HUT RI dan KKN-E : Harmoni Feis-Teknik dan SBY-Megawati

0
206
Ilustrasi (Sumber Foto : google.com)

“Secara khusus (kebetulan), tulisan ini saya persembahkan untuk Sekretaris Umum UKM Pers Unifa. Siti Suhartina A, sahabat sekaligus saudari perempuan saya, yang hari ini (18/08) merayakan ulang tahunnya. Semoga alam semesta berpihak padanya. Amin.”

Euphoria peringatan 72 tahun kemerdekaan Indonesia seperti tak akan ada habisnya. Berita-berita yang berlalu-lalang di beranda fesbuk saya pun didominasi oleh seremoni serupa di seantero negeri ini. Meme, portal berita, akun pribadi, hingga akun official milik rumah produksi film sekelas Walt Disney (lewat video durasi pendek dari sekuel terbaru Cars) memuat konten bertema HUT RI -Yah wajarlah Disney bikin begituan, masyarakat kita kan paling gampang T E R P Y C U. Coba itu bule gembel suruh datang di Indonesia jual cimol 2 bulan saja,yang penting bisa bilang “theerriimah kasiii”  kaya pasti dia.

Mhm. Diantara viralnya momen 17an, setelah membaca Tirto.id, saya jadi tertarik pada bingkai keharmonisan (meski mungkin hanya sesaat) yang terjadi bertepatan dengan perayaan HUT RI tahun ini. Kuliah Kerja Nyata Entrepreneur (KKN-E) yang begitu menyenangkan, dan bertemunya dua tokoh politik fenomenal bangsa ini.

Ok, langsung saja..

Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Megawati Soekarno Putri. Keduanya hadir dalam peringatan detik-deik proklamasi di Istana Merdeka. Unbelipebel! Bertahun-tahun marahan, akhirnya mereka baikan. Tak sampai disitu, mereka berdua berbagi senyum kearah kamera yang sama yang membingkai keharmonisannya.

Momen langka itu seketika viral. Seperti yang kita ketahui bersama, bebrapa tahun lalu (pada rezim SBY) Megawati lebih memilih menyiram bunga-bunga di rumahnya ketimbang hadir di istana saat 17an. Foto yang beredar di media, selain SBY dan Megawati, ada Presiden ke-3 Indonesia BJ Habibie, wakil Presiden RI Jusuf Kalla, dan Presiden RI (yang sengaja di sebut terakhir) tak lain adalah (jreng jreeeng) Joko Widodo! buuu!

Nyaris senada dan seirama dengan harmoni SBY-Megawati di media-media nasional. Tanpa sadar, media online milik UKM Pers Unifa (halah, pencitraan!) kertasonline.com menyiarkan keharmonisan dua kubu yang selama ini juga diketahui terlibat perang dingin. Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Ilmu-Ilmu Sosial (FEIS) dan mahasiswa Fakultas Teknik (FT).

Ya, perang dingin. Kawanku, jangan halangi imajinasimu jika membayangkan situasi perang dingin antara Amerika dan Unisoviet (Rusia). Karena memang seperti itulah adanya.

Unifa bisa diibaratkan sebagai bumi. Dalam konteks lembaga kemahasiswaan, bumi Unifa diperebutkan oleh FEIS dan Teknik (rektorat sebagai PBB & yayasan mungkin sebagai Tuhan). Sekedar informasi bagi yang belum tahu,  di Unifa sendiri hanya memiliki dua fakultas. Beberapa tahun terakhir dua kutub itu berusaha saling mendominasi. Entah itu hanya sekadar eksistensi atau bahkan mungkin kekuasaan. Entahlah. Apalah diriku ini hanya junior korban doktrin asal-asalan senior.

SBY dan Megawati (Indonesia), FEIS dan Teknik (Unifa). Mereka memiliki kesamaan. Memperbutkan  (beberapa) hal yang sama, sempat menciptakan sentimen yang sama, dan memperingati momen yang sama; Hari Kemerdekaan Indonesia ke 72 tahun. Asik!

Ah, kembali ke pemberitaan kertasonline.com. Tertanggal 17 Agustus, berita berjudul “Mahasiswa KKN Unifa Ikuti Upacara Bendera di Masing-Masing Kecamatan” membikin saya tersentak dan akhirnya menuliskan cocoklogi kelas teri namun sarat penyadaran ini.

Kuliah Kerja Nyata (KKN) skala Universitas memang baru tiga kali diselenggarakan oleh kampus. Tahun-tahun sebelumnya hanya Fakultas Teknik yang menjalankan kegiatan yang (katanya) berorientasi pengabdian kepada masyarakat itu. Momen KKN Universitas yang bertepatan dengan perayaan HUT RI pun sudah jadi yang kedua kali bagi Unifa. Akan tetapi tahun ini lebih spesial menurut saya. Kenapa? Karena tahun lalu tak ada kemesraan SBY-Megawati di Istana Merdeka. Hanya ada FEIS-Teknik di Kabupaten Gowa.

