Puisi Sukma Sebagai Bentuk Autokritik

0
357
Sastrawan Unhas, Ibe S Palogai saat membahas mengenai puisi Sukmawati dalam Diskusi Umum " Dibalik Puisi Sukma", di Pelataran Aula Unifa, Senin, 9 April.

KERTASONLINE.COM – Puisi Sukmawati yang tengah hangat diperbincangkan oleh masayarakat Indonesia karena dianggap dalam bait puisinya mengandung SARA. Olehnya itu, Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional (Himahi) mengadakan Diskusi Umum di Pelataran Aula Universitas Fajar (Unifa), Senin, 9 April.

Diskusi bertemakan “Dibalik Puisi Sukma” itu, Himahi menghadirkan dua pemateri handal yakni sastrawan asal Universitas Islam Negeri Makassar (UIN) dan Universitas Hasanuddin (Unhas).

Dalam diskusi, Sastrawan Unhas, Ibe S Palogai  mengatakan puisi sukmawati tersebut merupakan bentuk autokritik dan cara pandang seseorang melihat syariat islam itu sendiri cenderung kaku.

“Seolah-olah bahwa hanya ada kebenaran tunggal terhadap suatu keyakinan dan menemukan ada diksi yang berusaha menjelaskan keterasingan itu sendiri. Jadi kurang lebih seperti itu autokritik terhadap diri kita, terhadap agama kita,” katanya.

Karena Perbedaan sudut pandang setiap masyarakat dalam menanggapi hasil karya sastra dari Sukma itu, Ketua Umum Himahi, Fathir mengaharapkan melalui diskusi tersebut mampu menyatukan perbedaan pemahaman itu.

“Bagi saya adalah ini respon generasi muda terhadap apa yang terjadi di luar sana, berusahaki mengembalikan fungsi mahasiswa yang juga turut terlibat dalam merespon wacana-wacana diarus pesan jadi bukan hanya persoalan kampus namun terlibat juga dalam diskusi-diskusi luar kampus,” pungkasnya.

Editor : Heldayanti

 

 

 

 

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here