UKM Pers, Kampungan!

0
687
Ilustrasi. (Sumber Foto : google.com)

Sebuah lakon menggelikan, kembali ditunjukkan oleh situs website kertasonline.com. Media daring milik UKM Pers Unifa ini, memperlihatkan bahwa mereka adalah media kampungan. Tidak modern. Bagaimana tidak, lembaga pers kampus yang mendewakan ideologi perlawanan ini, memuat berita tentang “hilangnya” perpustakaan kampus pasca relokasi.

Oh, iya. Khusus perpustakaan, tidak masuk dalam kategori relokasi, karena secara arti: relokasi adalah pemindahan tempat. Sementara perpustakaan kampus tidak dipindahkan tapi “dihilangkan”.

Kembali ke kertasonline.com. Berita tentang perpustakaan yang mereka muat, benar-benar menjadi sebuah ejawantah dari kata:katrok. Saat kampus tempat mereka bernaung mendengungkan jargon Kampus Entrepreneur, mereka malah semakin puritan. Atau mungkin para anggota dari UKM Pers ini tidak sadar kalau mereka berada di lingkungan kampus selebriti? Kampus kita ini adalah kampus modern.

Maka dari itu, perpustakaan itu tidak penting. Bukannya sekarang sudah era digital? Jadi untuk mencari data maupun tugas, tinggal buka google dan copas. Praktis, bukan?

Lalu, kalau kita sudah berada di zaman serba praktis, kenapa UKM Pers ini malah sibuk mencari perpustakaan? Ah, dasar UKM ketinggalan zaman.

Woi, UKM Pers! Apa kalian tidak mendengar penjelasan pihak birokrasi kampus yang menyarankan untuk buka-buka google saja? Bahkan lebih jelasnya lagi, kalau mau membaca atau mencari referensi, sebaiknya ke perpustakaan lain di luar kampus.

Tentu saja ini adalah sebuah argumen yang menandakan bahwa kalian berada di kampus yang modern. Yaa… Tuhan, betapa beruntungnya saya bisa berkuliah di tempat ini.

Saya juga terkadang heran pada anak-anak UKM Pers yang sangat teguh memegang idealismenya. Apakah mereka tidak pernah bersyukur bisa dibesarkan di lingkungan kampus yang serba hedon ini? Bukankah lebih nyaman berada di kampus yang lebih sering mengundang artis ternama daripada pemateri seminar kenamaan? Sudah untung diberikan hiburan konser musik yang nyaris ada setiap bulan, tinmbang kampus lain yang bisanya cuma mengadakan seminar kebangsaan dan memikirkan solusi untuk perkembangan negara. Huh, dasar UKM tidak tahu diuntung.

Hal yang lebih lucu lagi saat UKM Pers sibuk sendiri mencari perpustakaan, di mana mahasiswa lainnya sedang berjuang menuntut tentang relokasi sekretariat. Mungkin anak-anak UKM Pers ini tak tahu kalau sekretariat untuk lembaga-lembaga kemahasiswaan itu jauh lebih penting tinimbang perpustakaan.

Lalu, untuk apa mereka berisik saat mahasiswa lain juga diam-diam saja melihat perpustakaan kampus yang “raib” itu? Sudah ada google, woi. Dasar UKM lawak.

Melihat hal ini, saya jadi semakin yakin jika mahasiswa yang ada di balik redaksi UKM Pers ini merupakan mahasiswa cupu. Ketika pihak kampus lebih mendahulukan minimarket kampus perihal relokasi, mereka justru membodohi diri dengan meperjuangkan budaya literasi.

Bukankah secara materi, minimarket lebih menguntungkan daripada perpustakaan? Ingat, kita ini berada di kampus entrepreneur. Literasi bukan hal yang penting, sebab dalam dunia entrepreneur itu, modal dan pekerjaan adalah kunci. Kita tak butuh ilmu. Kita hanya butuh ijazah dan pekerjaan.

Semoga setelah membaca tulisan singkat ini, para anggota UKM Pers ini bisa segera sadar jika mereka hidup di lingkungan yang modern. Lihatlah kampus lain yang sibuk memperbesar dan menambah koleksi buku-buku perpustakaannya. Itu adalah contoh kampus yang tidak kekinian.

Mengapa mesti sibuk-sibuk membuka buku, padahal menurut pihak birokrasi kampus kita ini, untuk cari referensi mending buka google saja. Maka dari itu, mari kita sama-sama berbangga karena terdidik di kampus yang tidak mendukung budaya literasi. Ayo ke Unifa.

Penulis : Adnan Ilham

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here