Percayalah, Toraja dan Jepang Masih Satu Rumpun

0
437
(Sumber Foto : google.com)

MAKASSAR, KERTASONLINE.COM – Setelah sekian lama hanya dianggap sebuah lelucon (terkhusus kawan-kawan bangsat saya), kini saya dengan mantap menuliskan argumen saya yang brilian (somplak) ini dalam bentuk esai. Tentu saja dengan bukti-bukti yang sangat relevan nan elegan.

“Untu’ iko nasang, angganna sangmane, sangbeine, sola tomatua jong mai Toraya, this is for you beibeh.” (terjemahan : untuk kalian semua, segenap bro-bro, sistah-sistah, dan orangtua dari Toraja, ini untuk kalian beibeh). Hha wtf.

Nah jamaah sekalian, saya membagi gagasan saya sesuai dengan pendekatannya dalam 3 bagian. Yaitu; ekonomi, politik (shit), dan sosial-budaya (biar kelihatan kayak akademisi).

Sebelum lanjut, saya sarankan untuk menyingkirkan benda-benda tajam disekitar anda. Jika punya penyakit kronis segeralah tutup tulisan ini. Dan yang hidupnya terlalu kaku kayak ikan bolu (bandeng) habis keluar dari freezer, enyahlah dari planet Bumi!

Bakul Tua di Emperan Pasar Bolu

Jika saat sekarang ini Jepang menginvasi hampir seluruh dunia dengan kecanggihan produk teknologinya, Toraja juga merambah dunia internasional dengan pesona pariwisatanya. Lalu, Jepang punya Mitsubishi Pajero yang besar, kuat, dan bertenaga seharga 400-500 jutaan? Jagan salah. Tedong bonga (kerbau belang) di Toraja, setidaknya butuh satu unit pajero untuk satu ekor hewan itu.

Persamaan keduanya terlihat jelas dimasyarakatnya sebagai subjek perekonomian. Masyarakat Jepang terkenal sebagai pekerja keras, rajin, dan tepat waktu. Orang Toraja pun demikian (kecuali tepat waktu, saya masih ragu). Tak peduli berapapun usianya mainset orang Toraja telah terbentuk untuk jadi perantau yang pantang pulang sebelum kaya.

Hm, sepertinya semua orang saat ini hanya ingin kaya raya.

Jepang, selain teknologi, juga menawarkan banyak produk kreatif yang menyumbang peran dalam meningkatkan perekonomiannya. Jajanan pasar yang khas, gaun kimono ala geisha, pariwisata, industri manga (komik) dan anime, hingga industri film esek-esek (ikeh-ikeh kimochi).

Jauh sebelum pemerintah mencanangkan konsep ekonomi kreatif yang lebih menekankan pada SDM yang kaya akan ide, untuk  kemudian menghasilkan produk, ide-ide gila orang Toraja untuk mendapatkan uang sudah terpatri sejak dahululu kala.

Jangankan produk-produk kreatif (hand made), Karena sudah tak diragukan lagi sebuah daerah destinasi wisata pasti punya produk seperti kain tenun, aksesoris khas, pahatan, tai tedong, (sanlaik, pepsoden, kunci inggris) dll. Bahkan, rumput dan daun umbi-umbian juga dijual disana.

 

Saya punya sedikit kisah menarik dari seorang teman dimasa lalu. Dia juga bajingan, dan semua yang berteman dengan saya, saya anggap bajingan (biasanya orang baik-baik akan langsung hindari saya).

Suatu pagi di pasar bolu Rantepao..

Seperti biasanya aktivitas pasar sudah mulai sejak pukul 6 pagi. Seorang ibu paruh baya, sebut saja indo’ (nek) Rante telah siap menanti pelanggan setianya. Indo’ Rante menjajahkan rumput gajah untuk pakan tedong. Dan daun kandora’ (ubi jalar), daun keladi, dan tambahan dedak (pakan bebek) lalu di racik dengan sempurna untuk jadi pakan babi.

