Mahasiswa Cermin Kampus!

0
406
Ilustrasi

Kampus menjadi sarana tempat bagaimana memanusiakan manusia, tempat lahirnya kaum intelektual, bermoral, dan berkarakter. Berbeda dengan kondisi saat masih dalam bangku sekolah menengah, yang dimana pada fase tersebut kita masih dalam tahap transisi untuk mendewasakan cara berpikir serta cara berkelakuan, bisa juga dikatakan proses dalam mencari jati diri. Norma pada saat itu sangat ditekankan oleh guru-guru yang diatur dalam bentuk kurikulum sekolah, jadi kita diikat oleh aturan yang memaksa untuk berlaku disiplin dan patuh sesuai tuntutan sekolah. Dari hasil proses itulah yang kemudian kita bawa sampai sekarang, yang menjadi bekal awal untuk masuk ke gerbang perkuliahan.

Di kampus nantinya pilihan terbuka lebar, untuk langkah selanjutnya bagaimana mengembangkan dan mengaktualkan apa yang telah dicapai selama ini, sehingga membentuk pribadi yang lebih bermanfaat dengan basic keilmuan masing-masing.

Sejarah mencatat mahasiswa sebagai salah satu tonggak perubahan di berbagai negara dunia, salah satunya di Indonesia, siapa yang tidak mengenal Soekarno, Hatta dan kolega-koleganya dalam membentuk tatanan negara seperti sekarang ini, gerakan revolusionernya diawali di bangku kuliah, nilai-nilai kemanusiaan yang ditanamkan di kampus membentuk pola pikirnya dan penanaman nilai moral membentuk akal budi, sehingga menggugah nurani mereka, agar sadar pentingnya arti kemerdekaan dalam setiap bangsa. Betapa besarnya peran kampus dalam membangun identitas dan karakter setiap mahasiswa di dalamnya. Bukan hanya mencerdaskan secara akal, juga membangun kesadaran moralitas dalam tatanan berprilaku, bertutur kata, sehingga menciptakan kehidupan kampus yang harmonis dan selaras dengan instrument kampus lainnya.

Dewasa ini setelah melewati kemelut panjang pada masa perkembangannya, dari era pergerakan nasional sampai reformasi, pendidikan di republik ini bergerak secara fluktuatif sesuai tuntutan rezimnya, sehingga iklim budaya setiap kampus pun secara otomatis ikut berubah. Kurikulum kampus dianggap alat yang jitu untuk membentuk pola kehidupan mahasiswa, baik itu secara persuasif atau bahkan dengan cara represif bila itu di perlukan.

Pola kehidupan kampus ini yang kemudian menjadi budaya, sehingga mewarnai segala aktivitas yang ada di dalamnya. Melihat kondisi seperti ini mahasiswa seakan terikat dengan sirkulasi tatanan sosial dalam kampusnya masing-masing, yang secara eksplisit membentuk karakter setiap mahasiswanya, kita sepakat bahwa kampus merupakan tempat pembentukan pola pikir kritis,idealis, sikap dan mental, tapi pada hari ini kita melihat peran sebuah kampus sudah mengalami disorientasi ataupun pergeseran nilai di dalamnya, nilai-nilai moral secara khusus sudah menjadi produk sampingan di berbagai kampus, mahasiswa pada hari ini mengaku dirinya kritis dalam setiap aksi, bahkan sikap anarkisme yang tak lazim sering dipertontonkan, seakan mereka bangga dengan pencapaian yang berujung penghujatan dari khalayak publik terhadap mereka.

