Sisi Kelam Penggalangan Dana

0
525
Ilustrasi. (Sumber Foto : http://3.bp.blogspot.com/)

“Ketika daya pikir menjadi lemah, katakata akan menjadi tanpa makna: sekelompok masyarakat akan buta dan tuli saja terhadap nasib seorang manusia.”Albert Camus; Krisis Kebebasan.

Awal dari sebuah ke-Ada-an, ialah ketiadaan. Semuanya berangsur dan bergerak dengan sebab-akibat. Kita resah dengan keadaan di kampus ini, sebab kita hanya diam dan memilih menyelungsep jauh dikesibukan lembaga kita masing-masing. Semuanya memang bergerak maju, waktu lah yang membawa kita maju. Namun, apakah ini terikat oleh waktu?

Di bulan puasa ini, membuat jam tidur saya menjadi tidak teratur, tidur pagi lalu bangun sejam sebelum berbuka puasa membuat hari-hari ku menjadi kurang bermakna dibulan puasa. Di sore hari, setelah saya bangun tentunya, sebagian mahasiswa unifa memanfaatkan waktu ini sebagai ladang pencarian dana untuk keperluan dana kegiatan mereka. Banyak stand atau mahasiswa yang menjajahkan jeripayah mereka dalam bentuk hidangan berbuka puasa, dengan harga yang cukup murah, mereka menawarkan kepada mahasiswa juga masyarakat umum yang melintasi Jalan Prof. Abdurrahman Basalamah, yang melintang lurus di depan kampus Universitas Fajar.

Dari apa yang mereka lakukan, saya mulai bertanya-tanya entah kepada siapa. Yang pasti, jawaban itu saya peroleh dari spekulasi yang tersedia di benak pikiran saya.

“Mengapa mereka dengan ikhlasnya ingin berbuat sedemikian halnya?”, “Mengapa mereka mencari uang?”, “Apa yang membuat mereka seperti ini?”, “Andai saja, wadah diskusi dipenuhi oleh mereka ini, tapi justru sebaliknya. Mengapa?”

Pertanyaan ini, datang silih berganti. Lalu seketika berhenti ketika salah satu mahasiswa mendatangi diriku dengan menawarkan segelas es teh yang berharga Rp. 5000, dengan senyumnya saya berhasil dirayu, sembari memilah uang yang berada dalam saku celana. Kulontarkan sebilah pedang pertanyaan “Penggalangan dananya siapa ini?”, ia menjawab “Fr**m* kak”, “Ow”. Kemudian, saya membayarnya dan tak lupa memberikan senyuman yang manis.

Melihat kegiatan mereka ini, Hubungan sosial dalam bentuk pasar tercipta dengan sendirinya. Anggaran kemahasiswaan yang minim, akhirnya memaksa para penggiat lembaga memeras kepalanya untuk bagaimana keperluan dana mereka tercukupi. Alhasil, pasar ini pun tercipta. Yang menjadi komoditi pun, bukan hanya barang jajahannya, pun mahasiswa menjadi komoditas dalam interaksi sosial(pasar) ini. Sudah barang pasti, yang menjadi komoditas, adalah es teh tadi, tapi siapa sangka mahasiswa yang menjawab pertanyaan saya tadi juga ternyata, adalah komoditas yang menawarkan komoditas lainnya. Mahasiswa tadi secara tidak langsung, mengakomodasi dirinya sebagai produk dari lembaganya. Kemudian, produk dari lembaganya adalah es teh. Dan pasarnya adalah “penggalangan dana”. Sebab, mereka menjajahkan bukan hanya segelas es teh. Melainkan juga kegiatan mereka yang memerlukan dana tesebut. Dan lebih parahnya, lembaga kemahasiswaan juga ikut dijadikan sebuah komoditi bagi para birokrat kampus. Pun Teknokrat dalam tiap lembaga juga mengamini hal demikian, demi meraup simpatisan dan galangan suporter apresiator, akhirnya mereka mengiayakan pengakomodasian ini. Dan seiring waktu berlalu lalang tiada henti, hal substansial sebagai mahasiswa akhinya tersingkir dengan sendirinya.

Ini hanya baru satu contoh praktek, belum lagi yang lainnya. Namun, saya mencontohkan satu praktek(penggalangan dana) yang sangat banyak merebut waktu bagi para mahasiswa untuk mengeksplorasi dirinya agar lebih berbekal dari segi pengetahuan hingga wawasan.

Bayangkan saja, targetan birokrat kampus hanya untuk menggalang alumni SMA untuk datang berbondong-bondong dan mendaftarkan dirinya sebagai mahasiswa Unifa. Dan itu tidak akan terjadi, jika mahasiswa unifa sendiri, tidak melakukan kegiatan yang secara tidak sadar menguntungkan pihak kampus dalam hal promosinya. Justru di sinilah salahnya. Mahasiswa telah sadar dan menjadikan birokrat sebagai rivalnya. Namun, di sisi lainnya mereka justru membantu rivalnya. Sangat lucu!

Membedah fenomena mahasiswa Unifa sungguh sangat-sangat memerlukan pemikiran yang lainnya. Saya hanya satu dari banyaknya mahasiswa di kampus ini. Menulis, yang bagi sebagian mahasiswa, adalah barang sensitif membuat saya membatasi diri dalam penggunaan kata dan mengeluarkan gagasan ide. Namun, terlepas dari ini semua, saya mengutip dari buku favorit saya yang berjudul “Binatangisme” karya penulis satire; George Orwell. Yang mengatakan “Karena, sahabat-sahabat! hampir seluruh hasil kerja keras kita, hasil perasan keringat kita, bersimbah peluh yang kita alami, punggung kita yang rasanya mau remuk dan dengkul mau copot karena karya kita dari dini hari hingga nyaris jauh malam, kesemua hasil itu habis dicuri dan dilalap oleh bangsa manusia! Mereka pencuri bangsat dari semua yang kita kerjakan!”. Begitulah kata George Orwell melalui babi Major.

Saya sangat suka buku tersebut. Sebab ceritanya sangat relevan dengan kondisi kita hari ini, di dunia ini, dan tentu di kampus ini. Bahkan menjadi reaksioner pun kita harus lebih pandai. Jangan kelewat diam. Itu kunci untuk kalian!. Ini hanya sekedar opini.

Salam//

Penulis : Manda’AM

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here