Hirarki yang Membelenggu

0
485
Ilustrasi (Sumber Foto : google.com)

MAKASSAR, KERTASONLINE.COM – Pertama saya ingin sedikit menyampaikan bahwa dalam tulisan ini mungkin akan sedikit menyentil kawan-kawan yang berada dalam struktrualis.

Karna sampai hari ini saya belum mendapatkan pembenaran yang begitu kompleks tentang sebuah struktur hirarkis,  dimana struktur yang demikian dapat menawarkan  solusi terhadap sebuah pola hubungan  tanpa saling menciderai otonomi setiap individu.

Dalam kenyataan pola hubungan sosial yang selalu di jumpai, entah itu di lingkup keluarga, pemerintahan setempat, ataupun di mana tempat biasanya saya menghabiskan waktu yaitu dalam lingkup kampus.

Pola hubungan yang hirarkis begitu sangat kontras , suatu pola yang sudah sedemikian mengakar dalam kehidupan masyarakat umum  maupun kehidupan bermahasiswa, entah hal demikian disadari ataupun tidak, namun menurut sudut pandang yang saya gunakan, hal tersebut menciptakan pola yang tak begitu nyaman dengan alasan otoritas tersentral yang mendominasi maupun otonomi yang terus menuntut kebebasan.

Otoritas tersentral yang dimaksud adalah sebuah penguasaan terhadap orang lain atau lebih tepatnya otoritas tidak terbagi yang hanya terpusat kepada segelintir orang saja yang mendominasi otoritas lainnya.

Struktur hirarkis sepertinya memberikan dampak yang signifikan dalam setiap sendi kehidupan salah satunya pada lingkungan kampus. Telah banyak kasus sederhana yang dapat di jumpai dalam ruang lingkup kampus, dimana mahasiswa pada umumnya menggunakan otoritasnya sebagai seorang senior dan memperlakukan seorang junior sebagai sebuah alat untuk memenuhi kemalasannya. Kemalasan yang dimaksud adalah sebuah kemalasan seorang senior tentang sesuatu yang dapat ia lakukan sendiri namun di limpahkan terhadap orang lain.

Hal tersebut tentulah di sadari seorang junior, namun entah dengan alasan apa ia selalu saja membenarkan otoritas seorang senior tehadap dirinya ,ataukah mungkin itu adalah hasil dari budaya hirarkis mahasiswa yang telah meng-hegemoni sejak sekian lama, namun hal ini tentulah tidak pernah mendapat pembenaran yang rasional untuk di terima, namun keadaan yang sedemikian rupa tak pernah pula ada hentinya meskipun sedikit banyak dari mereka menolak hal yang sedemikian meresahkan.

Realitas yang saya temui sampai hari ini seorang junior yang mulai beranjak menjadi seorang senior baru jusrtru melakukan hal  sama kepada juniornya, hal  kemarin yang ia tolak karna meresahkan, nyatanya justru kembali ia lakukan, entah karna alasan ketidak mampuannya untuk melawan hirarki ataupun hanya sekedar untuk membalas dendam sehingga terus menciptakan dosa turunan. Hal ini sudah sangatlah kompleks yang  terjerembab dalam kehidupan dominasi bermahasiswa yang tak dapat lagi di pungkiri.

Budaya mahasiswa hari ini jauh dari kata pembebasan, yang ada justru perbudakan yang selalu di paksakan secara sadar maupun tidak sadar. Mereka yang selalu bicara masalah kebebasan dan demokrasi nyatanya hanya omong kosong belaka, saat mereka di benturkan dengan realitas kehidupan kampus malah menciderai wacana yang selalu ia gembor-gemborkan.

Bicara masalah kebebasan tentulah setiap individu menginginkan hal tersebut, namun ini hanya sebuah keinginan semu karna dalam implikasinya, yang ada hanya mempertontonkan aksi perbudakan yang begitu halus.

Begitu pula dengan wacana demokrasi, entah ia paham atau tidak namun hal tersebut hanya sekadar wacana atau hanya sebagai alibi untuk mempertontonkan kehebatannya sebagai seorang senior yang berwawasan tinggi, namun lagi-lagi dalam pembuktiannya hal tersebut tidaklah pernah betul-betul diterapkan yang ada hanya kekuasaan otoritas yang tersentral.

Mungkin teman-teman yang membaca tulisan ini akan begitu muak dengan kehidupan mahasiswa ataupun muak dengan tulisan yang sedang anda baca, namun saya punya alasan untuk setiap kritikan yang saya lontarkan.

Hal pertama yang perlu saya sampaikan, bahwa dalam kehidupan bermahasiswa tentulah hal yang sangat kita inginkan adalah kebebasan, entah itu dalam kebebasan berpendapat maupun kebebasan dalam bertindak, namun dalam kebebasan ini perlulah berhati-hati  memaknainya, jangan sampai kebebasan yang kita pahami hari ini adalah sebuah kebebasan yang saling menciderai antara individu satu dengan individu  lainnya.

Karena setiap individu menginginkan sebuah kebebasan maka dari itu,  sangat perlu untuk saling menjaga dan merawat kebebasan yang kita miliki maupun kebebasan individu lainnya, dengan cara menerapkan system demokrasi langsung yang tidak tersentral bukannya pengambilan keputusan yang secara sepihak, dengan alasan legitimasi kekuasaan yang menimbulkan sikap otoritas yang terpusat hanya kepada satu indivudu saja .

Kedua sikap saling menghargai antara senior dan junior tentulah itu perlu dalam relasi sosial yang sehat, namun itu hanya sebatas hubungan saling menghormati dalam sudut pandang usia bukan pada status yang diduduki, lebih dari pada itu semua individu memiliki hak yang sama tanpa ada yang berkuasa dan yang di kuasai, karna hal tersebut akan menciptakan relasi yang tidak sehat di mana akan ada individu yang mengusai individu yang lain, di mana hal ini akan terus menciptakan rentetan perbudakan yang tiada hentinya dalam ruang lingkup mahasiswa.

Budaya eligaliterian saya rasa tepat untuk menjawab permasalahan yang ada dalam setiap ruang lingkup kampus yang hirarkis, budaya eligaliterian yang di maksud ialah budaya yang di mana setiap individu sadar dan paham bahwa pada dasarnya setiap manusia memiliki kedudukan dan hak yang sama dengan individu lainnya tanpa memandang status, kedudukan, usia,  dan latar belakang lainnya.

Semoga saja tulisan ini dapat di mengerti, tidak hanya tebentur pada sebuah kertas yang akan di jadikan pajangan atau lebih parahnya berahir di tempat sampah.

Penulis : Raihan Muh Iqbal

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here