BEM: Lembaga Pemersatu Dan Gerakan Kolektif Mahasiswa

0
524
Ilustrasi

“Di setiap Perguruan Tinggi terdapat satu organisasi kemahasiswaan intra Perguruan Tinggi yang menaungi semua aktivitas kemahasiswaan,” kata keputusan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud) Nomor 155/U/1998 tentang pedoman umum organisasi kemahasiswaan di Perguruan Tinggi, pada BAB II (dua) pasal 3.

Keputusan Menteri ini sesungguhnya harus kita apresiasi, bukan malah alergi dan tidak mengindahkannya. Perlu adanya wahana dan sarana pengembangan diri mahasiswa untuk menanamkan sikap ilmiah, menjadi pionir pergerakan mahasiswa secara kolektif, dan menumbuhkan rasa persatuan dan kesatuan di perguruan tinggi atau kampus tersebut. Sebagai mahasiswa yang katanya pemuda intelektual, mampu membedakan mana yang baik dan buruk, pluralis, dan lain sebagainya yang penting menunjukkan kemapanan hidup harus mampu menciptakan kebersamaan bukan malah melanggengkan budaya yang mengkotak-kotakkannya.

Apakah budaya yang mengkotak-kotakkan para mahasiswa atau mahasiswa itu sendiri yang membuat budaya untuk mengalienasi kelompoknya sendiri dan membangun benteng pemisah di luar kelompoknya. Sementara untuk melaksanakan peran tulus mahasiswa sebagai agent of change, social of control, moral of force harus dilakukan secara bersama. Sejak era kebangkitan nasional 1908, sumpah pemuda 1928, dan proklamasi kemerdekaan 1945 adalah kerja kolektif oleh pemuda intelektual Bangsa ini.

Tahun 1966, mahasiswa membentuk Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia yang disingkat KAMI. Berjuang untuk memelopori perubahan nasional, mencetuskan Tritura (tiga tuntutan rakyat) yang semangat juangnya masih terngiang di telinga para aktivis mahasiswa. Pada akhirnya kerja kolektif mahasiswa berhasil menumbangkan rezim orde lama.

Semakin yakin dengan peran strategisnya sebagai pengontrol arah gerak bangsa ini, kisaran tahun 1974 mahasiswa menemukan gerakannya secara formal dengan dibentuknya Dewan Mahasiswa (Dema) ditiap kampus-kampus yang ada. Dema ini merupakan manifestasi dari kesungguhan idealisme dan karakter kritis para mahasiswa saat itu. Terbukti pada peristiwa Malapetaka 15 Januari (Malari) tahun 1974, meski gerakan mahasiswa gagal untuk membawa sebuah perubahan ekonomi yang tergantung dengan modal asing, melalui Dema telah mampu mengguncang stabilitas politik nasional.

Karena gerakan Dema semakin menggeliat dalam melakukan fungsi kontrolnya, tanggal 19 April 1978, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Daoed Joesoef mengeluarkan SK Menteri No. 0156/U/1978 yang berisi tentang Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) dan Pangkopkamtib Benny Moerdani mengeluarkan SK no. SKEP 02/KOPKAM/1978 mengenai pembekuan Dewan Mahasiswa diseluruh Indonesia. Praktis surat keputusan ini mengebiri pergerakan mahasiswa. SK kedua oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (mendikbud) lagi dikeluarkan yang berisi bentuk susunan lembaga kemahasiswaan disetiap perguruan tinggi dengan nomor 037/U/1979. Kebijakan ini dikenal dengan nama kebijakan NKK dan BKK (Badan Koordinasi Kemahasiswaan). Kebijakan ini melegalitaskan pembungkaman gerakan mahasiswa. Ditengah kontrol penguasa, para mahasiswa tetap melakukan kegiatan intelektual seperti kajian, diskusi, dan kaderisasi sehingga daya krtitis mahasiswa tetap terwariskan.

