Keluhanku Terhadap Tenaga Pengajar Kampus yang Anti Kritik

0
238

KERTASONLINE.COM – Sebenarnya berat untuk menulis tentang ini. Sebab, bagaimanapun juga, saya bukan apa-apa, dari segi pengetahuan, juga pengalaman. Tapi, kalau ini terus berlangsung, maka hasilnya bisa jadi kecelakaan paling fatal yang saya alami juga mahasiswa lain secara terus menerus.

Oke. Daripada berlama-lama, sebenarnya, saya hanya ingin menyampaikan keluh kesah, terhadap tenaga pengajar yang ada di kampus. Semoga tidak banyak.

Keluh kesah ini, berangkat dari rasa kecewa terhadap apa yang saya alami di dalam kelas. Saking kecewanya, saya memilih untuk tidak melanjutkan kelas bersama beliau. Tentu, dengan harapan saya bisa mengganti kelas yang akan saya masuki kelak. Namun, aturan kampus tidak memperbolehkan keinginan saya. Tidak apa. Saya tabah, nan sabar, Baginda!

Lantas, bagaimana kekecewaan itu terjadi? Saya kasih sederhana saja, yha. Ibaratnya, seperti ini, kamerad-kameradku sekalian:

Di dalam kelas, ada seorang tenaga pengajar yang ingin memberi pengetahuan bagaimana cara memperoleh angka dua puluh. Caranya, dengan mengajarkan sepuluh ditambah sepuluh. Jelas, hasilnya angka dua puluh.

Lalu, apakah itu sebabnya saya kecewa? Tahan dulu, kamerad. Jawaban tenaga pengajar tersebut benar. Sangat benar. Masa iya, saya kecewa terhadap kebenaran pengetahuan. Hehe. Saya itu kecewa, karena beliau menolak usul dari saya.

Usul saya, waktu itu kepada beliau, untuk memperoleh hasil angka dua puluh, bisa dengan cara, lima dikali empat. Benar bukan? Tentu benar. Lima dikali empat, hasilnya adalah dua puluh. Tapi ditolak. Saya bersiteguh terhadap usulan saya. Karena itu juga hal yang benar. Namun beliau tetap menolak.

Setelah dari situ, saya enggan memasuki kelasnya lagi. Isi kepala juga hati saya, selalu mengatakan, kalau beliau adalah tenaga pengajar yang anti kritik. Berat rasanya menimba pengetahuan dengan orang-orang seperti itu. Tapi, bila saya bersikap demikian, tentu saya harus menerima konsekuensinya. Apa itu? Yha, memperoleh nilai E (eror). Jelas. Karena, tidak pernah masuk kelasnya (lagi).

Tapi sekali lagi. Bila, hal yang ‘kecil’ ini terus berlangsung, menurut saya, tentu ini seperti gemar memanjakan diri pada jebakan yang sama. Bisa jadi, ini celaka yang paling fatal yang saya alami, juga mahasiswa lainnya secara terus menerus.

Ambil mata kuliah buta-buta-tidak masuk kelas karena tenaga pengajarnya anti kritik-memperoleh nilai eror. Sederhana, tapi buang-buang waktu, pikiran, juga fulus.

Saya tidak mau sesederhana seperti di atas lagi. Selain malu karena di penghujung semester, saya juga memikirkan nasib saya kelak. Masa iya begitu terus. Saya bosan mendengar kawan-kawan, orang tua, selalu bilang: “yah ikuti mi saja, ikhlaskan mi, masuk kelas, jangan banyak bicara, kerja tugas, aman mi itu nilaimu.”

Maaf-maaf saja yha fren, ibu, bapak, tante, om, kakek, nenek, juga siapa saja, kuliah seharusnya, yang paling penting adalah memperoleh pengetahuan, bukan memperoleh nilai A atau B.

Oke, saya boleh dapat nilai A atau B. Namun, bagaimana nasib saya kelak, jika saya hanya tahu sepuluh tambah sepuluh sama dengan dua puluh? Bagaimana nasib saya, jika seandainya saya tidak pernah tahu, lima dikali empat hasilnya sama dengan dua puluh? Aneh, ‘kan? Masa iya, mahasiswa di penghujung semester cuma tahu, sepuluh tambah sepuluh untuk memperoleh angka dua puluh. Apakah kelak, pihak kampus akan menerima, saya menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan mengatakan: “kan ini semua yang diajarkan dalam kelas, buktinya, nilai-nilaiku A dan B.”

Jadi, karena saya sudah lama menampung semua keluhan di atas, saya itu tidak semerta-merta mengeluh saja. Saya turut memikirkan apa yang seharusnya dibuat oleh pihak kampus. Tapi ini hanya kemauan saya saja yha. Bila keliatannya mudah, yah lakukan. Tapi kalo keliatannya susah, yah cari cara biar mudah. Hehe.

Jadi begini, sederhana saja. Pada saat mahasiswa memilih mata kuliah yang akan dipelajari, ada baiknya, pihak kampus juga menulis nama tenaga pengajar pada lembaran kertas pilihan mata kuliah tersebut. Jadi kita tahu, kepada siapa kita ingin belajar.

Usulan ini, paling tidak meminimalisir pengulangan terhadap mata kuliah yang diambil. Jujur saja, ada orang yang lebih mengeluh daripada saya, sebab orang tersebut mengulang mata kuliah hingga tiga kali. Saat saya tanya mengapa sebanyak itu, ternyata jawabannya sama dengan keluhanku itu.

Ini bukan tentang seberapa banyak pengetahuan yang saya–juga mahasiswa lainnya peroleh di dalam kelas. Juga, bukan tentang berapa banyak fulus yang diberikan ke kampus. Tapi, tenaga pengajar yang enggan menerima pendapat, bahkan pendapat yang benar, sebaiknya patut dipertimbangkan oleh pihak kampus. Ingat, dipertimbangkan. Jadi tentu masih ada kesempatan.

Sebagai penutup, saya mau bilang, semangat mahasiswa memperoleh pengetahuan dari dalam kelas itu sangat tinggi nan luas. Lebih tinggi dibanding, gedung kampus, juga lebih luas dibanding lapangan yang ada di kampus.

Eh lupa tidak ada lapangan di kampus, hehe. Salam olahraga!

Penulis: Efrat Syafaat Siregar

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here