Sebagai Lembaga yang menjunjung tinggi nilai demokratis dalam berorganisasi di Kampus Universitas Fajar (Unifa), Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Kertas atau yang sering disebut Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pers Unifa, turut hadir memberi warna kehidupan dalam berlembaga di Kampus Unifa.

Menjunjung tinggi nilai nilai demokratis sebagai salah satu sikap Jurnalistik. Hal itu sudah tentu dilaksanakan oleh LPM Kertas. Tetap Berimbang dalam mengawal pemberitaan perlawanan dan kritikan mahasiswa, juga menampung aspirasi Mahasiswa.

Saya masih ingat betul, sewaktu saya ikut sebagai salah satu Panitia Penyambutan Mahasiswa Baru, para perwakilan Lembaga Mahasiswa berlomba lomba menunjukkan sikap kritisnya, dengan mempertanyakan Transparansi Anggaran Dana Kampus. Saat itu, dalam hati saya berharap; semoga suatu saat, ada Lembaga Kemahasiswaan yang mampu mempertemukan pihak kampus bertemu dengan pihak Mahasiswa untuk membicarakan persoalan Transparansi Anggaran Dana Kampus.

Setelah PMB berlalu, ternyata sikap kritis mahasiswa tetap terawat. Di kantin, Kantor Lembaga Kemahasiswaan, dan di Ruang Kelas Pembelajaran, Para mahasiswa yang kritis terus mempertanyakan Transparansi Anggaran Dana Kampus.

Hingga tiba, LPM Kertas dengan gagah berani menggelar kegiatan tersebut.

Kamis, 4 April 2019, LPM Kertas mengadakan Dialog Kemahasiswaan dengan tema “menciptakan transparansi anggaran perguruan tinggi, Bagaimana dengan Unifa?” .

Saya yakin betul, kawan kawan di LPM Kertas sangat menjunjung tinggi nilai demokratis dalam kampus, sehingga, dengan keyakinan yang besar dan semangat yang besar, juga harapan yang besar, kawan kawan LPM Kertas menggelar kegiatan tersebut, dengan harapan; dihadiri oleh para petinggi atau perwakilan Lembaga Kemahasiswaan, para Aktivis Kampus, dan Para Pembicara yang telah disiapkan.

Namun, siapa sangka, ketika para petinggi kampus Unifa bersedia memenuhi kewajibannya sebagi pembicara yang akan menghadapi banyaknya para mahasiswa juga Petinggi Lembaga Kemahasiswaan atau perwakilannya yang kritis, justru dibalas dengan sikap yang sangat keren oleh Aktivis, yang sering berada di Kantor Lembaga Mahasiswa, di Kantin Kampus, dan di Ruangan Kelas Pembelajaran.

Betapa kerennya kalian. Ketika LPM Kertas berinisiatif untuk mempertemukan kalian dengan perwakilan petinggi kampus, apa yang kalian katakan? “Ah biarkan mi saja” , “Bah Iya, deluanmi” (Tapi Tidak Hadir). Keren sekali bukan?

Ini bukan persoalan kalian harus hadir dalam Dialog yang dilaksanakan oleh LPM Kertas, namun ini persoalan sikap keren yang sangat pecundang kalian yang hanya mampu mengungkapkan kritikan kalian dibelakang Para Petinggi Kampus.

Namun sekali lagi, keyakinan saya terhadap LPM Kertas masih seperti yang dulu, yakni; LPM yang mengedepankan sikap demokratis dan Sikap menjunjung tinggi kebebasan berpendapat.

LPM Kertas dengan lapang dada menerima dinamika kehidupan berlembaga dalam kampus, meski sering dikatakan LPM yang tidak lagi menggigit, LPM yang tidak lagi Kritis, LPM yang sudah tidak lagi mengawal mahasiswa, namun LPM Kertas tetap menunjukkan sikap dewasanya, dengan bersikap adil sejak dalam pikiran juga perbuatan.

Saya tidak ingin mengajak kalian. Tabe, bukan ki Raja belah yang harus diajak. Jika kalian sadar dimana wadah untuk mengkritik kampus, maka lakukanlah dengan keyakinan dimana wadah yang patut kalian jadikan tempat untuk menuangkan kebebasan berpendapat kalian, atau gelarlah kegiatan yang dimana kritikan kalian bisa tersampaikan.

Akhir tulisan ini, saya menyarankan, bila salah satu Lembaga Kemahasiswaan suatu saat menggelar kegiatan seperti ini, dan menghadirkan pihak Kampus dan Pihak Mahasiswa, kemudian kalian tidak sempat menghadiri kegiatan tersebut. Maka titiplah pesan, kepada siapa saja yang hadir di kegiatan tersebut, agar pesan kalian bisa membuat dialektika dalam kegiatan tersebut, dan barangkali bisa menjadi solusi.

Tutup saya, Akhiri sikap keren kalian!

Penulis : Efrat Syafaat Siregar 

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here