Petugas gabungan Kepolisian Resor Kota Besar (Polrestabes) dan Kepolisian Sektor (Polsek) Panakukkang saat melakukan penyisiran di Universitas Muslim Indonesia (UMI), Rabu, 11 April.

KERTASONLINE.COM – Belasan senjata tajam diamankan petugas gabungan Kepolisian Resor Kota Besar (Polrestabes) dan Kepolisian Sektor (Polsek) Panakukkang saat melakukan penyisiran di Universitas Muslim Indonesia (UMI), Rabu, 11 April malam tadi.

Penyisiran dilakukan berawal dari aksi demo yang digelar di depan Fakultas Teknik UMI oleh mahasiswa Teknik Mesin dan Teknik Arsitektur yang menuntut ketetapan Dekan terkait wakil yang diusung dari Teknik Sipil.

Dari peristiwa itu, Polisi berhasil mengamankan barang bukti berupa satu buah senapan dari pipa, tiga buah besi panjang, tiga buah badik, dua buah samurai, 18 buah anak panah (busur. Red) dan dua buah pelontar anak panah.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, salah satu mahasiswa jurusan Teknik Elektro berinisial FS ditahan petugas karena diduga membuang senjata tajam saat pemeriksaan berlangsung.

“Satu tersangka yang kedapatan mencoba membuang barang bukti yang ada di badannya. Untuk selanjutnya kita akan berkerjasama melakukan penjagaan dengan sekuriti UMI untuk membatasi mahasiswa beraktifitas di malam hari,” ujar Kapolrestabes, AKBP Hotman C Sirait.

Menanggapi hal itu, Wakil Rektor (WR) III UMI, Ahmad Ghana menjelaskan, keputusan yang diambil telah melalui pertimbangan rektor dan pihak yayasan sebagai pengambil kebijakan terakhir dan juga mengikut pada aturan statuta UMI.

“Mereka protes karena ketetapan Dekan. Itu kan aneh mahasiswa mau mengatur siapa yang mau memimpin. Kan tidak ada regulasinya seperti itu,” jelasnya.

Namun, pendapat lain justru datang dari Mahasiswa UMI, Baso yang namanya disamarkan. Ia mengatakan, salah satu penyebab terjadinya aksi tersebut didasari atas perbedaan pendapat mengenai hasil perolehan suara antara pihak yayasan dan rektorat.

“Intinya aksi ini karena keputusan rapat senat. Perolehan suara imbang enam banding enam. Menurut penjelasan yayasan katanya, tujuh : enam, ada perubahan. Kemudian waktu saya dialog sama pihak rektorat dihadiri dua, tiga, empat, dan lima katanya suaranya itu enam : enam. Jadi beda penjelasan yayasan dan rektorat, dan pada saat aksi tadi, yang menyentuh diluan itu orang dari birokrasi,” bebernya

Tidak hanya itu, menurutnya, memang jurusan Teknik akan tetap berseteru jika orang pilihan rektor dan yayasan yang terpilih.

“Ada memang bagi-bagi kekuasaan di situ. Dekan yang dulukan delapan tahun menjabat tidak ada jalan kegiatannya mahasiswa, besiswa tidak jelas. Makanya tiga jurusan ribut kalau kembali orang-orang mereka yang naik,” pungkasnya. (ZA)

Editor: Nurparamadina

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here