Tindakan Represif Ormas pada Aksi Kamisan Tuntut Bebaskan Tapol Papua dan Pencabutan SK DO Mahasiswa

0
110
Tampak saat massa aksi kamisan santuy di represif Ormas, di Pertigaan Boulevard, Jl A.P Pettarani.

KERTASONLINE.COM – Aliansi Rakyat Melawan Oligarki (RMO) kembali melakukan Aksi Kamisan Santuy. Aksi itu mengangkat isu Bebaskan Tahanan Politik (Tapol) Papua, Pencabutan SK Drop Out 4 Mahasiswa Unkhair dan 11 Mahasiswa STIMIK AKBA.

Aksi tersebut kembali mendapatkan tindakan represif dari Ormas untuk yang kedua kalinya, Kamis, 2 Januari yang lalu, di Pertigaan Boulevard, Jl A.P Pettarani.

Setelah hujan redah, kurang lebih pukul 16.00 Wita, sebagian massa aksi yang tergabung dalam RMO mulai berkumpul di titik aksi depan JNE Pettarani, dengan memakai dress code hitam.

Sembari menunggu massa aksi lain terkumpul, dua orang yang mengaku polisi dengan berpakaian jaket coklat serta peci terpasang kokoh di atas kepalanya menemui beberapa massa aksi dan menanyakan identitas mereka. “Dari kampus mana?,” tanya orang itu.

Dengan penuh kecurigaan salah satu massa aksi melontarkan pertanyaan balik kepada orang tersebut “Kenapa memang tanya-tanya pak?”. “saya polisi ji dek,” jawab orang berjaket coklat itu dengan nada santai sembari ketawa kecil.

Tidak hanya itu, orang-orang yang mengaku dari pihak kepolisian menemui massa aksi berkali-kali, ada yang menanyakan keberadaan jenderal lapangan, dan juga sekedar mengingatkan agar menjaga keamanan dengan kelompok ormas yang sedang melakukan aksi.

Sekitar kurang lebih 50 massa menuju titik aksi. Setibanya, belum 1 menit membentangkan spanduk, serta poster-poster. Tiba-tiba kurang lebih 20 ormas, dengan menenteng toa di tangannya dan tiga bendera merah putih berdiri di atas kepala, mendatangi massa aksi dan melontarkan tuduhan, sebagai pendukung Organisasi Papua Merdeka (OPM) serta meminta agar aksi tersebut di bubarkan.

“Mereka ini adalah pendukung OPM, atas nama NKRI kami membubarkan aksi kalian,” ujar salah satu ormas yang berpeci menggunakan toa dengan nada tinggi, yang ingin membubarkan aksi tersebut.

Ada juga yang merampas poster-poster hingga merobek dan melontarkan kata “lonte” ke arah massa aksi perempuan. Polisi mencoba berusaha melerai ormas yang mendorong massa lainnya hingga baju massa aksi RMO robek serta luka-luka akibat cakaran dari Ormas yang berusaha mendorong membubarkan aksi tersebut.

Beberapa polisi menyuruh massa aksi RMO agar mundur dikarenakan ormas tak lagi bisa menahan emosi.

Massa aksi pun mengalah dan menjauh dari lokasi. Namun, beberapa ormas masih saja mengejar massa aksi serta melempari batu hingga mengenai lengan tangan kiri salah satu massa aksi.

Massa aksi RMO berharap, agar Tahanan politik segera dibebaskan dan pencabutan SK Drop Out 4 Mahasiswa Unkhair serta 11 Mahasiswa STIMIK AKBA segera dicabut tanpa syarat.

“Kami menuntut keras kepada pemerintah pusat untuk membebaskan Tahanan Politik tanpa syarat dan adili pelaku rasisme serta berikan ruang demokrasi,” tegas walfer selaku Jendral Lapangan.

Editor: Fitriani

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here