Dari Peristiwa YLBHI Sampai Mengukur Nasionalisme PKI

0
302

Mendekati tanggal di mana terjadinya perstiwa yang menentukan masa depan Indonesia menjadi begitu hingar bingar. Ketakutan akan bangkitnya Komunisme dibeberapa kalangan- antek-antek orde baru – terasa bising di Negara ini.

Penyerangan Kantor YLBHI (Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia) tatkala akan menyelenggarakan seminar penerangan sejarah peristiwa 1965/1966 menjadi alasan mendasar untuk mendebatkan kembali peristiwa yang sukar menemui titik temu ini.

Ada hal yang harusnya menjadi penting bagi Pemerintah – kalau Pemerintah itu peduli dan sadar – jika teman-teman (walaupun tidak mengenal saya) yang ada di YLBHI ingin membantu memberi kebenaran yang objektif terhadap peristiwa 65 itu. Mafhum selama ini bagi warga Indonesia yang lahir pada masa orde baru sampai saat ini menjadi korban keberpihakan sejarah. Sepertinya harus diakui bahwa yang dipelajari di sekolah-sekolah adalah hasil rekonstruksi sejarah dari orde baru.

Untuk itu kita sebagai korban mestinya menyukseskan acara di YLBHI bukan malah menyabotasenya – buat yang ikut mengganggu kelancaran seminar itu, mungkin anda kurang belaian.

Kekacauan di YLBHI yang dilakukan oleh Organisasi Anti Komunis – yang terlibat dalam aksi pengacauan Kantor YLBHI diantaranya, GARIS, FPI, dan FKPPI – adalah momentum untuk kembali membangun trauma kepada warga Indonesia atas Komunisme dan PKI (Partai Komunisme Indonesia).

Namun sebelum menjalankan aksi, mereka (red-aliansi anti komunis) melakukan rapat di Markas Besar Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Islam Indonesia. Ormas yang hadir yakni: Pelajar Islam Indonesia (PII), Gerakan Pemuda Ka’bah (GPK), Pemuda Bulan Bintang, dan Gerakan Merah Putih (GMP) – setelah peristiwa ini untuk para kader Ormas tersebut disarankan lebih selektif dalam memilih organisasi, karena mereka yang main mobile legend saja lebih selektif memilih hero-nya.

Terlebih lagi sangat menyedihkan ketika Panglima TNI Jedral Gatot Nurmantyo berkomentar mengenai tanggapannya perihal kebenaran film penghianatan G30S/PKI, dengan kalimat eksentrik, “emang gue pikirin?”.

Secara tersirat, Panglima mengungkapkan keragu-raguan mengenai akurasi sejarah film itu. Memang film itu sangat kontroversial, bagaimana tidak, naskah film diadaptasi dari buku Nugroho Notosusanto (Mentri Pendidikan dan Kebudayaan 1983-1985) dan Ismail Saleh (Jaksa Agung 1981-1984), yang notabene kedua orang ini adalah bagian dari Pemerintahan orde baru.

Sudah banyak sejarawan yang mengungkapkan bahwa film itu hanya propaganda untuk melanggengkan kekuasaan Soeharto, karena diyakini bahwa Komunis merupakan ancaman terbesar bagi orde baru.

Kurang Nasionaliskah PKI mesti menjadikannya sebuah ancaman Bangsa? Tentu kita juga harus berterima kasih kepada PKI karena turut berperan besar dalam melawan kolonial.

Terngiang ingatan saat Njoto (salah satu Pimpinan PKI) berpidato dikonferensi Nasional Lekra (Organisasi Kesenian yang berafiliasi dengan PKI) di Bali pada Februari 1962, menjelaskan jika semangat Lembaga Kesenian ini adalah anti imperialisme dan anti feodalisme.

Lalu dalam kuliah umum di Universitas Kesenian Rakyat yang dibawakan oleh Njoto membicarakan soal posisi kebudayaan Nasional yang saat itu tengah dipengaruhi oleh budaya barat dengan berpedoman pada UUD 1945 dan Pancasila.

Kemudian, bukti lain betapa Nasionalisnya PKI adalah sebagai organisasi pertama yang menggunakan nama “Indonesia” sebagai nama organisasinya – Mei Tahun 1920 Partai Komunis Hindia berubah nama menjadi Partai Komunis Indonesia.

Jika pernyataan diatas belum menjawab kenasionalisannya PKI maka sepatutnya saya mengutipkan pernyatan Bung Sjahrir (mantan Perdana Mentri Indonesia yang pertama) pernah berkelakar, “kalau Komunis dibelah dadanya itu Nasionalis”.

Janin-janin kebencian terus dilahirkan, walaupun dengan agak memaksa karena bagaimana pun ideologi itu akan tetap hidup dengan hanya segelintir orang. Memenjarakan ideologi sama dengan melanggar hak seseorang, dan tentunya tindakan yang dilakukan Organisasi Anti Komunis itu adalah pelanggaran HAM.

Kekhawatiran yang muncul dari peristiwa ini adanya upaya untuk melegetimiasi ketakutan terhadap Komunis dan Komunisme. Generasi yang lahir pasca orde baru itu akan diselimuti ketakutan-ketakutan sejarah komunis yang ditandai oleh PKI dan membencinya.

Festivalist melalui lirikdalam Hal-hal Ini Terjadi yang menggambarkan situasi sekarang mengatakan, “semakin kau membenci semakin kau diakui, semakin kau mencintai semakin kau dijauhi, kau terlahir di masa maha benci”. Lalu bagaimana komentar Soekarno terhadap Komunis? Bung Karno pernah mengatakan begini, “saya cinta kepada Nasionalis tapi Nasionalis yang revolusiner, saya cinta kepada kaum agama tapi kaum agama yang revolusioner, saya cinta kepada Komunis karena Komunis adalah revolusioner”.

Sudahilah gap-gap ini, segera rekonsiliasi, tapi rekonsiliasi lahir jika berani refleksi diri untuk mengakui kesalahan. Toh, PKI juga pernah bekerja sama dengan TNI.

Indikasinya terlihat saat Aidit diundang untuk berceramah di hadapan Perwira dan siswa Sekolah Staf Angkatan Udara (Seskoau) tanggal 17 Maret 1964.

Lalu TNI juga turut mengampanyekan Manipol dan berupaya mewujudkan Nasakom (Nasionalis-Agama-Komunis) walaupun agak terpaksa karena tidak mau berkonfrontasi dengan Soekarno. ini juga satu fase menunjukkan jiwa Nasionalisme  PKI.

Elok rasanya jika pro-kontra ini dihentikan dan membuka diri menerima masa lalu. Sejarah perlu diluruskan dan dipastikan kebenarannya agar tidak memenjarah zaman.Dukungan terhadap teman-teman di YLBHI penting dilakukan asal jangan menjadi berlebihan, karena jika berlebihan apa bedanya kita dengan mereka yang secara berlebihan mendukung pergerakan anti Komunis dengan demonstrasi besar-besaran. Apakah selalu yang tak setuju harus berbeda kubu dan yang tidak sepaham selamanya berhantaman?

Penulis : Arief Bobhil, mahasiswa ilmu komunikasi

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here