KERTASONLINE.COM – Tingkat kredibilitas masyarakat terhadap sebuah media kini mulai menurun. Perannya dinilai pasif.

Demi mengulas seputar Penyimpangan Pers Mainstream dan Pers Mahasiswa, dihari kedua dalam kegiatan Extreme Mind Festifalse diselenggarakan dialog interaktif dengan menyoroti perihal itu, di Gedung Lantai tiga Univerisitas Fajar (Unifa), Selasa, 27 Maret.

Keynote Speaker, Nur Alim Djalil dalam dialog tersebut menyampaikan bahwa saat ini dunia pers menghadapi sangat banyak tantangan. Masalah-masalah tersebut terutama dari internal lembaga media itu sendiri.

“Profesi yang paling tidak dipercaya di Inggris menurut sebuah survey adalah Jurnalistik, yang menempati posisi ke 6 terbawah, dari total 46 profesi yang disurvey. Sementara di Amerika menempatknnya dalam tiga terbawah,” beber Dosen Unifa itu.

Masalah lainnya, kata Nur Alim yakni wartawan saat ini bukan lagi tipe pemburu berita. Mereka tidak lagi menggali dan mencari informasi sebagaimana mestinya. Apalagi hingga disiplin terhadap verifikasi.

“Pers berita kini berada dalam kondisi pasif yang lebih banyak menunggu berita,” tambahnya.

Melihat situasi tersebut, menurut Nur Alim Djalil, Pers Mahasiswa menjadi alternatif yang menjadi garda terdepan untuk membendung penyimpangan yang dilakukan pers mainstream saat ini.

Menanggapi hal tersebut, Irwan Sakkir, Sekretaris Jenderal Perhimpunan Pers Mahasiswa (PPMI) Nasional, yang mewakili Pers Mahasiswa (Persma) juga menyampaikan masalah-masalah yang mereka hadapi.

“Persma mengalami kebingungan. Secara kode etik, Persma dan Pers Mainstream itu sama. Tapi persma tidak memiliki ruang yang sama, sebab Persma dianggap sekadar sebagai ruang pembelajaran,” pungkas Irwan.

Selain itu, Irwan menambahkan, Persma seringkali dituding lebih banyak menyoroti isu isu yang tidak penting, yang hanya mengakibatkan konflik pada beberapa pihak.

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here