Pemberitaan LPM Profesi Dibalas dengan Lemparan Batu, Pelaku Diduga Mahasiswa

0
127

KERTASONLINE.COM – Sabtu malam, 5 September, Pimpinan Umum Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Profesi Universitas Negeri Makassar (UNM), Sauki beserta kawan-kawannya sedang sibuk mengerjakan segala keperluan persiapan pleno, di sekretariat redaksi LPM Profesi UNM, di Jalan Malengkeri Luar No. 25, Makassar.

Sekitar pukul 00.10, mendadak salah satu anggota mendapat panggilan telepon dari seniornya di Fakultas Ilmu Sosial, dari balik telpon ia mengatakan akan ada penyerangan. Namun, anggota LPM Profesi yang mendapat panggilan telepon tersebut tak ada di sekretariat redaksi.

Hingga pukul 00.30, terdengar bunyi suara motor berhenti di depan sekretariat redaksi LPM Profesi. Tak berselang lama, disusul dengan dua lemparan batu secara bersamaan mengenai jendela kaca depan sekretariat. Satu batu menembus masuk ke dalam, satu batu lagi terpantul jatuh ke pekarangan, namun kaca sekretariat tersebut tetap pecah.

“Itu yang satu, keras memang. Besar lubangnya itu yang masuk ke dalam sampai terpantul ke dinding,” cerita Sauki saat dihubungi kertasonline.com melalui telepon seluler, Sabtu, 5 September.

(Sumber foto: LPM Profesi)

Saat kejadian, mereka langsung keluar, namun pelempar telah melarikan diri dan Sauki tak tahu pasti siapa pelakunya.”Nda sampai diliat orangnya, kemungkinan setelah melempar langsung lari,” ujarnya.

Sekitar pukul 01.30 Wita, Sauki melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Tamalate. Namun pada waktu itu, pihak kepolisian belum bisa menuju ke TKP. “Karena katanya itu malam tidak ada anggota dan mobil patrolinya keluar,” kata Sauki.

Paginya pihak kepolisian baru menuju ke lokasi kejadian. “Itu pun mungkin karena didesak dari AJI,” tandasnya.

Pihak kepolisian telah mengambil barang bukti berupa batu dan pecahan kaca untuk dilakukan penyelidikan. Hingga saat ini masih di proses penyelidikan pihak kepolisian, dengan nomor aduan 823/IX/2020/Polsek Tamalate.

Sebelum Penyerangan

Rabu, 2 September, LPM Profesi telah menerbitkan tabloid edisi 242 spesial jalur mandiri dengan mengangkat isu laporan khusus terkait pecahnya internal Badan Ekskutif Mahasiswa (BEM) dan dugaan indikasi kasus korupsi ketua Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (Maperwa) UNM.

Satu hari setelah tabloid itu terbit, Kamis 3 September, Sauki mendapat teguran dari salah satu anggota pengurus lembaga kemahasiswaan. “Ada kabar di grup lembaga kemahasiswaan kalau ada pihak tidak terima dengan berita yang kami tayangkan di tabloid,” jelas Sauki, seperti yang di kutip dari Profesiunm.com.

Diduga Mahasiswa

Kejadian penyerangan tersebut, Sauki menduga berkaitan dengan pemberitaan di dalam tabloid. “Sampai sejauh ini, kami menduga penyerangan itu karena indikasi pemberitaan yang dimuat di tabloid,” katanya.

Dari sejumlah penelusuran informasi dan beberapa indikasi yang ditemukan LPM Profesi, pelaku dan otak kriminal penyerangan diduga kuat adalah mahasiswa.

“Informasi terbaru yang kami terima, memang ada sekelompok mahasiswa semalam yang mencari-cari sekretariat kami pada malam harinya (4/9) sebelum peristiwa penyerangan,” ungkapnya.

AJI Desak Usut Tuntas Pelaku

Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Makassar, Nurdin Amir menilai kasus penyerangan dan teror terhadap LPM Profesi UNM yang diduga gara-gara pemberitaan adalah bentuk perlakuan pelanggaran hukum Undang-undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers. Pasal 8 UU Pers menyatakan dalam menjalankan profesinya jurnalis mendapat perlindungan hukum.

UU Pers juga mengatur sanksi bagi mereka yang menghalang-halangi kerja wartawan. Pasal 18 UU Pers menyebutkan, ”Setiap orang yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berkaitan menghambat atau menghalangi pelaksanaan ketentuan Pasal 4 ayat 2 dan ayat 3 dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 tahun atau denda paling banyak Rp500 juta.”

Atas intimidasi dan penyerangan terhadap Redaksi LPM Profesi Universitas Negeri tersebut, AJI Makassar menyerukan dan menyatakan:

  1. Mengecam keras tindakan intimidasi dan kekerasan melalui penyerangan Redaksi LPM Profesi Universitas Negeri Makassar yang dilakukan oleh orang tak dikenal (OTK) yang diduga karena pemberitaan di tabloid Profesi edisi 242.
  2. Mendesak aparat kepolisian mengusut tuntas dan memproses tindakan penyerangan LPM Profesi UNM dan diadili di pengadilan hingga mendapatkan hukuman seberat-beratnya agar ada efek jera. Sehingga kasus serupa tak terulang di masa mendatang.
  3. Mengimbau masyarakat agar tidak melakukan intimidasi, persekusi dan kekerasan terhadap jurnalis yang sedang liputan atau karena pemberitaan. Jika merasa dirugikan dengan pemberitaan, seharusnya masyarakat atau lembaga yang dirugikan harus melalui mekanisme yang diatur Undang-undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.

 

Editor: Muhammad Farhan

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here