Jesicca, Harusnya Membunuh Munir

0
359
Jesicca Kumala Wongso. (Tribun Jateng)
Jesicca Kumala Wongso. (Tribun Jateng)
Jesicca Kumala Wongso. (Tribun Jateng)

Babak akhir persidangan kasus kopi sianida yang melibatkan Jessica Kumala Wongso dan Mirna Salihin akhirnya tiba di ujung laga. Kurang lebih 32 episode harus dihabiskan oleh kasus ini. Sementara di sisi lain, sepak bola liga kopi bangsa ini ikut memanas, akibat kepemimpinan wasit di lapangan. Entahlah, menuju akhir kopi malah semakin pahit. Seolah tak bersahabat kepada hukum dan olahraga, mungkin kopi memang cuma tepat bersanding dengan sastrawan ataupun pekerja seni lainnya.

Tiga puluh dua episode yang membuat sebagian masyarakat menjadi sedikit melek tentang hukum, atau paling tidak masyarakat disuguhi nama-nama baru yang ternyata bangsa ini banyak memiliki ahli. Beberapa saksi ahli (expert) menunjukkan kelasnya di persidangan, masyarakat seolah mengikuti kuliah umum melalui layar kaca. Atau paling tidak, ada nama tenar yang muncul dari kasus ini, yang ternyata bangsa ini tidak hanya punya pengacara sekelas Hotman Paris dan Ruhut Sitompul saja, ada nama baru yang mencuri perhatian masyarakat yang akan meramaikan kanca Advokat di bangsa ini, tentu nama Otto Hasibuan adalah pendatang baru yang berhak menerima award saat ini. Atau pemeran figuran yang muncul di akhir laga, yang menjadikan masyarakat semakin bertanya-tanya dan menganalisa siapa pelaku pembunuhan sebenarnya. Amir bak pahlawan yang datang di ujung persidangan dan membawa opini baru, yang tentu semakin membuat kasus ini makin seru. Yah, tak jauh beda dengan sinetron, semakin mendekati akhir, dramanya semakin melibatkan penonton untuk menilai dan terlibat.

Ketiga hakim sepakat menjatuhkan vonis kpeada Jessica dengan masa kurungan 20 tahun penjara. Tepat seperti apa yang dituntutkan oleh jaksa penuntut umum dalam kasus ini. Entahlah, ini kebetulan atau memang sudah sedemikian adanya. Tapi, terlepas dari itu semua, keganjilan-keganjilan dalam persidangan masih sangat banyak. Pertanyaan tentang apakah ada yang melihat Jessica menurunkan sianida ke kopi Mirna, atau kenapa otopsi tidak di lakukan saja agar segala bentuk keterangan ahli bisa dibuktikan. Segelintir naskah pertanyaan tersebut nyatanya tak pernah terselesaikan, bahkan terkesan tak perlu ada. Apapun itu keputusan hakim sudah ditetapkan, seolah sinetron yang memiliki rating yang sangat tinggi, banding yang diajukan pihak Jessica akan menjadi episode terbaru dari kelanjutan kasus ini.

Jauh berbeda dengan kasus yang juga melibatkan racun di dalam perkaranya. Kasus Aktivis Munir yang sampai saat ini tak kunjung menemui pelaku utamanya. Sampai pada saat Hakim membacakan putusannya kepada Jessica, mulai detik itu juga kekaguman kita akan keberanian hakim mulai dipertanyakan. Bermodalkan dalil bahwa hanya Jessica yang paling berpeluang menurunkan sianida dalam kopi Mirna, hakim begitu lantang menjatuhkan vonis dua puluh tahun. Selamat datang di Indonesia, negara yang penuh dengan hukum namun dalam putusannya berasaskan opini semata. Loh, kan masih berpeluang pak hakim? Lah, di kasus munir semua yang di pesawat itu berpeluang, lantas?

Sungguh apa yang terjadi pada penegak hukum di negara ini. Tak ada bukti kuat mengenai proses pembunuhan, tak ada prosedur otopsi namun semua bisa diputuskan walau harus menghabiskan tiga puluh dua episode, sungguh berbanding jauh denganmu Munir. Kepedulian untuk mencari pelakumu bangsa ini terlalu sibuk dengan berbagai urusannya, tak ada waktu yang tepat membahas kematianmu sepertinya. Di waktu yang berbeda bahkan, mantan presiden, bapak Beye mengatakan bahwa dokumen asli team pencari fakta atas kasus Munir memang hilang, ya hilang atau mungkin memang dihilangkan, entahlah. Jessica mungkin tak seberuntung pembunuh Munir, yang bebas berkeliaran tanpa harus melalui persidangan yang sedemikian panjang, tanpa harus repot-repot mendatangkan saksi ahli, tanpa harus menghamburkan uang membayar pengacara kondang, dan tanpa takut kasusnya akan diusut.

Dear Jessica: dari kasus ini kami paham, bahwa seyogyanya Hakim di dunia bukanlah pengganti Tuhan. Terimakasih, dari kasus ini pula beberapa masyarakat akhirnya sedikit mengingat Munir kembali walau tak ada kepedulian yang massiv. Teruslah banding sampai sang Hakim paham, bahwa hukum tak diputuskan melalui hati nurani, ini hukum bukan putusan tentang perasaan.

Penulis: Ilham Safar, SM.

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here