Cerpen “Dibalik Mimpi”

0
585

Dibalik Mimpi

Setelah menempuh perjalanan dari desa sekitar sehari semalam dengan menggunakan bus aku akhirnya tiba di kota. Dari terminal dengan naik angkot aku langsung menuju ke asrama bougenville. Tempat di mana aku akan tinggal selama menempuh pendidikan di kota ini.

Senang rasanya dapat lulus dan diterima di salah satu kampus ternama di kota ini. Yah aku beruntung karena dapat melanjutkan pendidikan setelah tamat sekolah dengan beasiswa yang berhasil aku peroleh, tidak seperti sebagian besar teman-teman yang ada di desa mereka tidak dapat melanjutkan kuliah karena keterbatasan ekonomi. Hanya beberapa teman yang bisa melanjutkan sekolah sedang yang lainnya lebih memilih membantu orang tua di sawah atau pun pergi merantau mencari pekerjaan dan beberapa lainnya lagi memilih untuk menikah. Aku beruntung karena berhasil mendapatkan beasiswa untuk bisa lanjut sekolah.

Dengan naik angkot kurang dari setengah jam dari terminal aku tiba di asrama bougenvill. Asrama bougenville merupakan asrama kampus untuk para mahasiswa khususnya di peruntukan untuk mereka yang berasal dari luar daerah.

Bougenville, adalah sebuah bangunan tua yang usianya hampir se-abad yang dijadikan asrama kampus. Memiliki arsitektur bergaya eropa klasik. Meskipun  telah berusia hampir se-abad namun tetap kuat dan kokoh berdiri hingga sekarang ini, hanya di beberapa bangian saja yang mendapatkan renovasi namun selebihnya bisa dikatakan masih asli dari dulu hingga sekarang.

“hai, hallo…” sapaku pada seorang gadis yang kutemui di pintu masuk asrama yang usianya sepantaran denganku, dan begitu banyak barang bawaan sama denganku

“oh hai,… kamu mahasiswa baru juga yah?” tanyanya sambil tersenyum

“iya , namaku Dewi..” kenalku padanya sambil menjulurkan tangan kemudiaan disambutnya, dia juga menyebutkan namanya yakni Nikma.

Kemudiaan kami bersama-sama berjalan memasuki asrama, di sana telah banyak mahasiswa baru berkumpul yang merupakan penghuni baru di bougenville. Begitu pembagian kamar asrama selesai ternyata kami sekamar. Setiap kamar di isi oleh 4 orang mahasiswa, dan letak kamar kami berada di lantai dua. Ketika aku dan Nikma sedang beres-beres barang bawaan sambil mengobrol, tidak lama beselang datang dua orang gadis yang juga merupakan teman sekamar kami yakni Ade dan Ani nama mereka.

JJJ

“eh gengks, aku punya kabar nih, kalian udah pernah dengar belum, rumor tentang asrama yang kita tempati ini…?” Tanya Ani yang baru pulang dari kegiatan kampus yang diikutinya, tiba-tiba melontarkan pertanyaan tersebut, membuat kami yang tadinya sibuk dengan aktivitas masing-masing langsung menoleh kepadanya.

“Rumor apaan sih Ni ?” Tanya Nikma dengan begitu antusias

“Nah, tadi pas di kampus ketika selesai rapat, aku ngga sengaja dengar para senior cerita tentang hal-hal mistis gitu, terus mereka sempat singgung soal asrama ini. Menurut cerita para senior nih, asrama yang kita tempati ini  katanya berhantu loh, ada aja kejadiaan aneh dan ganjil pernah terjadi di sini”

“Apa jangan-jangan karena itu harga sewa asrama ini lebih murah dari pada kita ngekos di luar” ucap Nikma

“emang ada hubungannya yah..” Tanya Ade dengan polosnya

“Alaaah, itu paling cuma desas-desus doang, buktinya kita udah tinggal hampir setengah tahun dan semuanya baik-baik saja. Wajar aja lah, secara ni asrama usianya udah hampir seabad, lagiaan bukankah di tempat mana pun pasti ada penghuninya, selama kita ngga nganggu yah kita juga ngga bakal di ganggu kan”

“Udah dong jangan pada ngaco deh, kalian jangan cerita hal-hal yang kayak gituan buat aku makin parno aja” keluh Ade.

Bisa dikatakan Ade lah paling penakut dan paranoid diantara kami berempat.

Jarum jam baru menunjukkan pukul 07.30 malam, tapi para penghuni asrama lebih memilih untuk di kamar masing-masing, dikarenakan di luar sedang turun hujan yang begitu deras ditambah kilat dan suara Guntur  membuat lebih nyaman untuk berada di dalam kamar.

Didukung suasana malam yang sedang hujan, serta rasa lelah karena sehariaan berkegiatan membuat kami tidur lebih cepat dari biasanya.

JJJ

Tiba-tiba aku terbangun karena ingin buang air kecil. Ku cek handphoneku ternyata waktu baru menunjukkan pukul 02.15 dini hari, serta  hujan juga telah mulai reda.

Andai kata toilet yang di lantai dua sedang tidak direnovasi, aku tidak akan minta di temani ke toilet. Masalahnya sedang di renov dan toilet yang ada, letaknya di lantai satu paling ujung di belakang bangunan asrama. Lampu penerangannya pun mati sejak dua hari yang lalu dan belum juga diganti.

