Kami Bukan Sekumpulan Monyet!

0
478
Sumber Foto : Tipsiana.com

“Jika ingin menghancurkan sebuah bangsa dan peradaban, hancurkan buku-bukunya;maka pastilah bangsa itu akan musnah.” –Milan Kundera

Akhir-akhir ini baik televisi maupun di media sosial, kita sering disuguhkan lakon yang tidak manusiawi. Tuding-menuding, caci-mencaci, hingga adu fisik, telah jadi santapan sehari-hari. Ironi memang. Bangsa besar yang katanya memiliki semboyan Bhineka Tunggal Ika, serta menjadikan Pancasila sebagai dasar negara, justru tumbuh menjadi bangsa yang saling memamah antara para penduduknya.

Apa yang menjadi cita-cita para founding father Indonesia, yang telah mengorbankan segenap jiwa dan raganya agar penduduk bangsa ini saling menjaga serta bersatu dalam keragaman demi kemajuan Tanah Air, malah semakin digiring keluar jalur oleh para penerusnya. Atas nama kebenaran, kebencian ditebar. Bahkan yang lebih gila lagi, Pancasila pun dinistakan.

Kemudian muncul pertanyaan, bagaimana bisa negara ini berjalan jauh dari koridor yang diharapkan oleh para pendirinya? Jawabannya adalah: kita lupa sejarah.

Persoalan lupa-melupakan, sudah jadi masalah umum bangsa kita. Indonesia terlalu mudah melupakan. Padahal dengan mengingat masa yang telah lalu (sejarah), kita jadi dapat mempersiapkan diri agar bisa lebih baik untuk menyongsong masa yang akan datang. Tetapi, kita memang tak pernah belajar bahkan terkesan mengubur segala cerita masa lalu. Parahnya lagi, kebanyakan dari kita menolak untuk mencari tahu dan seakan enggan untuk membaca buku sejarah.

Alih-alih baca buku sejarah, baca koran pun seakan jadi momok bagi penduduk bangsa ini. Budaya literasi kita saat ini memang teramat miris. Buku yang notabene adalah sumber peradaban, justru menjadi benda asing dalam keseharian orang Indonesia. Yah, bangsa kita yang tercinta ini, kini berada di titik nadir peradaban.

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh UNESCO pada tahun 2012, minat membaca masyarakat Indonesia hanya 0,001. Itu artinya, dari 1000 orang warga Indonesia, hanya 1 orang yang memiliki minat baca. Lalu tiga tahun kemudian atau pada 2015, UNESCO kembali menginisiasi sebuah penelitian untuk mengukur tingkat kemampuan membaca pada anak-anak. Bocah di Eropa memiliki tingkat kebiasaan membaca sebanyak 25 buku setahun. Sementara di Jepang dan Singapura, anak-anak di kedua negara Asia tersebut memiliki kebiasaan membaca sebanyak 15—17buku tiap tahun. Bagaimana dengan Indonesia? Anak-anak di Indonesia rata-rata memiliki kebiasaan membaca sebanyak 0 (nol) buku dalam setahun. Itu artinya anak-anak Indonesia rata-rata tidak menghabiskan  satu pun buku dalam setahun. Memilukan.

Rupanya bangsa kita tidak hanya sudah terlalu lama memunggungi lautan dan daratan. Buku ternyata sudah menjadi sesuatu yang juga ikut dipunggungi oleh bangsa ini. Sesuatu yang menurut sastrawan Taufiq Ismail adalah sebuah tragedi.

Melihat realita yang ada, sulit rasanya membayangkan kemajuan bangsa ini dalam beberapa tahun yang akan datang. Jika sedikit menilik ke belakang, zaman pra kemerdekaan menjadi era di mana para pejuang baik golongan muda maupun tua, sibuk bergelut dengan buku dan diskusi. Tak ayal jika mereka sudah mampu berimajinasi untuk memikirkan kerangka serta konsep bangsa ini, jauh sebelum merdeka. Hal yang tentu bertentangan dengan era saat ini. Jika pada masa itu kaum pemuda-pemudi sibuk beradu pendapat tentang revolusi, maka saat ini pemuda-pemudi sibuk beradu jumlah followers di Instagram.

Masalah membaca memang kerap ditekankan oleh para pendiri bangsa. Dalam sebuah kesempatan, Bung Karno pernah menyatakan: jika kalian meninggalkan sejarah dan kalian tidak membaca, maka bersiaplah kalian untuk bernasib seperti monyet dalam kegelapan.