Indo Rante mencintai pekerjaannya ini, dia telah menggelutinya dengan tekun lebih dari 15 tahun. Penghasilannya untuk membantu suami nya menghidupi keluarga dan menyekolahkan anak-anaknya. Bakul-bakul tua itu masih penuh hingga jam 9 pagi. Sampai tak disangka-sangka mimpi buruk itu tiba.

Gerombolan satpol-veve datang kearah indo’ Rante dan kawan-kawannya yang memang berjualan di trotoar jalan. Dengan wajah sangar berminyak, rahang kotak, dan perut agak buncit (karena keseringan minum ballo’), mereka tiba secepat kilat sebelum indo’ rante mengemasi jualannya. Kawannya yang lain yang tak mau kalah cepat sudah kocar-kacir dari tadi.

Begitu beringasnya mereka mengacak-acak tempat itu.

“Indek te, tangngia angnginan makbaluk! (ini bukan tempat menjual!)” bentak seorang petugas. Indo’ Rante hanya terdiam ketakutan.

“pepayu te, taek issan aturan! (sialan ini, tidak tau aturan!)” polisi jeruk nipis itu menendang bakul indo’ sampai isinya terhambur berantakan.

Dengan refleks si indo’ memungut  kembali bakulnya sambil menangis dan berkata penuh marah dan kecewa “dou pasusi bakak ku’ dikka’ na. Mu tandai ri ka dakdua mo te sarjana tassu’ illan mai baka’-baka’ ku baga! (jangan perlakukan seperti itu bakulku, kasihan. Asal kau tahu saja sudah dua sarjana yang keluar dari dalam bakulku ini begok!). Bangsat! taik! bangke! (upss sory itu saya).

Corak feodalistik

Jangan telalu berharap banyak. Saya yang masih jijik dengan politik (terutama di Indonesia), tidak akan bicara banyak seperti yang diatas.

Kalian pasti tahu kabar yang sempat viral dimedia sosial, berita tentang putri Mako. Cucu kaisar Jepang yang rela melepaskan gelar kebangsawanannya demi menikahi seorang lelaki rakyat jelata. Seakan menumbuktikan bahwa kisah serupa yang sering di tanyangkan FTV benar-benar bisa terjadi di dunia nyata. “Damn yeah! Gua bilang juga apa!” Ungkap seorang jomblo.

Tidak-tidak kita tak mau bahas jomblo. Saya alergi sama jomblo, makanya saya ingin memberantas kejombloan (khusus cewe) dengan menjadikan diri saya sebagai obatnya. Jadi, ada yang mau di entaskan (#korbanmarsperindo) kejombloannya?

Back to topic, jadi dengan melihat viralnya berita putri mako tadi, saya tersadar bahwa Toraja dan Jepang juga punya kesamaan corak politik. Ya, feodalistik. Jepang, sudah sangat jelas ya?! Dengan kepala pemerintahan seorang kaisar dan keturunannya yang harus tetap berdarah biru, kurrrang feodal apa coba!?

Nah di Toraja sendiri, meskipun kepala pemerintahan dipilih langsung oleh rakyat, namun indikasi politik dinasti selalu ada, dan pasti ada. Di birokrasi manapun di Indonesia. Apalagi di Toraja, yang masyarakatnya masih mengakui adanya keturunan bangsawan. Mereka adalah orang kaya raya dan haus kekuasaan. Haus belaian, haus dallekang, kadokang, nganreang, erok nganre tena kakdokang. (apa sih).

Ya sudah lah ya, saya terlalu males ngomong politik panjang lebar. “Yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan.” Kata kakek GusDur.

Ballo’, Sake, sampai Crows Zero

Diwilayah dan dibelahan manapun dibumi ini (bahkan di planet Asgard), dimana ada komunitas masyarakat pasti ada yang namanya tradisi.

