Cerpen: Kalau Besar Nanti Aku Mau Menikah Saja

0
407
Ilustrasi
Ilustrasi
Ilustrasi

Pendidikan.

Pen… Pen… Pen…

Didik… Didik… Didik…

An… An… An…

Ah sudahlah….

Kopi. Jikapun kamu mendengar, aku harap kamu diam saja. Jikapun kamu lebih pekat, aku harap kamu tak perlu sombong. Aku sedang ingin mengeluh saja. Kamu tak ku seduh dulu.

(sedang berlangsung di beranda rumah, berhadapan pohon dan beratapkan awan).

-o-

Aku lihat adik-adikku lagi sibuk dengan skiripsi, mereka tak tau lagi berorganisasi. Sudah lama aku melihat kekosongan pada transisi. Mereka berhasil menyibukkan diri. Skripsi menjadikannya mereka skeptic. Kalau begini, aku juga perlu sedikit beraksi. Tapi tunggu dulu, tanganku ini terlalu sering berorasi, jangan-jangan aku hanya mampu beronani, sedikitpun tak beranjak dari dunia ini, mahasiswa…mahasiswa.. keras betul ambisimu.

-o-

Tidak ada yang lebih menyenangkan baginya, selain kedatangan Ibrahimovic ke Manchester. Aksan adalah seorang lulusan salah satu universitas di kota ini. Sudah beberapa tahun ia bekerja untuk diri, mimpi dan harapnya. Hampir lama ia bersembunyi pada cita-citanya. Sudut pandangnya terhadap sesuatu cukup bagus, kecuali soal Move On. Dia pemikir yang doyan berandai, bermain malas pada santai. Baginya pendidikan itu penting, sepenting kepanikanmu saat ditanyai oleh om dan tante kapan nikah?.

Di beranda rumah, di hadapan kopi, televisi sedang memamerkan foto bapak Jokowi. Aku lupa, saat itu dia jadi Walikota atau Presiden, bagiku dialah yang menaikkan harga rokok hingga 50 ribu.

Media bergantian membombardir masyarakat dengan sajian. Aku juga bingung dengan media, tak bosan apa ia berkicau, jangan-jangan mereka sudah lupa siapa ketua RT di lingkungan mereka.

-o-

Di negara ini pendidikan selalu mencuri perhatian. Salah satu stasiun televisi yang nge-trend dengan tampil bedanya mengabarkan berita tentang prestasi beberapa anak Indonesia di kanca olimpiade sains. Mereka menemukan inilah, itulah, kecuali pelaku pembunuhan Munir.

Negara ini banyak lupanya. Itu seingatku. Warga negaranya misalnya. Lumpur lapindo juga. Kalau dipikir-pikir, ah sudahlah..(sambil menyeduh kopi).

Aku ingat satu puisi milik seorang kawanku, entah kini di mana, ia sibuk dengan kebodohannya.

            Pendidikan itu bekal

            Bukan modal alat kekayaan yang kekal

Pendidikan itu mental

Bukan sandal yang hanya sekedar

            Jika itu hak. Tolong jangan disekat.

            Jika itu wajib. Tolong jangan dahulukan duit.

Pendidikan itu membebaskan

Bukan merampas.

Pendidikan itu kunci

Bukan mengucilkan.

            Jaga jarak dengan bisnis.

            Sebab tidak untuk dikomersilkan.

            Jaga jarak dengan nafsu.

            Sebab tidak untuk dibejatkan.

Aku selalu geleng-geleng kepala jika membaca puisi itu. Demikian adanya. Bangsa ini merawat mafia-mafia yang ramah. Kemana-mana mengumbar senyuman. Malah jika waktunya, mereka tak segan berkunjung ke rumah membagikan uang 100an nya demi mendapat suara. Mudahnya berbagi di bangsaku ini.

(keluarlah nugraha dari kamar)

Pagi-pagi kamu sudah ceramah di hadapan kopi wahai kawanku. Suaramu terdengar hingga ke dalam kamar. Aku keburu memakai celana, hingga lupa mengenakan dalaman. Aku pikir pidato 17an presiden berlangsung di depan kamar. Aku ingin sekali mengucap terimakasih pada jokowi mu, rokok nantinya 50 ribu, ini artinya ganja sebentar lagi punya saingan. Hahaha…

(nugraha adalah sahabat dekat aksan, mereka berbeda dalam sudut pandang kecuali mengenai merek sabun kesukaan mereka)

-o-

“Kemari ngopi kawan (ajak Aksan kepada nugraha)

            Apa yang membuatmu ceramah pagi-pagi saudaraku?

            Bukannya ini masih selasa, jum’at 3 hari lagi.

“Entahlah. Semalam saya bermimpi, Gita Gutawa sudah menyandang gelar magister. Hebat kali anak itu.”

            Si Gita, anak Erwin itu? Yang dulunya masih SMA?

            Sudah hebat rupanya.

“Bukan Cuma itu. Cinta Laura ternyata Cumlaude juga.”

Itu kamu lihat di mimpi juga? Wah enak benar mimpimu. Si gita lah, si cinta lah, kamu macam bapak kost saja menampung mereka di mimpi.

