Wiji Thukul: Dari Seni Hingga Politik Praktis

0
867

“menulis puisi itu tak beda dengan beribadah di gereja, ada pengalaman religius,” kata Wiji Thukul suatu ketika. Mafhum sejak remaja dia adalah anak yang aktif dalam kegiatan gereja. Menjelang natal saat itu, anak-anak di kapel mempersiapkan pementasan teater bertemakan kelahiran Kristus. Dari seorang pemain teater, Thukul diperkenalkan kepada Cempe Lawu Warta, pendiri dan pengajar teater Jagat (Jejibahan Agawe Genepe Akal Tumindak). Thukul bergabung dengan teater itu pada 1981, setahun berselang, menjadi pelajar di kelas II Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI), solo, jurusan tari, dia memutuskan berhenti sekolah dan memilih aktif di jagat.wiji-thukul-aplot-56750304ba22bd52202ddd9b

Rumah bercat putih bernomor 5 itu terletak di sudut perempatan jalan kampung Jagalan tengah, kelurahan Jagalan, Jebres, Solo. Di sinilah Wiji Thukul dibentuk menjadi seorang seniman hebat. Melihat bakatnya yang suka membaca dan menulis, Lawu, sapaan gurunya, menuntun Jikul- panggilan Wiji Thukul oleh Lawu- menjadi penyair. Sempat bersekolah di jurusan tari, Jikul tak elok untuk berteater dan menari. Tubuh yang kurus dan tidak bisa melafalkan huruf “r” membuat orang semakin yakin dia orang yang pelo.”kepeloan” ini direduksi oleh Lawu dengan berlatih vokal dan mengajaknya mengamen dengan membaca sajak keliling Solo.

Thukul sangat produktif mencipta puisi di Teater Jagat. Maklum sang guru adalah murid W.S. Rendra di Bengkel Sastra. Tradisi pemberian nama paraban oleh sang guru untuk murid juga dilakukan Lawu di Teater Jagat. Nama Lawu Warta sendiri adalah penabalan dari Rendra. Dari situ Cempe Lawu Warta menabalkan nama Thukul. Wiji Widodo adalah nama aslinya, oleh Lawu, nama Widodo itulah yang diganti dengan Thukul. Biji tumbuh arti Wiji Thukul.

Tahun 1985 Thukul mengikuti program jurusan seni Topeng di Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI), sekarang ISI Surakarta, selama setahun. Puisi dan Thukul semakin tak terpisahkan, baginya menulis puisi adalah doa dan pengalaman religius. Di tahun yang sama Thukul menerbitkan sebuah kumpulan puisi bertajuk puisi pelo, sekira 20 halaman, dan dicetak secara stensilan sebanyak 100 eksemplar oleh Pusat Kesenian Jawa Tengah (PKJT), sekarang Taman Budaya Jawa Tengah di Surakarta (TBS).

Mulai akrab dengan Halim H.D., aktivis kebudayaan alumni Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Thukul mebangun jaringan disesama seniman dan ngamen puisi keliling Jawa di bantu oleh Halim. Eksistensinya makin berserekan dikalangan seniman dan memiliki publik sendiri. Oktober 1988 ia menikahi Siti Dyah Sujirah alias Sipon-begitu sapaan akrabnya. Bersamanya dan Halim, mereka bertiga mendirikan Sanggar Suka Banjir di rumah Halim. Thukul dan Sipon menumpang di rumah Halim saat itu.

Ada kebiasaan nyeleneh dari Thukul, semenjak dia bergabung di Teater Jagat, dia sering mengonsumsi mushroom atau jamur tlethong, jamur yang tumbuh di kotoran sapi. Suatu ketika Thukul sementara memakan nasi goreng buatannya yang dicampur dengan mushroom, tiba-tiba anak pertamanya- Fitri Nganti Wani, yang lahir di Solo tahun 1989- menghampirinya. Ia kaget, lari keluar rumah mengira yang mendekatinya adalah tuyul. Memang ketika mengonsumsi mushroom membuat orang beralusinasi berlebihan. Tuhukul memiliki dua orang anak, yang kedua bernama Fajar Merah, lahir tanggal 22 desember 1993.

Tahun demi tahun pemerintahan orde baru makin represif. Membuat Thukul dan kawan-kawan geram. Akhirnya Thukul, Moelyono, Semsar Siahaan mewakili seniman, dan teman-teman aktivis di luar seniman diantaranya Daniel Indra Kusuma, Raharjo Waluyo Jati, Juli Eko Nugroho, dan Hilmar Farid, mengadakan pertemuan di rumah Thukul untuk membentuk lembaga kesenian. Pertemuan berlangsung alot. Akhirnya pertemuan ini menghasilkan kesepakatan, Jaringan Kesenian Rakyat (jaker) nama organisasi yang dibentuk. Beranggotakan, Moelyono, Semsar, Thukul, Hilmar, dan empat orang lainnya yang tergabung dalam Persatuan Rakyat Demokratik yang kemudian hari menjadi Partai Rakyat Demokratik (PRD), diantaranya Daniel, Yuli, Jati, dan Linda Christianty. Jaker terbentuk awal 1994 dan diketuai oleh Thukul.

