Unifa Masih Membiru Belum Menghijau

0
467
Tampak. Gedung Universitas Fajar ( Unifa) dari samping.

“Taman-taman kampus juga akan ditata sedemikian rupa. Kita mau green university. Nanti kita lihat di mana tempat dan lokasinya,”[1] ujar pemilik PT.Fajar Group yang kerap disapa dengan nama Bpk. Alwi (28/2/2017).

Sepuluh bulan berlalu, Gedung Baru Universitas Fajar telah berdiri tegap. Hingga hari ini pembangunan masih tetap berjalan, dimulai dari pemugaran area parkir hingga interior bangunan.

Selama dimasa pembangunannya, terdapat banyak implikasi yang berujung pada permasalahan baru sebagai dampak dari pembangunan yang sedang berjalan di kampus Universitas Fajar. Relokasi Sekretariat, lahan parkir yang over-kapasitas, ruang kelas yang minim, dan ketersediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH).

Dampak yang terakhir tadi, adalah permasalahan yang sangat krusial. Di mana RTH dalam aturan yang telah dibuat oleh Pemerintah, sebagaimana dalam Penjelasan UU No. 26 Tahun 2007 ayat 4, bahwa “undang-undang ini secara khusus mengamanatkan perlunya penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau”.

Dalam perundang-undangan tersebut, RTH terbagi menjadi dua berdasarkan kepemilikannya, yakni RTH Publik dan Privat. Yang termasuk RTH publik, antara lain, adalah taman kota, sungai dan sebagainya. Sedangkan yang termasuk dalam RTH Privat, adalah gedung milik masyarakat atau swasta.

Sementara dalam peraturan lanjutnya, Penataan Ruang Terbuka Hijau diatur lebih-dalam di Perda RTRW Kota. Di Makassar, Perda yang mengatur RTH adalah, Perda No. 4 Tahun 2015 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Makassar 2015-2034.

Dalam Perda tersebut, RTH Privat dibahas pada pasal 55 butir 9, yang berbunyi, bahwa Rencana pemenuhan RTH privat dilaksanakan melalui pemanfaatan halaman pada kawasan pemukiman, kawasan pariwisita, dan kawasan pendidikan, sebagai ruang terbuka hijau.

Di Universitas Fajar sendiri, RTH yang tersedia tidaklah cukup, apabila hal ini juga ditambah dengan penggunaan material Kaca yang banyak pada bagian eksterior gedung baru, maka tentu saja,ini akan berdampak bagi lingkungan sekitar.

Gedung yang dibungkus kaca sudah tentu memantulkan cahaya matahari tropis, yang berarti radiasi dari pantulan cahaya tersebut akan mempengaruhi iklim mikro dan membuat daerah sekitar menjadi lebih panas.

RTH sebagaimana intrinsiknya, dapat berfungsi sebagai bagian dari sistem sirkulasi udara; pengatur iklim mikro agar sistem sirkulasi udara dapat berlangsung lancar; sebagai peneduh; dan produsen oksigen.

Kondisi dari minimnya ketersediaan Ruang Terbuka Hijau di kampus, pun akhirnya menyulut beberapa komentar Mahasiswa beserta dosen.

Yuli (21), seorang mahasiswi FEIS, termasuk yang mengeluhkan permasalahan ini dari sejak awal masuknya di Universitas Fajar ditahun 2015.

“beberapa yang dtebang itu pohon besar, setelah tidak adami itu pohon saya rasa sangat gersangmi itu Unifa” lanjutnya ia menambahkan “sangat kurangmi tempat diskusinya mahasiswa, sedangkan itu bisa dimanfaatkan, untuk kumpul-kumpul bareng(berdiskusi)tapi semenjak tidak adanya itu pohon, beberapa titikji yang bisa dijadikan untuk itu”

Apa yang dikeluhkan oleh Yuli memang benar adanya, luas taman di depan Rektorat Unifa kurang lebih hanya seluas 27,5m2 , sementara di depan gedung C terhitung panjangnya saja, yakni sekitar 30m karena hanya berupa tempat duduk memanjang yang terlindung oleh teduhnya beberapa pohon mangga. Sedangkan luas lahan Universitas Fajar, berkisar 15.029,67 m². Berarti, dari ini kita bisa menyimpulkan bahwa ketersediaan RTH cukuplah minim.