Kebangkitan gerakan mahasiswa kembali setelah Mendikbud, Fuad Hasan mengeluarkan SK No. 0457/U/1990 yang dengannya melahirkan lembaga kemahasiswaan SMPT (Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi). Maka lahirlah senat tingkat Universitas maupun Fakultas. Tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, gerakan Mahasiswa kembali beraliansi dan puncak keberhasilannya menumbangkan, rezim otoriter, rezim Orde baru ditahun 1998 yang kemudian dikenal sebagai gerakan reformasi.

Pasca gerakan reformasi, fase 1998/1999 mengemuka lembaga kemahasiswaan yang dikenal dengan istilah Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) yang notabene dipelopori oleh Universitas Indonesia. BEM merupakan bentuk dari modernisasi lembaga kemahasiswaan untuk disesuaikan dengan konteks ketatanegaraan modern. Dalam konteks trias politika (eksekutif, legislatif dan yudikatif), maka BEM sebagai lembaga eksekutif di kampus dan mejalankan fungsi pelaksaan dan menjalankan pemerintahan berdasarkan aturan yang ada. Bem merupakan lembaga gerakan kolektif yang ada di perguruan tinggi.

Pergerakan kemahasiswaan sejak dulu dilakukan secara bersama dalam bentuk aliansi. Sejarah pergerakan ini sejatinya kita jadikan anutan dalam konteks kemahasiswaan saat ini. Pergerakan mahasiswa sejatinya menjadi contoh bahwa dengan semangat pergerakan yang dilakukan secara kolektif maka peran mahasiswa sebagai agent of change, social control, moral of force itu terlaksakan. Jika mereka secara bersama melakukan perlawanan untuk menumbangkan rezim pembungkam kenapa kita yang saat ini lantas menodai pergerakan mereka dengan melakukan pengkotak-kotakan di kampus sendiri. Senat Mahasiswa Fakultas Teknik (SMFT) Unifa dan Senat Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan ilmu-ilmu Sosial (FEIS) seharusnya secara bersama membentuk satu lembaga kemahasiswaan tingkat Universitas. Kedua Senat Mahasiswa harus melunturkan sikap arogansi dan gengsi sehingga dengan semangat kolektif melahirkan kembali lembaga kemahasiswaan tingkat Universitas itu. Jika dulu di Unifa ada BEM kenapa harus dihilangkan? Jika dulu kedua fakultas pernah bersatu dalam satu payung lembaga kemahasiswaan, kenapa mencoba dilupakan? Apakah ketakbersamaan dan ketakbersatuan keduanya akan terus dilanggengkan?

Kaderisasi setingkat Universitas harus terus berjalan dan lembaga kemahasiswaan yang bisa menjadi payung seluruh mahasiswa yang ada di Unifa segera diwujudkan, sehingga tatanan idealitas lembaga kemahasiswaan di Unifa tercapai. Idealitas yang dimaksudkan adalah tidak adanya pengkotak-kotakan fakultas atau jurusan. Unifa memiliki wadah pemersatu.

Dalam menciptakan lembaga pemersatu ini juga diperlukan peran birokrasi yang membidangi bidang kemahasiswaan sebagai mediator. Bukan malah larut dan mengatakan tidak masalah dengan keadaan seperti ini, seperti dalam wawancara khusus ditabloid Kertas edisi sembilan lalu.

Bukan pertanyaan “pentingkah untuk Membentuk BEM di Universitas Fajar?” yang menjadi permasalahan, tetapi “maukah untuk membentuk BEM di Universitas Fajar?” adalah pertanyaan yang harus direnungkan oleh bidang kemahasiswaan, dan lembaga-lembaga kemahasiswaan yang ada di Unifa.

Penulis       : Arief Bobhil Paliling (Mahasiswa Unifa Angkatan 2013)
Editor         : Andi Nur Isman Sofyan
Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here