Dan juga cocoklogi ini terinspirasi dari kedua ketua umum partai politik tersebut. tapi Tenang saja wacana saya bukan untuk mereka berdua. Melainkan untuk kepentingan kemanusiaan (takebeer!).

Data yang disajikan kertasonline.com, ada 323 mahasiswa yang mengikuti upacara 17an. Bagi saya, itu  F A N T A S T I S! sangat berfaedah betul KKN ini, menurut saya. Kita patut berterimakasih pada birokrasi kampus karena telah berbaik hati menyelenggarakan kegiatan (yang cukup menguras kantong) ini. “Makasih bapak-bapak dan ibu-ibu birokrasi (uummmuaacch)”.

Harus pula kita akui bahwa KKN berperan penting dalam menyatukan hubungan mahasiswa kedua fakultas yang cenderung renggang. Saat beberapa kali berkunjung -iya hanya berkunjung, sepertinya saya hanya akan terus jadi pengunjung posko KKN- yang saya dapati ialah kehangatan keluarga kecil yang terjalin seperti tak ada yang namanya latar belakang disiplin ilmu apalagi fakultas.

Pemilihan waktu KKN juga tepat. Berkenaan dengan HUT RI. Saya jadi membayangkan bagaimana momen  17an makin mempererat hubungan mereka. Mulai dengan berpartisipasi dalam lomba-lomba khas 17an seperti; panjat pisang di pohon pinang, makan parang, tarik kelabang (balipang), dan lomba lari dari kenyataan(g). Atau paling tidak bernostalgia dengan kenangan masa kecil masing-masing ketika momen seperti itu tiba. Menyenangkan, semua tersenyum. Harmoni tercipta, damai dimana-mana.

Setiap tahun akan ada ratusan mahasiswa dari kedua fakultas yang akan meretas sentimen yang tak ada gunanya itu. Secara berkala dogma sesat yang selama ini memecah kedua fakultas akan sirna. Karena kmpus Unifa yang begitu sempit tak cocok untuk jadi medan pertempuran. Tapi, sangat pas jika dijadikan wahana intelektual yang menjunjung tinggi perdamaian. Karena lawan mahasiswa sebenarya adalah ketidakadilan dari kebijakan birokrasi.

Kawan seangkatan saya, sebut saja Aswar (Manajemen), bersabda “nda tau semester tiga atau empat itu. Mulai ka’ berpikir untuk membuka diri. Harusnya nda boleh ki’ menilai (jurusan) yang lain hanya dari perspektif orang tertentu. Kalau mau ki’ tau seperti apa, harus ki’ mau bergaul dengan dia.” Yap, saya sepakat dengan bangke yang satu ini. Persoalan masa lalu segelintir orang tidak boleh jadi dosa turunan untuk generasi penerus yang bahkan tidak ada hubungannya sama sekali. Apalagi itu adalah bibit kebencian. Haram!

Beberapa diantara kita jadi saksi bagaimana peta politik pilpres 2004 memecah belah bangsa. Itu bahkan berlanjut hingga pilpres selanjutnya di 2009. Bagaimana perebutan kekuasaan antara SBY dan Megawati memicu sentiment berkepanjangan.

Juga beberapa diantara kita jadi saksi bagaimana kakunya hubungan kedua fakultas di Unifa beberapa tahun yang lalu. Betapa awkwardnya bertemu kawan seangkatan yang sebelumnya maha asyik tapi berubah seketika akibat doktrin sesat.

Dalam nuansa 72 tahun kemerdekaan Indonesia, dengan semua persoalan SARA, dan segala isu pemecah bangsa. Sepertinya pekerjaan rumah kita selanjutnya adalah mengamalkan sila ketiga Pancasila “persatuan Indonesia”. Ini saya serasa pidato ala Jokowi.

Ya sudah. Closing statement saya, jika suatu saat hal yang tak diinginkan terjadi, misal, SBY-Megawati kembali marahan, dan FEIS-Teknik juga terus-terusan perang dingin. Saran saya SBY-Megawati ikutkan KKN-E Unifa di daerah -kasih satu posko mereka- di desa terpencil -biar SBY tidak bisa ngetwit. Dan FEIS-Teknik undang mereka ke Istana Merdeka. “eh bikin apa di Istana Merdeka? Upacara?” ya tidaklah! Kita disana KKN. Biar kita cat semua tembok istana jadi warna biru kuning! Biar semua tahu Istana Merdeka diambil alih anak Unifa! Biar puass! Wuahahah. Bye!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here