Ku coba membangunkan Nikma, Ade maupun Nia untuk menemaniku ke toilet tapi tak satu pun yang bangun. Mereka semua tidur dengan begitu pulas Ku urungkan niat untuk ke toilet dan mencoba untuk tidur kembali namun tetap tidak bisa. Akhirnya aku memberanikan diri untuk pergi sendiri walaupun agak parno juga bila ingat cerita Ani sebelumnya tentang asrama ini.

Suasana lorong yang agak gelap dengan penerangan lampu seadanya menyebabkan suasana remang-remang ditambah suasana malam yang basah karena hujan yang turun membuat suasana menjadi mencekam.

Sebenarnya aku bukanlah orang yang paranoid atau pun penakut tapi suasana malam ini memang mendukung untuk membuat seseorang menjadi takut. Suasanya begitu sunyi.

Ketika sampai di pintu toilet saat gagang pintu ku putar ternyata terkunci, kemudian terdengar suara air mengalir  dari dalam toilet.

“oh syukurlah ternyata ada juga yang bangun jam segini” batinku

“siapa di dalam ? cepetan yah aku kebelet nih” ucapku

Tiba-tiba suara air keran berhenti. Aku menunggu beberapa saat, berharap dia segera selesai tapi tak juga keluar.

“woi cepetan dong, udah setengah jam ni aku nungguin, jangan bertapah dong di kamar mandi”

Ucapku mulai kesal.

Dan ketika gagang pintu akan aku pengang dengan tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka sendiri dan di dalamya tidak ada siapa pun. Tiba-tiba tengkukku rasanya begitu dingin dan bulu kudukku mulai merinding.

aku mematung sesaat mencoba mencerna apa yang terjadi, berusaha berpikir rasional dan memikirkan kemungkinan kalau ada yang sedang bercanda, tapi semua itu mustahil karena ini dini hari dan lebih mending tidur dari pada berbuat iseng di jam seperti ini.

Secepat kilat aku balik badan dan berjalan setengah berlari menuju lantai dua ke arah kamarku, rasa kebelet telah hilang digantikan rasa takut yang ada. Ketika telah dekat dengan tangga menuju lantai dua, aku tiba-tiba berhenti karena melihat seseorang sedang berdiri di depan tangga, menggunakan baju berupa dress selutut berwarna putih yang sudah lusuh dan kotor sambil memengang sebuah topi pedora dengan rambut terurai berwarna coklat.

Kemudian berbalik dan menatap ke arah ku dengan tatapan kosong dan senyum yang begitu menakutkan. Rasanya nafas ini tercekat di tenggorokan. Ku coba untuk lari dari tempat ini dan berteriak sekeras dan sekencang-kencangnya mungkin agar ada yang terbangun, namun semua sia-sia karena tubuh ini bagaikan menjadi patung, kaki ku sama sekali tidak dapat di gerakkan dan mulut ini tiba-tiba menjadi bisu, suara tertahan di tenggorokan tidak dapat keluar.

Sosok yang tadinya ku kira manusia tersebut perlahan-lahan mendekat kearah ku dengan suara tangisan begitu pilu dan menyayat hati, sorot matanya yang kosong menaptaku tiba-tiba berubah tajam ke arahku. Aku sama sekali tidak sanggup melihatnya, mata ini kututup dengan begitu rapat, suara langkah kaki yang berbunyi tak…tak..tak.. serta tangis pilunya terdengar makin mendekat ke arahku dan tiba-tiba suara tersebut menghilang dan kembali sunyi. Dengan pelan-pelan kubuka mata ini dan mencoba memandang sekeliling.

“apakah dia sudah pergi?” batinku

Dan tiba-tiba

“deg”

sebuah tangan yang begitu dingin yang rasanya sedingin es dari arah belakang memengang pundakku, aku teriak tapi tetap suara ini tidak dapat keluar, beruntung tubuhku sudah dapar digerakkan dengan cepat aku berlari menuju tangga, namun ketika hampir sampai di lantai dua rasanya ada yang menarik kakiku dan aku pun terjatuh, lalu pingsan.

“dewi…wi…dewi…  bangun” ucap Ani sambil mengguncangkan tubuh ku agar aku bangun.

Aku dengan cepat membuka mata, dan melihat Ade, Nia dan Nikma memandangku dengan tatapan khawatir dan penasaran.

“wi kamu mimpi apaan sampai teriak begitu histeris, kamu baik-baik aja kan ?” Tanya ade dibarengi tatapan minta penjelasan dari yang lain.

“ah… oh… iya, cuma mimpi buruk aja kok dan aku baik-baik aja” ucapku pada mereka

“oh syukurlah kalau begitu, aku pergi dulu yah ada kelas pagi nih” pamit Nikma yang berangkat ke kampus lebih dulu yang kemudiaan disusul oleh Ade dan Nia karena ada urusan masing-masing.

Tinggallah aku sendiri di kamar dan termenung apakah yang kualami semalam itu adalah nyata atau mimpi.

“Tapi bila itu nyata bagaimana aku bisa ada di tempat tidur, seharusnya aku pingsan dan berada di depan tangga,??? Tapi kalau itu mimpi kenapa terasa begitu nyata, dan seluruh tubuhku rasanya sakit ditambah lebam yang ada di kaki” ucapku pada diri sendiri.

“ah…  pusing tau ah nyata atau bukan …”

“tak…tak….tak…tak”

Suara langkah kaki berjalan cepat ke arah kamarku, tiba-tiba daun pintu terbuka dengan keras “prakkk”

“ka..ka..kamu….Aaaaaaaaaaaaarrrghhhhhhhhhhh”

 

Penulis :Riviresa

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here