 60 tahun tak pernah lagi ada yang datang meminang setelah penolakan pada tetangganya sendiri di umur 37 tahun. Pun kembali dengan alasan sederhana, wajahnya terlalu sering Alima lihat. Rasa penyelesalan Alima cukup condong pada guru SD yang datang melamar. Namun semua hanya mampu Alima terima dengan senang hati dan menutupnya dengan pekerjaan menyenangkan yang ia lakukan. Menjahit dan menjahit. Jahitan terakhir yang ia kerjakan saat ini adalah sebuh gaun pengantin serba putih, menggunakan kain yang cukup banyak karena Alima senang dengan pakaian yang menutup seluruhnya.

“Meski tak pasti akan ada yang datang meminang, aku ingin menggunakan gaun ini jika nanti ada yang datang,” hasil jahitan terakhir Alima setelah kurang lebih 50 tahun bercinta dengan seluruh mesin jahit.

Alima telah bulat memutuskan berhenti menjahit, meski telah berkata akan berhenti setelah ada yang meminang. Alima menyimpan gaun pengantin jahitan terakhirnya di lemari ibunya, bersampingan dengan kain putih tanpa jahitan yang akan ia gunakan setelah panggilan pencipta lebih dulu datang, karena hal itulah yang lebih pasti dari pada peminang yang tak kunjung datang.

Penulis: Zulkarnain S

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here