Gender Dalam Masyarakat Mandar

0
261
Wanita Mandar Menenun Lipa' Sabbe. (Foto: Tropen Museum Belanda)

Di barat, perempuan selalu menuntut agar haknya disamaratakan dengan kaum pria. Ketika pria terlalu dianggap mendominasi pos-pos vital dalam kehidupan, perempuan menuntut untuk diperlakukan sama. Hadirlah feminism sebagai gerakan emansipatoris yang mendukung penyamarataan hak antara laki-laki dan perempuan.

Sedikit demi sedikit para perempuan mulai keluar dari ranah privat dan mulai menginvasi ranah public yang sebelumnya didominasi oleh laki-laki. Muncullah tuntutan agar perempuan diberi kesempatan untuk mengisi jabatan-jabatan politis dalam pemerintahan.muncullah tuntutan agar perempuan mendapatkan perlakuan yang sama di tempat kerja.

Perempuan selalu merasa tersubordinasi dengan laki-laki. Keberadaan perempuan di sumur, dapur dan kasur dianggap sebagai bentuk eksploitasi. Para perempuan menginginkan potensi-potensi dalam diri mereka juga bisa tersalurkan dalam ranah public. Seks atau jenis kelamin bukanlah sebuah tolak ukur yang bisa membagi peran ataupun status sosial manusia. Jika laki-laki bisa bekerja dan mencari nafkah maka perempuan pun memiliki potensi yang sama untuk itu.

Feminisme berkoar, menggaung keseluruh dunia, menyebarkan nilai-nilai liberalisasi kepada perempuan-perempuan yang ada di dunia, termasuk Indonesia. Namun, jauh sebelum feminisme menyentuh Indonesia, suku mandar telah terlebih dahulu menempatkan perempuan dalam posisi yang sederajat dengan lelaki.

Suku Mandar, yang sebagian besar mendiami provinsi Sulawesi Barat dikenal dengan suku bahari. Dimana mata pencaharian utama masyarakat mandar adalah nelayan. Ketika para suami mengarungi laut untuk menangkap ikan, perempuan tidak berdiam diri di rumah. Mereka menenun kain dan menjadikan kegiatan itu bernilai positif sehingga bisa menghasilkan uang untuk membuat dapur mereka tetap berasap selama ditinggal suami melaut.

Tak ada debat, tak ada adu argumen antara siapa yang menjalankan tugas siapa. Suami dan Istri saling berbagi tanggung jawab. Istri merasa bukan hanya pada bahu suami nafkah harus dibebankan. Mengikatkan diri pada pertalian rumah tangga berarti harus siap dan rela memikul beban bersama.

Relasi gender dalam masyarakat Mandar tidak menempatkan perempuan dalam posisi subordinat yang selalu berada dibawah kaum laki-laki tetapi menempatkan perempuan sebagai rekan.

Inilah perempuan-perempuan Mandar yang tanpa harus berkoar kesana kemari tetap mampu menjalankan peran gandanya sebagai seorang istri dan pencari nafkah.

Inilah perempuan-perempuan Mandar yang diam namun dinamis. Ketika feminis-feminis Indonesia berkiblat ke Eropa dan Amerika, saya pribadi berfikir bahwa kearifan lokal suku Mandar lebih patut dicontoh. Ketika bisa bercermin ke dalam, untuk apa repot-repot bercermin keluar?

Selama ini kita terlalu banyak mengcopy budaya luar. Seperti feminism.

Tanpa kita sadari, equality antara perempuan dan laki-laki sudah ada sejak dahulu di negeri ini.

Jadi, kenalilah negerimu!

Penulis: Rizky Aftaria

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here