“Itu dia kawan.. Aku bingung, di mimpiku mereka pada sukses. Jangan-jangan saya tidak kebagian oleh mimpiku sendiri. “

Kenapa mesti takut, kamu tak perlu risau wahai kawan. Negara kita sudah mewajibkan pendidikan 9 tahun. Bukannya itu baik?

“Baik? Aku tidak paham. Pendidikan bangsa ini wajib hanya 9 tahun, bukannya minimal 12 tahun? Mau diapakan masyarakat yang hanya mendapat pendidikan 9 tahun? Artinya mereka hanya sampai tingkat SMP?”

            Ahahah… iya emang seperti itu.

Eh bung. Bangsa ini kaya, kalau semua masyarakatnya wajib 12 tahun, maka mereka akan memeiliki modal pengetahuan yang lebih. Lalu siapa dong yang akan dibodohi?

Siapa yang akan diiming-imingi gratis?

Mikir bungg..

(aksan lalu memotong perkataan nugraha)

Siapa pula yang akan dijadikan buruh?

Siapa pula yang akan mengambil beras raskin itu?

Wah..wah..wah.. selain demokrasi, bangsa kita dermawan yahh..

Aksan lalu menyambung perbincangan dan bertanya.

“Nugraha, kamu ingat si Dian? Yang dulunya berkuliah di kampus negeri itu.”

Iya aku ingat, si Dian yang matanya sipit, senyumnya manis, dan keringatnya beraroma parfume itu. Sempat aku kagum padanya.

“Untung saja Dian bukan merek sabun, kalo iya itu artinya saya sama selera denganmu. Hahha”

“Kabarnya saat ini dia telah lulus beasiswa. Mengambil studinya di daerah jawa sana.”

Beasiswa? Wah. Aku tak habis pikir dengan program itu. Aku bingung dengan beasiswa di negara ini, sudah terlalu banyak syarat dan wajib dan memiliki toefl.

“Toefl? Bukannya lotion anti nyamuk itu? Itu sih gampang, 500 rupiah juga dapat.”

Persis seperti itu… butuh 500 score dalam berbahasa inggris lalu boleh ikut serta. Hahhaa. Bangsa ini kaya dan besar tapi terlihat tak mandiri.

“Tak mandiri? Apa maksudmu?”

Kamu pikir saja kawanku. Bangsa ini merdeka berkat para pemuda yang gigih dan visioner, mereka bersumpah menjungjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Lalu mafia-mafia pendidikan itu dengan gambling berkata, sejauh mana bahasa Inggrismu?

Aksan menyeduh kopi, perlahan diam. Lalu termenung. Pikirannya jauh menuju istana presiden melihat kabar Gloria dan berputar ke gedung DPR RI hingga kembali ke beranda.

“Hemm, iya yah… wajib 9 tahun. Pas selesai harus lanjut lewat tes dulu. Sudah itu sekolahnya pakai kategori unggulan, biasa, swasta dan terbuka. Gurunya di pukuli lagi.”

Itulah mengapa aku lebih memilih sampai pada Diploma saja, tidak seperti dirimu yang sarjana, atau kawan kamu yang lanjut hingga ke magister itu. Lihat badanmu, terlihat lebih kurus dari badanku. Dompet juga, isinya sama saja. Buktinya sabun kegeramaranmu adalah kegemaranku juga.

Sudahlah kawan, negara kita ini sudah ada yang mengatur. Kamu terus sajalah dengan kesenanganmu. Aku lihat di telivisi, Ibrahimovic cetak dua gol bersama setan merah.

Bukannya itu yang membuat mu bisa bahagia?

Menanggapi itu, Aksan hanya tersenyum sambil berkata

“Aku pikir, Jokowi itu bukan seorang fans united. Kalau saja iya, pasti Menpora ikut tergeser jabatannya. Hahha “

-o-

Obrolan itu berlangsung begitu lama… mereka berdua adalah hasil jebakan pendidikan bangsa ini. Katanya, jika engkau mampu, kejarlah ilmu hingga ke negeri Cina, nyatanya, mengurus passport saja di negara ini diselundupi calo.

Kamu boleh berbangga dengan hartamu, nyatanya pajak para konglomerat malah mendapat amnesti. Coba saja kamu, telat bayar pajak, atau sembunyikan kekayaanmu dari pemerintah. Tunggu beberapa saat, listrikmu padam, PDAM pun memusihimu.

Dan yang pasti, kamu mencari maksud dari judul cerita ini. Jujur, sama sekali tak ada maksud yang terkait. Ini cuman brand. Pencitraan yang sedang saya lakukan. Mencoba menirukan kemampuan para elite dewan yang terhormat dan gemar pencitraan.

Cerita ini hanya berisikan perbincangan jenuh dan keluh para regenerasi.

Kamu tau, ada dua hal yang aku takut bertemu dengan generasi. Pertama adalah mereka bertanya soal kesalahan yang terdahulu, dan kedua adalah saya takut  mereka hanya sekedar bertanya, tanpa ada tindakan dan peran.

Penulis: Ilham Safar
Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here