Sementara jumlah vegetasi di lingkungan Unifa, hanya berjumlah 26 tanaman, yang terbagi berdasarkan jenisnya. Ficus Benjamina(pohon beringin) berjumlah satu, Mangifera Indica(Pohon Mangga) berjumlah sembilan, Terminaliz Cattappa(Pohon Ketapang) berjumlah satu, Morinda Citrifolia(Pohon Mengkudu) berjumlah satu, Psidium Guajava(pohon jambu biji) berjumlah satu, dan Arecaceae(pohon palem) berjumlah tiga belas.

Berbeda dengan Yuli, Ainun lebih menyesali tindakan atas penebangan beberapa pohon.

“Kalau sebenarnya itu jangan ditebang, karena apalagi itu pohon besar dan rindang, bisa jadi tempat duduk-duduk di situ, menahan terik matahari, tapi kalau sekarang sudah ditebang semakin panasmi, tidak adami tempat berteduh, kalau menurut saya itu jangan ditebang kalaupun ditebang, ya minimal diganti dengan pohon-pohon lain”

Paradigma Antrhoposentrisme lah, yang akhirnya membuat manusia merasa iya-iya saja untuk melakukan penebangan pohon. Maksudnya, Manusia sebagai supremasi dari alam yang memiliki dominasi atas alam dan manusia lainnya. Namun, apabila manusia ingin sedikit saja menghayati ekologisme, penebangan yang terjadi di Universitas Fajar mungkin urung terjadi.

Tidak hanya mahasiswa saja yang melihat permasalahan ini, Dosen yang kerap disapa Ibu Mega ini juga ikut bicara.

Awalnya beliau berasumsi bahwa dari proses pembangunan juga mengakibatkan iklim mikro unifa yang terasa panas, dan juga ditambah dengan adanya penebangan pohon. Setelah ditanyakan tentang seberapa berpengaruhnya iklim-mikro ini terhadap aktivitasnya, beliau menjawab; “mungkin tidak”. Lantaran aktivitasnya yang lebih banyak di dalam ruang atau kelas.

Tetapi, justru mood yang dimiliki dosen Hubungan Internasional-inilah yang terganggu.

“Begitu masuk ke kampus, liat suasana gersang itu secara tidak langsung mempengaruhi emosi, kadangkala itu akhirnya mempengaruhi kinerja juga”

Beliau mengimbuhkan, sewaktu pohon besar di parkiran belum ditebang, selepas kelas beliau bisa duduk ngrobrol secara santai dengan mahasiswa di bawah pohon itu, jadi tidak terlalu stress.

Ia menambahkan “Sekarang,kita terjebak di dalam ruangan, akhirnya interaksi dengan teman-teman mahasiswa jadi terbatas, ide-ide malas muncul” tandasnya “Ngga nyaman berlama-lama di kampus”

Secara tidak langsung, bukan hanya terhadap aktivitas dosen saja yang terganggu. Juga terhadap seluruh aktivitas yang berlangsung di Kampus Unifa

Kurangnya ketersediaan RTH di kampus Unifa, seharusnya mampu dikritisi oleh sivitas akademika, terutama Mahasiswa. Karena, apabila idealitas dari pemikiran mereka melangit, tetapi inderanya tidak membumi, maka untuk apa mereka berkuliah?

Green University yang dicita-citakan semoga saja akan terealisasikan sesuai dengan harapan bersama, sebab semua orang akan kesal bila menikmati secangkir kopinya dengan suasana yang gerah.

Penulis : Manda AM

 

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here