Pemberhentian Pengurus LPM Suara USU Mendapat Tanggapan dari Berbagai Prespektif

0
298
Tampak dalam diskusi : Damar Tri A (Dosen ISBI Sulsel), Aziz Dumpa (LBH Makassar), Nurdin Amir (Ketum AJI Makassar). Di Sekertariat AJI Makassar, Senin, 6 April.

KERTASONLINE.COM – Bermula dari Cerpen “Ketika Semua Menolak Kehadiran Diriku di Dekatnya“, Karya Yael Stefany Sinaga, yang diunggah diwebsite milik Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Suara, Universitas Sumatera Utara (USU), pada 12 Maret lalu, direspons oleh Rektor USU, Runtung Sitepu, dengan  menganggap, tulisan tersebut bersifat vulgar dan mempromosikan LGBT.

Imbasnya, Rektor memberhentikan seluruh pengurus LPM Suara USU pada Senin, 25 Maret. Serta dengan secara paksa, Rektor USU mengosongkan Sekretariatnya.

Terkait itu, Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia  (PPMI) Dewan Kota (DK) Makassar mengecam tindakan Rektor USU, melalui aksi solidaritas dengan mengadakan diskusi dengan tema “Sastra dalam media” dan membedah cerpen “Ketika Semua Menolak Kehadiran Diriku di Dekatnya” di Sekretariat Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Sabtu 6 April, lalu.

Diskusi ini, kata Pelaksana Tugas (PLT) PPMI DK Makassar, Parley, dihadiri dari pelbagai prespektif, mulai dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Makassar, AJI Makassar dan Dosen Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Sulawesi selatan (Sulsel).

“Kegiatan ini bentuk komitmen Persma se Makassar, adalah kosisten mengawal masalah LPM Suara USU,” tegas Parley.

Dosen ISBI Sulsel, Damar Tri A, menganggap cerpen yang diunggah oleh LPM Suara USU, tidak begitu banyak metafora yang diciptakan.

“cerpen tersebut lebih pada aksentuasi, membahasakan realita,” kata Damar.

Selain itu, Ketua Umum (Ketum) AJI Makassar, Nurdin Amir, menjelaskan, karya sastra dari Yael Stefnai bersifat multitafsir.

“karya sastra itu multitafsir, karena dia punya lingkup yang berbeda dengan jurnalistik berita lainnya,” jelasnya.

Ia menambahkan, kasus yang menimpa LPM Suara USU lebih kepada akumulasi dari daya kritis karya-karya jurnalistik yang dimuat Pers Mahasiswa Suara USU. Menurutnya Terlalu paranoia terhadap kritik yang terjadi dalam kampus.

Sementara, Aziz Dumpa sebagai perwakilan LBH Makassar mengungkapkan, apa yang telah terjadi di LPM Suara Usu adalah pembungkaman terhadap demokrasi.

“Dunia pendidikan diisi oleh orang-orang intelektual, seharusnya setiap masalah dibawah ke ranah dialog dan didiskusikan, bukan malah pembungkaman,” tutupnya.

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here