Seko Jadi Perhatian, Aliansi Solidaritas Peduli Seko Gelar Aksi

0
402
Aksi teatrikal menggambarkan penderitaan masyarakat Seko di Fly Over, Sabtu, 8 April. (Segitarius/KERTAS)
Segitarius | KERTAS

MAKASSAR, KERTASONLINE.COM – Aksi solidaritas untuk masyarakat Adat Seko yang berjuang memepertahankan hak atas sumber daya alamnya terus bertambah. Kali ini, Aliansi Solidaritas Peduli Seko di Makassar menjajaki Fly Over, Jalan Urip Sumohardjo.

Dalam aksi tersebut, mereka menuntut agar pembangunan PLTA oleh PT. Seko Power Prima dihentikan. Selain itu, mereka juga menuntut pemberhentian kriminalisasi terhadap petani.

Sebelumnya, 13 orang masyarakat adat Seko, Maret lalu, telah divonis 7 bulan penjara oleh Pengadialan Negeri Masamba. Mereka dipenjara atas tuduhan perusakan basecamp PT. Seko Power Prima.

Pembangunan PLTA dengan kapasitas 480 Mw dinilai dapat menyebabkan hilangnya  sumber pangan masyarakat adat Seko. Bahkan, imabas dari pembangunan tersebut dapat memiskinkan masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari hasil pengelolaan sumber daya alam mereka.

“Sebenarnya tujuan utamanya ini adalah bagaimana kemudian mengkampanyekan situasi yang dialami oleh teman-teman di Seko. Karena sejak tahun 2014 itu, mereka mengalami tindakan refresif dari aparat kepolisian,” ungkap Musdalifah Jamal, salah satu perwakilan Aliansi Solidaritas Peduli Seko, Sabtu, 8 April.

Baca: Pangdam Tanggapi Persoalan Sengketa Tanah, Ini Kata Dia

Dia menilai, pemerintah daerah Luwu Utara dan Polres Luwu Utara tidak membela masyarakat adat Seko yang memperjuangkan hak mereka. Menurutnya, pemerintah daerah justru mendukung pembangunan PLTA tersebut.

“Pemerintah daerah bersama dengan polres Luwu itu memback up perusahaan PLTA PT. Seko Power Prima untuk kemudian merebut tanah masyrakat, yang notabenenya tanah mereka itu dijadikan sebagai sumber penghidupan,” ujarnya.

Aksi yang berlangsung damai ini juga mendapat sorotan dari kalangan mahasiswa, salah satunya Kay, mahasiswa UIN Alaudin Makassar. Dia mengatakan, keikut sertaanya dilakukan karena ingin bersolidaritas terhadap masyarakat Seko yang di ampas sumber daya alamnya.

Dia juga mengatakan, sebagai mahasiswa, kekerasan, pelanggaran tata ruang, dan kriminalisasi yang dialami masyarakat Seko harus dilawan.

“Karena penindasan dalam bentuk apapun tidak bisa dibenarkan. Kita sebagai manusia itu harus mewujudkan nilai-nilai kemanusian, nilai-nilai keadilan sosial kepada masyarakat Seko,” ujar Kay.

Editor: Andi Nur Isman Sofyan

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here