Berbicara tentang budaya kampus, kritik saya dalam tulisan ini menilai secara subjektif, bagaimana pola yang setiap harinya saya jumpai di kampus saya berada. Dari berbagai referensi yang saya baca tentang bagaimana peran kampus secara ideal, saya menemukan kejanggalan ketika apa yang saya dapati setiap harinya seakan bertolak belakang dengan konsepsi dasar kampus sebagai wadah tempat kaum terdidik, bila dijabarkan ketidak sesuaian tersebut ada salah satu poin sehingga saya secara pribadi menyimpulkan adanya pergeseran nilai terhadap kehidupan kampus di Unifa, kita sebagai mahasiswa kadang menutup mata, dengan hal yang kita nilai biasa setiap harinya, tanpa mencoba mengidentifikasi kebenaran apa yang kita lihat, atau bisa saja kita salah satu dari orang yang menyimpang dari tatanan norma sesungguhnya. Melihat hal itu, muncul beberapa keresahan dalam diri saya terhadap kondisi tersebut, apakah kampus sudah kehilangan budaya atau berganti budaya baru? Apapun itu kampus tetap sebagai mesin produktif, dalam mencetak manusia-manusia bermutu untuk pemenuhan sumber daya manusia.

Anekdot tentang Unifa yang “katanya” kampus “model” dan kampus “artis” sudah melekat sejak beberapa tahun yang lalu, pelabelan ini dikarenakan tidak terlepas dari bagaimana sikap mahasiswa di dalamnya. Sikap yang saya maksud disini adalah kurangnya “etika” dan “kesadaran” diri terhadap norma-norma yang telah diatur dalam kampus. Contoh kecil saja etika dalam berpakaian sudah dianggap hal sepele di kampus itu, khususnya kaum wanita dengan rok mini, baju ketat, dan celana robek sudah menjadi trend tersendiri bagi pelakon-pelakonnya. Tidak heran jika banyak yang melabeli Unifa sebagai kampus model dan artis. Secara penampilan mahasiswinya membenarkan stigma tersebut. Seakan bangga dengan asumsi orang tentang stigma itu, bukan malah mencoba intropeksi diri karena merasa tersindir, melainkan mengkontaminasi ke mahasiswa-mahasiswa lainnya, yang harusnya menjadi trend untuk diri sendiri, malah menjadi trend untuk kalangan kampus.

Meskipun secara basic Unifa bukan kampus muslim yang menerapkan etika keislaman untuk membentuk insan akademis yang berakhlakul karimah, tapi tetap moralitas merupakan ciri bahwa kita manusia yang beragama dan berketuhanan. Bukankah kita sebagai mahasiswa cerminan dari apa yang di dapat di kampus? Bukan sebaliknya budaya luar yang teradopsi menjadi budaya kampus? Apakah sesempit itu penilaian orang luar terhadap kampus kita? Atau kurangnya penegasan aturan terhadap wilayah itu?

Melihat hal tersebut sebagai orang yang peduli dan cinta akan kampus, kita tentu secara pribadi harus sadar dan mencoba mengoreksi utamanya diri kita sendiri. Meskipun kampus sudah tidak sesuai dengan tujuan awalnya, tapi sebagai mahasiswa yang sadar akan perubahan, kita tidak akan berdiam diri dan membiarkan citra kampus dirusak oleh oknum-oknum yang hanya menumpang kuliah di kampus itu, tapi bukan berarti kita harus anarkis dalam menindaki hal demikian untuk merubah pola tersebut, melainkan memberikan gagasan dan saran yang membangun kepada pemangku jabatan tertinggi, untuk kepentingan bersama dan tetap selaras dalam menjalani kehidupan kampus. Bukankah hal itu yang mencirikan kita sebagai kaum intelektual dan berkarakter? Bukan bungkam melihat hal yang tidak sesuai tempatnya, atau malah menjadi penikmat.

Selain pembentukan rasio, pendidikan moralitas memang sangat penting di berikan di Unifa, melihat kedepannya mahasiswa menjadi tenaga-tenaga profesional di kancah kontestasi dalam dunia kerja, etika dalam bersikap perlu ditanamkan lebih dalam, mengingat kampus tempat pembentukan karakter untuk pemenuhan SDM yang menjunjung tinggi nilai moral dan berbudi pekerti yang baik, kesadaran dari dua subjek antara birokrasi kampus dan mahasiswa memang membantu terselenggaranya tujuan tersebut. Tapi apabila keduanya apatis dan melakukan pembiaran, maka bias dari itu akan mencoreng nama baik kampus.

Penulis: Erwin Admajaya

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here