Memelihara Kebodohan

0
415

Awal dari fanatisme adalah kebodohan, kalau memang fanatisme berawal dari kebodohan maka sudah dipastikan bahwa fanatisme adalah salah satu bentuk keburukan, karena sesuatu yang diawali dengan hal yang negatif akan berakhir dengan negatif. Fanatisme yang berkembang dikalangan masyarakat menjadi trend saat ini, pengkafiran, bid’ah, sesat, serta kata Allah Akbar yang jadikan jargon perang adalah sebuah akibat dari fanatisme itu.

Fanatisme yang lahir dari kebodohan adalah fanatisme yang tak berlandaskan sesuatu yang sangat jelas, mereka menafsirkan sesuatu dengan sendirinya sampai-sampai mereka menganggap tafsiran yang lain adalah kekeliruan.

Menganggap orang lain keliru adalah akibat dari sebuah fanatisme, menganggap orang lain keliru atau bisa dibilang ketika seseorang itu mengalami fase kebodohan lanjut ke fase fanatisme dan sampai kepada fase Segregasi.

Seseorang akan dengan lantang mengatakan kami yang terbaik dan kalian adalah keburukan, difase ini sudah sangat kelihatan bodohnya, menganggap selain dari dia adalah kekeliruan, bukankah itu fallacy black or white setelah melewati fase ini kelompok fanatik akan masuk ke fase tuduhan-tuduhan, mereka mulai menuduh kelompok lain tanpa ada data yang jelas, tentu saja tuduhan-tuduhan itu bersifat negatif.

Dikalangan Islam itu sendiri terdapat banyak sekali tuduh-tuduhan muncul, salah satu contoh paling nyata sebuah tuduhan adalah ketika muslim yang bermazham Syiah dibilang mewajibkan menghina sahabat Nabi yaitu Abu-Bakar, Umar dan Utsman, mereka mengatakan begitu tanpa ada bukti yang jelas dan ini bisa dibilang salah satu tuduhan-tuduhan yang tak berlandaskan dalil atau data yang jelas (saya punya banyak teman muslim yang bermazhabkan Syiah).

Dari fase tuduhan-tuduhan itu maka muncullah fase dimana kelompok-kelompok telah membuat sekat-sekat atau tembok-tembok pembatas antara kelompok satu dengan yang lain, fase ini adalah fase awal dimana fanatisme telah memasuki model praktisnya, minyak berkumpul dengan minyak dan air berkumpul dengan air.

Setelah mereka yang menafsirkan secara mentah-mentah teks-teks Agama, mengatakan dirinyalah yang terbaik, menuduh kelompok lain melakukan kesalahan serta mereka yang fanatik membuat tembok yang besar karena menganggap kelompok lain adalah sebuah kesalahan, maka dari semua itu muncullah fanatisme dalam model praktis yang lebih ekstrim, yaitu pengsesatan kepada kelompok lain.

Karena kebodohan yang terorganisir ini membuat fanatisme terus berkembang, bangunan tuduhan yang dilandasi dengan tafsir kesemena-menaan atas teks-teks agama membuat yang fanatik saling bergandengan tangan melawan yang toleran. Dengan mengatakan kami memiliki dalil, tetapi ketika diajak untuk mendiskusikannya dia sering mengatakan kami tak mau berdiskusi dengan orang yang belajar logika, karena mereka pintar-pintar dan sering membalikkan keadaan.

Seorang fanatisme tak ingin bergaul dengan yang pintar-pintar, mereka berkumpul dengan yang bodoh-bodoh, bukankah sudah saya katakan air bersama air dan minyak bersama minyak?

Dari mana merubah? Kalau kita mengatakan sumber dari fanatisme adalah kebodohan, maka yang harus diubah adalah pikiran dari setiap individu-individu, tetapi terkadang yang fanatik selalu menutupi dirinya. Karena kebodohan yang sangat mengakar, maka dari itu perkataan orang lain sudah tak bermakna apa-apa dan sebuah kesalahan.

Terus bagaimana caranya? Mari pikirkan sama-sama. Maaf saya juga tidak tau bagaimana caranya menghadapi orang-orang yang telah bersatu dengan kebodohan.

Penulis: Syaldi

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here