Relokasi Sekretariat: Bukannya Nyaman, Malah Merugikan

0
246
Proses pengerjaan gedung D menjadi sekretariat mahasiswa, dimulai awal Januari lalu

KERTASONLINE.COM — Kecemasan mahasiswa akhirnya terjadi. Hasil dari pembangunan gedung baru, berimbas ke sekretariat Lembaga Kemahasiswaan (LK). Hal ini dianggap sangat berpengaruh pada aktivitas organisasi.

Gedung baru sepertinya tidak membuat mahasiswa, khususnya penggiat organisasi turut senang. Empat tahun menanti pembangunan, diakhiri dengan keluarnya kebijakan sepihak dari birokrasi kampus. Kebijakan tersebut dianggap tidak menghargai seluruh LK di Universitas Fajar (Unifa).

Relokasi sekretariat memang sudah diketahui mahasiswa jauh sebelum keluarnya kebijakan ini. Namun, yang mereka sayangkan, perelokasian itu dilakukan sebelum sekretariat baru dirampungkan. Sementara, sekretariat lama dihimbau untuk segera dikosongkan karena akan dibongkar.

Apalagi, ditambah dengan penetapan aturan sekretariat baru yang dianggap membatasi mahasiswa. Pasalnya, mahasiswa tidak dilibatkan dalam proses pembuatan aturan.

Penetapan aturan baru untuk seluruh lembaga, dinilai bukan solusi tepat. Kebijakan itu dianggap seolah membatasi mahasiswa dalam menunjang aktivitas organisasi.

Ketua SM Fakultas Teknik (FT), Faisal mengatakan, sangat menyayangkan adanya aturan yang dibuat secara sepihak dari pihak birokrasi tanpa adanya pemberitahuan ke semua Lembaga di Unifa. “Pembuatan atau aturan kantor lembaga itu kita harapkan dimusyawarakan dengan lembaga-lembaga yang ada di Unifa. Namun, pas kita dipanggil rapat, ternyata aturan itu sudah dibuat pihak kampus tanpa pemberitahuan ke LK. Itu yang tidak kami sepakati,” bebernya.

Selain itu, ada beberapa poin yang mesti dipertimbangkan oleh birokrasi. Menurutnya, ada beberapa poin yang tidak masuk akal dalam aturan tersebut.

“Contoh poin pertama itu yang dilarang makan, minum dan membawa alat mandi. Masak dan segala macam memang kita setuju. Tapi kalau dilarang makan minum? Pihak kampus juga atau staf-staf dari kampus dia juga makan dalam kantornya sendiri. Itu yang kami tidak sepakati,” jelasnya.

Ketua Senat Mahasiswa (Sema) Fakultas Ekonomi dan Ilmu-ilmu Sosial (FEIS), Jay Hariandi menambahkan, mengenai aturan jam malam, ia meminta agar birokrasi memberikan kepercayaan kepada mahaiswa untuk menghilangkan aturan tersebut.

“Ketua HMJ yang bertanggung jawab mengenai ha-hal yang tidak diinginkan. Jadi langsung panggil ketuanya bahwa anggota kalian yang melakukan ini, siap bertanggung jawab,” sambungnya.

Sementara itu, Deputi Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Nur Khaerat Nur mengemukakan, penetapan aturan tersebut tidak diterapkan begitu saja. Namun dengan didasari pengalaman-pengalaman sebelumnya. Sebab, kata dia, tujuannya ingin menciptakan kampus yang nyaman dan tertata dengan baik.

“Saya katakan bahwa kita ingin jadikan organisasi maupun kelengkpan sarana dan prasarana sebagai ingkubator entrepreneur, sebelum Anda nantinya terjun di masyarakat sebagai orang-orang yang profesional di bidangnya masing-masing,” kata Khaerat.

Ia menegaskan, aturan tetap harus ditegakkan. Sehingga, untuk melakukan perubahan pada aturan itu sepertinya tidak dimungkinkan lagi.

“Tidak ada maksud membatasi kebebasan ekspresi Anda, silakan berkegiatan. Tapi kan harus menjunjung nilai-nilai etika, harus ada aturan yang menjadikan pegangan,” imbuhnya. (hld)

*Terbitan Tabloid Kertas Edisi 12 | AGUSTUS 2018

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here