Pelacur: Kebebasan Individu Terhadap Tubuh

0
199
Ilustrasi (Sumber: Pinterest)

“Semua perempuan itu pelacur, sebab seorang istri baik-baik pun menjual kemaluannya demi mas kawin dan uang belanja, atau cinta jika itu ada.” – Eka Kurniawan, Cantik Itu Luka.

KERTASONLINE.COM – Ketika publik beberapa bulan yang lalu disibukkan dengan kasus Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS), maka agaknya saya harus keluar dari isu tersebut. Di sini saya tidak menyoroti tentang adanya RUU PKS yang belum disahkan juga karena menuai polemik, melainkan saya lebih fokus terhadap pelacuran atau biasa dikenal praktik prostitusi, yang kini masih dipandang sebelah mata oleh masyarakat Indonesia.

Di Indonesia sendiri, menjadi pelacur atau pekerja seks komersial (PSK) dinilai merupakan tindakan yang melanggar norma dan kesusilaan yang berlaku di masyarakat. Tak bisa dipungkiri bahwa Indonesia masih memegang teguh nilai-nilai agama dan norma sosial yang berlaku. Apalagi merujuk pada pengertian asusila menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI V) adalah tidak baik tingkah lakunya.

Persepsi dan kedudukan prostitusi atau memilih profesi pelacur merupakan hal yang sangat tercela, dosa, dan zina yang tidak bisa ditolenrasi. Pada kenyataannya ajaran agama manapun mengatakan bahwa pelacuran merupakan perbuatan dosa yang sangat besar. Itulah yang membuat pelacur ketika dihadapkan dengan hukum agama, mereka tetaplah menjadi kaum yang berdosa.

Namun, ini tidak serta-merta bahwa hukum agama niscaya menjadi landasan dari hal tersebut. Masyarakat seharusnya lebih membuka pikiran dan lebih menyelam ke dalam. Bahwasanya memilih menjadi pelacur merupakan suatu pekerjaan dan bentuk ekspresi kebebasan individu terhadap tubuhnya, apalagi tidak ada undang-undang yang mengatur hal tersebut.

Harus dipahami pula, mengapa banyak perempuan yang memilih profesi pelacur? tidak lain dikarenakan faktor ekonomi yang rendah, tidak adanya keterampilan khusus yang memadai, dan kurangnya lapangan pekerjaan dengan tingkat pendapatan layak, sehingga mereka memilih untuk menjajakan tubuh mereka demi penghasilan.

Selain itu, perempuan memiliki hak penuh atas tubuhnya. Sama halnya ketika kita melihat perempuan membuat tatto di seluruh tubuhnya atau menindik hidung, telinga, lidah, dan bibir dengan benda logam secara permanen atau semipermanen.

Dilansir dari The New York Times yang berjudul ‘Should be prostitution be legal?’, dikatakan bahwa menempatkan pelacur sebagai tindakan kriminal dan bukan sebagai pekerjaan adalah salah satu bentuk pencideraan atas hak perempuan untuk memilih pekerjaan dan pengabaian terhadap kebutuhan dan perlindungan sebagai pekerja.

Ini menegaskan bahwa pelacur sepenuhnya bukanlah tindakan asusila. Ketika kita membuat batasan terhadap pelacur dan prostitusi, ini sama saja kita menekan asas kebebasan perempuan dalam menentukan jalan hidup dan jati dirinya. Secara sederhananya sama saja kita melarang perempuan untuk bersekolah, berkarir, dan mengekspresikan diri baik di dalam maupun di luar lingkungan pribadinya.

Faktanya di Indonesia masih sedikit pemahaman tentang kondisi dari pelacur. Adanya stigma negatif dari masyarakat, juga pemerintah yang membuat pelacur malu dan merasa tertekan. Adanya pandangan bahwa perempuan dapat mencari pekerjaan yang lebih layak daripada harus menjadi pelacur. Ini yang selalu menjadi perdebatan.

Ketika masyarakat atau negara mengatakan hal yang demikian, tidak ada satupun solusi yang mampu menyelesaikan masalah tersebut. Malahan mereka dipaksa misalnya menjadi buruh atau pekerja pabrik yang notabene pendapatannya sangat rendah ketimbang saat mereka menjadi pelacur.

Akibatnya banyak dari mereka kembali untuk melakukan hal yang sama. Pada akhirnya, Negara hanya cenderung terhadap penyelesaian menghapus keberadaan pelacur atau praktik prostitusi, daripada memberikan solusi yang tepat.

Sebaiknya masyarakat dan negara memahami bahwa perempuan yang memilih menjadi pelacur, tanpa ada oknum di belakangnya, menunjukkan tidak adanya paksaan terhadap diri sendiri. Alangkah lebih baik memberikan peluang menjadi pelacur daripada harus melakukan yang bukan keinginan individu tersebut.

Tidak hanya itu, banyaknya perilaku menghina serta diskriminasi masyarakat terhadap pelacur membuat semakin rendahnya moral bangsa dalam menjunjung kebebasan individu. Ini dapat kita lihat ketika ada pelacur yang tinggal di suatu lingkungan masyarakat, maka akan banyak gunjingan bahkan hinaan yang datang dari masyarakat setempat.
Indonesia sebaiknya berkaca dari Jerman. Sebagaimana dilansir dari tirto.id yang mengatakan bahwa pada tahun 2001, parlemen Jerman atau Bundestag yang dikuasai oleh Partai Sosial Demokrat mengeluarkan Undang-Undang Prostitusi. Tujuannya adalah memperbaiki kondisi PSK. Berdasarkan undang-undang itu, PSK dapat menuntut kelayakan upah serta berkontribusi pada program asuransi kesehatan, sampai dana pensiun. Singkatnya, Jerman ingin membuat perempuan PSK setara dengan profesi lainnya. Alih-alih dikucilkan, Jerman hendak mengajak masyarakat untuk menerima praktik prostitusi.

Bahkan di Asia sendiri, telah banyak negara yang melegalkan prostitusi dan mengakui keberadaan pelacur. Seperti Jepang, Kamboja, dan Thailand. Dengan memberikan izin pendirian tempat prostitusi serta adanya perlindungan hukum bagi para pelacur.

Lagi-lagi semakin jelas bahwa masalah keberadaan status pelacur semata hanya sebuah pengakuan. Ketika hukum agama mengakui hubungan seks yang dilakukan oleh pasangan suami dan istri dikarenakan sejalan dengan peraturan yang ada. Ini lah yang menjadi momok bahwa hukum agama tidak bisa dijadikan landasan yang konkret terhadap status pelacur, karena pada dasarnya Indonesia bukan negara agama, melainkan negara demokrasi yang mempunyai undang-undang sebagai landasan dan mestinya menjunjung hak individu.

Ini lah yang harus menjadi renungan bagi negara dan masyarakat. Sebagai negara demokrasi yang menjunjung tinggi kebebasan individu, sudah selayaknya kita belajar menempatkan pandangan terhadap masalah sosial yang ada. Di mana tidak semua bisa diselesaikan dengan hukum dan aturan permanen yang berlaku.

Penulis: Yael Stefany Sinaga

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here