Dari sekian banyak budaya yang mentradisi di Toraja, ada tradisi yang paling digemari kaum adam (juga kaum hawa) dari yang usia balita sampai yang bau tanah, Minum ballo’. Karena ini sudah turun temurun, maka jangan heran ketika melihat anak di balita sudah nenteng gelas berisi ballo’. Inilah pula hal yang paling saya nantikan saat pulang kampung.

Minum ballo (tuak/sagero) atau minuman tradsional lainnya juga dilakukan oleh kaum pria Jepang. Minuman yang paling terkenal dari Jepang adalah sake. Sake adalah fermentasi dari beras Jepang dan Ballo secara teknis adalah getah pohon induk yang ditampung dijerigen dan dihidangkan selagi hangat. Keduanya sama. Sama-sama bikin mabuk.

Pengamatan saya, tradisi kumpul dan minum minuman tradisional ini, berguna untuk menjaga persudaraan komunitas masyarakat tersebut. Candaan yang agak sarkas, kromunikasi politik, dan tak jarang ide-ide cemerlang tertuang saat melingkari jerigen ballo’.

Tapi, kadang pula terjadi chaos karena ada-ada saja seseorang yang merasa dirinya ‘drunken master’  ala Jackie Chan saat sudah oleng.

Last but not least, kemiripan antara Toraja dan Jepang terdapat di bahasanya. Ya bahasanya.

Inilah alasan terkuat saya tapi selalu saja ditertawakan dan dihujat olewh kawan-kawan bangsat saya. Mereka itu memang biadab tidak mau mengakui  penemuanku yang hebat bin revolusioner ini.

Setelah meneliti selama hampir satu tahun (cahaya), saya menyimpulkan bahwa huruf akhir kedua bahasa ini dominan huruf vocal dan sangat mirip jika hanya menggunakan salah satu aksen saja.

Coba bandingkan sendiri; Toraja, “lo ko kumandeasu! (sana pergi makan anjing)” Jepang, “arigatougozaimasu (terimakasih banyak jing)”  tuh kan!!

Jika ingin membuktikannya lebih jauh, maka cobalah ucapkan bahasa Toraja yang kamu tahu menggunakan aksen ala crows zero. Yang terbaik adalah saat Genji dan Zerizawa saling meneriaki dari jauh.

Kalau tidak tahu bahasa Toraja sama sekali, ucapkan kalimat dibawah ini seolah kamu sedang ingin bertarung dengan semangat berapi-api ala Genji. Tentu saja dengan aksen Jepang yang sangar dan serak-serak ngeden.

“ssszzaannggmanneeeee!”

“maatumbarrrraaaaa!”

“taee raaa, baaaggaaa kooo!”

“Ooee, buuutooomueee!”

Gimana sudah percayakan? Kalau Toraja masih satu rumpun dengan Jepang?! Harus lah! Jangan jadi tidak tahu terimakasih ya. Saya susah payah tulis ini untuk memperkaya hasanah beripikirmu yang ketutup isu-isu SARA itu!

Tp kalo ngotot tak mau percaya sama saya demi apapun ya apa boleh buat. Yang penting kalian masih percaya Indonesia bukan untuk satu golongan saja. Aseek sekalehh!

Jadi intinya jangan makan di tengah jalan kalau bulan puasa. Banyak mobil, nanti ketabrak ko bangke! Tolo!

Catatan Manis

Untuk Toraja, Pariwisata merupakan nyawa sekaligus malaikat pencabutnya. Jika kehilangan daya tarik pariwisata, daerah bisa lumpuh (total). Namun, jika pariwisata disuatu daerah tidak terkontrol oleh masyarakat, maka pariwisata dapat mengoyak sendi-sendi kebudayaan daerah tersebut.

Coba bayangkan jika para investor serakah dibiarkan masuk semaunya dan memprivatisasi semua potensi-potensi strategis juga semau-maunya? Anak cucu kita akan jadi turis di tanah sendiri!

“kurrrreeee suumaangaaak (terimakasih banyak)”. Salam, Genji.

Makassar, minggu pertama ramadhan 2017

Axl Niel

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here