Wiji thukul sering terlibat dalam beberapa aksi bersama PRD. 11 desember 1995 ia terlibat dalam demonstrasi yang dilakukan buruh PT Sri Rejeki Isman Textile (sriteks).  Thukul dikenal aktif dalam mengorganisasi para buruh, dan saat itu polisi mengincarnya karena dia dianggap provokator, dan otak dari aksi itu. Ketika polisi berhasil menangkap Thukul pada pagi itu, maka secara ganas polisi membenturkan sisi kanan wajah Thukul ke kap mobil aparat. Karena kejadian itu Thukul hampir mengalami kebutaan di mata kanannya.

Politik tanah air semakin bergejolak, dalam perjalanan membangun Jaker, sejumlah aktivis PRD khususnya yang juga tergabung di Jaker berupaya menarik Jaker menjadi organ partai. Moelyono, Semsar, Hilmar, dan hampir seluruh seniman Yogyakarta menolak Jaker masuk dunia politik. Tapi PRD berhasil mencungkil Thukul dan memasukkannya dalam kubangan politik praktis. Secara sepihak Thukul dan PRD menjadikan Jaker sebagai sayap Partai. Menjadi bagian PRD, terjadi peubahan nama pada Jaker, tidak lagi Jaringan Kesenian Rakyat, tapi Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat, walaupun akronim yang dipakai tetap Jaker, yang dikoordinatori Wiji Thukul.

Semsar, Moelyono, dan Hilmar memutuskan untuk tidak lagi terlibat dalam kegiatan Jaker, karena mereka tak setuju Jaker dibawa ke ranah politik. Cempe Lawu Warta juga kecewa dengan keputusan Wiji Thukul. Inilah jalannya menjadikan seni sebagai alat perjuangan. Pada Deklarasi PRD di Yayasan Lemabaga Bantuan Hukum, 22 juli 1996, dengan suara lantang dan menantang dia membacakan puisinya. Peringatan.

Puisi “peringatan” dilahirkannya tahun 1986, baris akhir puisinya “maka hanya ada satu kata: lawan!” yang menjadi kekhasannya. Namun larik itu bukan murni ide Thukul. Ide itu didasari dari puisi Pardi- temannya di Teater Jagat- “sumpah bambu runcing” judulnya. Larik akhirnya “pada kita masih ada satu kata: lawan!”. Tidak hanya itu karya pardi yang menginspirasi Wiji Thukul adalah sajaknya “mencari tanah lapang”. Oleh Thukul, mencari tanah lapang ini menjadi judul sebuah buku kumpulan puisi yang dikarangnya dan diterbitkan oleh Manus Amci tahun 1994 setebal 45 halaman. Memang Pardi dan Thukul sangat dekat ketika di Teater jagat dan sering berdiskusi bersama, maka wajar mereka saling mempengaruhi dalam berkarya.

Lima hari setelah deklarasi, 27 juli 1996 pecah kerusuhan di kantor pusat Partai Demokrasi Indonesia (PDI), di jalan Diponegoro 58, jakarta pusat. Kerusuhan ini terjadi akibat massa pendukung ketua umum PDI versi kongres medan, Soerjadi, bersama kepolisian dan TNI mengambil alih secara paksa kantor pusat PDI. Bentrokan terjadi kala itu, aktivis PRD dan Thukul, sebagai koordinator Jaker saat itu, diduga menjadi dalang dalam kerusuhan. Sejak kerusuhan itu para aktivis PRD dicari-cari dan ditangkap.

Sebagai orang yang paling dicari-cari Thukul selalu berpindah-pindah tempat dan melakukan penyamaran. Wonogiri, Yogyakarta, magelang, salatiga, Jakarta, bogor, Tangerang, Bandung, dan Kalimantan. Di Kalimantan, Thukul mengubah namanya menjadi Paulus, Aloysius Sumedi, dan Martinus Martin. Selama pelariannya Thukul menciptakan beberapa puisi seperti, Aku Diburu Pemerintahku Sendiri, Buat L. Ch & A.B,  dan beberapa cerpen seperti, Kegelapan. Selama pelarian ketika ingin bertemu dengan sang istri, Thukul dibantu oleh kawan-kawannya di PRD. Maklum saat itu banyak intel berkeliaran. Maret 1997 Thukul kembali aktif di PRD, menjabat ketua divisi propaganda sampai Mei 1998 kerusuhan meledak di Jakarta dan terakhir kalinya Thukul menelepon dan menanyakan kabar Sipon, dan setelah itu tak ada lagi kabar mengenai laki-laki berkelahiran Sorogenen, Solo, 26 Agustus 1963 itu.

Semangat perjuangan Wiji Thukul melawan tirani selalu hadir dalam ketidakhadirannya saat ini. Dengan seni dia melawan dan perlawanannya itu sendiri adalah seni baginya. Tak ada kata mundur baginya ketika berhadapan dengan tirani. Tirani harus tumbang dan masyarakat harus lawan. Dan Wiji Thukul menjadi kutukan yang terus memburu para penculiknya.

Penulis : Arief Bobhil Paliling

 

 

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here