PPMI Makassar Kecam Penangkapan Mahasiswa di Medan

0
306
Massa aksi solidaritas untuk tiga mahasiswa Medan yang ditangkap Polrestabes Medan, membentangkan spanduk di depan Mapolda Sulsel, Senin, 22 Mei. (Axel Layuk/KERTAS)

MAKASSAR, KERTASONLINE.COM – Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) Dewan Kota Makassar, menggelar aksi solidaritas untuk mendukung tiga mahasiswa di Medan yang ditangkap saat aksi 2 Mei lalu.

Aksi solidaritas tersebut mengecam aparat kepolisian yang menahan dua mahasiswa Institut Teknologi Medan (ITM) dan satu mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU). Ketiganya hingga saat ini masih berada di Mapolrestabes Medan.

Penahanan mahasiswa tersebut bermula dari aksi demonstrasi memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang menuntut pendidikan gratis di Fly Over Jamin Ginting, Medan.

Ketika massa aksi hampir tiba di titik akhir demonstrasi di simpang kampus USU, diduga pihak aparat telah menyusupkan intelijen ke dalam massa aksi yang kemudian memprovokasi mahasiswa hingga memicu serangan fisik kepada mahasiswa.

Sontak, mahasiswa menanggapi kejadian tersebut dengan serangan balik hingga bentrokan tidak dapat terelakkan. Akibatnya, bentrokan yang diwarnai dengan aksi pemukulan oleh pihak kepolisian tersebut berakhir dengan penangkapan enam orang mahasiswa.

Kendati pada 4 Mei lalu tiga dari enam mahasiswa yang ditangkap akhirnya dilepaskan. Namun, tiga mahasiswa lainnya telah dinyatakan sebagai tersangka, yakni Fikri Arif dan Fadel dari ITM dan Sier Mensen dari USU.

“Sebagai organ pro demokrasi, PPMI tentu mengecam segala bentuk tindakan anti demokrasi terutama impunitas yang masih mewabah di institusi penegakan hukum seperti kepolisian,” ujar Sekretaris Jendral (Sekjen) PPMI Dewan Kota Makassar, Shany.

Menurutnya, ketiga mahasiswa yang ditangkap di Medan itu merupakan korban impunitas. Maka, kata Shany, mereka layak mendapatkan solidaritas sesama pejuang demokrasi. Selain itu, dua diantaranya merupakan sesama pers mahasiswa.

Aksi tersebut juga, lanjut Shany, bisa menjadi bahan evaluasi untuk kepolisian setempat agar tidak terjadi lagi hal serupa. “Bisa jadi tekanan politik untuk Polrestabes Medan. Kalau ternyata tindakan anti demokrasi yang mereka lakukan, menyebabkan gelombangan kecaman di berbagai tempat di Indonesia,” ungkapnya.

“Mereka jadi tersangka, hanya karena terbukti ikut melakukan aksi. Belum terbukti kalau mereka terlibat dalam insiden pemukulan polisi,” tegas Shany.

Aksi yang berlangsung damai tersebut, Senin, 22 Mei kemarin digelar di dua titik, yaitu di depan Mapolda Sulsel dan Underpass Bandara Hasanuddin, Makassar.

Dua Mahasiswa Merupakan Reporter BOM

Dua mahasiswa dari Institut Teknologi Medan (ITM) yang masih ditahan tersebut merupakan reporter Bursa Obrolan Mahasiswa (BOM) yang ditugaskan meliput aksi demonstrasi Aliansi Konsolidasi Gerakan Mahasiswa Sumatera Utara.

Pemimpin Redaksi BOM, Ediman Syaputra Pasaribu, seperti dikutip suarausu.co mengatakan, ada tiga reporter yang ditugaskan meliput aksi tersebut. Selama aksi, kata Ediman, ketiga reporter BOM itu berdiri di barisan aparat keamanan dan mengambil gambar.

Menurut Ediman, kedua reporternya yang ditangkap telah menunjukkan surat penugasan peliputan kepada aparat kepolisian. Namun, keduanya tetap dibawa aparat kepolisian untuk diamankan. “Bahkan mereka videoin polisi-polisi itu, jadi nggak mungkin gak tau mereka wartawan,” ungkap Ediman.

Ediman melanjutkan, pihak BOM telah mencoba berbicara pada kepolisian pasca ditangkapnya kedua reporternya. Namun, mereka masih belum dapat menemui reporter yang diamankan tersebut.

Selain itu, Ediman dan teman-temannya masih mengusahakan untuk membantu reporternya dengan mendatangai pihak Rektorat ITM, karena saat itu mereka sedang melakukan kegiatan organisasi kemahasiswaan.

Baca juga: Pembongkaran Tiba-tiba Kejutkan Ketua-ketua Lembaga

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here