Apa yang dikatakan oleh presiden pertama tersebut, adalah refleksi di masa kolonial. Ketika itu Belanda beranggapan bahwa bangsa kita hanyalah sekumpulan monyet yang tidak memiliki peradaban. Hal itu juga dijelaskan oleh Pramoedya Ananta Toer dalam bukunya yang berjudul Bumi Manusia. Minke yang merupakan tokoh utama di novel tersebut, dinamai seperti itu oleh gurunya yang merupakan orang Belanda. Nama Minke adalah plesetan dari monkey.

Pemerintah seharusnya ambil peran dalam hal ini. Namun sayangnya, kita belum melihat adanya iktikad baik untuk menanggulangi masalah yang sangat serius ini. Mari melihat kondisi perpustakaan di sekolah-sekolah. Sudah sejauh mana pemerintah menyediakan buku-buku berkualitas? Jangankan di sekolah, di perpustakaan kampus pun mengalami hal yang sama. Deretan rak buku hanya diisi buku-buku yang sama sekali tidak menstimulasi mahasiswa untuk berpikir lebih baik.

“Negara, Berhenti Memberangus Buku”

Ketika anak bangsa yang kadung miskin imajinasi serta kreativitas untuk membawa bangsa ke arah lebih baik, akhirnya perlahan sadar dan mencoba bangkit. Namun, ketika sedikit demi sedikit mereka mencoba mengembalikan identitas bangsa, pemerintah hadir dengan memberangus buku (kiri). Tak hanya itu, pelarangan diskusi-diskusi juga masih kerap ditemukan. Padahal buku dan diskusi adalah wadah untuk berdialektika serta mencari solusi agar bangsa ini bisa lebih baik.

Maraknya razia buku-buku kiri serta pembubaran diskusi-diskusi, tentu menjadi preseden buruk ketika kita telah tiba di era informasi terbuka. Apa yang ditakutkan oleh pemerintah adalah sebuah kesesatan berpikir. Dengan legitimasi komunis, buku serta diskusi yang beraroma kiri dilarang.

Saya sampai saat ini tak yakin bahwa mereka yang melarang peredaran buku serta diskusi bernuansa kiri, mengerti apa itu kiri atau komunis. Sudah sejauh mana Anda yang merasa komunisme dan sosialisme itu tak baik, membaca atau menelaah paham tersebut. Sudah sedalam apa Anda memahami pemikiran Karl Marx, Friedrich Engels, atau Vladimir Lenin yang jadi patron paham tersebut?

Bagaimana mungkin anak bangsa ini tahu baik atau tidaknya ideologi komunis maupun sosialis jika ada larangan untuk mempelajarinya?  Atau mungkin pemerintah menganggap generasi saat ini terlalu bodoh dan serta-merta akan jadi komunis hanya dengan membaca buku kiri?

Dari hemat saya sendiri, pemerintah atau orang-orang yang tak suka buku kiri bukannya takut akan kebangkitan gerakan komunis maupun sosialis. Mereka hanya tak menginginkan anak bangsa ini memiliki jiwa kritis, dan sering bertanya. Pemerintah seakan alergi untuk dikritisi atau melihat anak bangsa jadi banyak tanya. Hal ini tentu mengingatkan kita kembali pada zaman orde baru yang di mana pemerintah menginginkan warganya menjadi monyet yang penurut. Benar kata Pram, bahwa orde baru itu tak pernah hilang dan akan terus tumbuh menjadi orde baru yang baru, sebab orde baru sendiri adalah sebuah pikiran.

Seandainya saja pemerintah bisa lebih bijak dan memahami sejarah secara utuh, sesungguhnya gerakan kebangkitan para pendahulu kita tumbuh karena bacaan kiri. Mulai dari Cokroaminoto, Hatta, hingga Sukarno pernah mempelajari tentang komunisme dan sosialisme saat memperjuangkan kemerdekaan.

Maka dari itu sebaiknya pemerintah memberikan kebebasan belajar dan berpikir untuk para warganya. Bukankah kita merindukan kemajuan? Bagaimana mungkin kita bisa maju jika nalar berpikir kritis dan berpendapat terus-terusan dibungkam?

Dan untuk para generasi muda, marilah kita melawan stigma penjajah yang mengatakan kita hanyalah monyet yang tak memiliki peradaban. Dengan membaca maka pengetahuan menjadi luas serta analisis semakin berkembang. Pun dengan membaca, kita bisa terus menjaga keutuhan dan kesatuan bangsa ini. Sebab buku adalah kunci peradaban.

Salam literasi.

Penulis : Adnan Ilham

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here