Nilai Sebuah Spanduk: Memohon Doa Restu Atas Pembangunan

1
294

Tahun demi tahun berseliweran para calon Mahasiswa Baru untuk mendaftar ke kampus-kampus yang diminatinya. Ada beberapa hal yang menjadi faktor calon Mahasiswa Baru meminati kampus itu, dari biaya perkuliahan yang murah, memiliki fasilitas yang memadai- bukan berarti apa adanya, kualitas pengajar yang mempuni, dan lebih ekstrim lagi meminatinya karena mahasiswa-mahasiswanya kritis atau bisa jadi memiliki banyak aktivis atau boleh juga organisatoris. Banyak faktor, yang jelas itu alasan pribadi para calon Mahasiswa Baru.

Tentu para calon Mahasiswa Baru mempersiapkan segalanya, baik fisik dan mental untuk menyandang status kemahasiswannya itu. Bukan hanya mereka tapi dalam menyambut perhelatan tahunan ini, Perguruan Tinggi juga melakukan pembenahan dan strategi-strategi jitu untuk bisa terpilih dihati calon Mahasiswa Baru. Baliho dan spanduk misalnya, tampak nyata dan terang benderang demi mempertegas kejayaan kampus tersebut, pamflet tertempel disana-sini, bahkan kadang kala merusak pepohonan di jalan dan mengotori perkotaan. Mungkin pekerja sedot tinja lebih mengerti betapa petingnya pepohonan kota dengan hanya menempelkan kertas selebaran di tiang listrik perkotaan dan dinding-dinding di pinggiran jalan.  Dibanding mereka dari tempat berpendidikan yang kadangkala memaku atau menstapler pohon-pohon yang ada. Walaupun mengotori tiang listrik dan dinding-dinding pekotaan setidaknya pekerja sedot tinja tidak merusak pepohonan.

Slogan-slogan hipokrisi (kemunafikan) yang terbentang dispanduk dan baliho itu mebuat bingung calon Mahasiswa baru untuk memilih karena semua tampak tak memiliki kekurangan. Ada yang menarik ketika calon Mahasiswa Baru bertandang atau mungkin ingin mendaftar ke Universitas Fajar (Unifa). Mereka langsung disodorkan dengan spanduk besar yang terbentang dengan gagahnya “mohon doa restu atas pembangunan gedung 9 lantai”. Dari tahun 2014 spanduk ini  terus menyambut para calon Mahasiswa Baru. Sementara pembangunan gedung dilakukan sejak tahun 2012 yang ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Jusuf kalla dan proses pengerjaan secara fisik –pembongkaran gedung yang lama lalu membangun- dilakukan pada tahun 2013.

Apa yang terjadi dengan pembangunan Gedung 9 (sembilan) lantai? Apakah Gedung baru atau spanduk Mohon Doa Restu ini menjadi komoditi? Apakah Gedung Baru atau spanduk Mohon Doa Restu memiliki nilai guna? ataukah memiliki nilai tukar? Atau apakah ia memiliki nilai?

Marx mengatakan komiditi itu ada karena keberadaan dua aspek yakni, nilai guna dan nilai tukar. Jika kita sempitkan lagi pemahaman tentang komiditi maka marx mengakatan sesungguhnya komiditi itu terdiri dari aspek nilai guna dan nilai. Tetapi nilai disini berbentuk abstark. Misalnya ketika kita melihat sepasang sandal maka pertama-tama kita mengetahui bahwa sandal itu melindungi telapak kaki ketika berjalan. Inilah yang disebut nilai guna atau aspek natural dari sandal itu.

Nilai dari sepasang sandal tersebut terekspresikan atau termanifestasi ketika nilai guna itu dapat dipertukarkan atau memiliki nilai tukar. Ketika orang mau mengeluarkan uang membeli sepasang sandal untuk melindungi telapak kakinya maka saat itu sandal memiliki nilai. Lagi kata marx, pada diri pemilik komiditi tidak memiliki nilai guna melainkan nilai tukar, sedangkan nilai guna komoditi tersebut ditemukan pada orang lain, yakni pembelinya atau orang yang membutuhan komoditi tersebut.

Bagaimana dengan Gedung Baru atau spanduk Mohon Doa Restu? Gedung Baru ini akan menjadi komiditi yang dipromosikan lewat spanduk “mohon doa restu atas pembangungan gedung 9 lantai”. Gedung baru memiliki nilai guna bagi Mahasiswa jika Gedung ini selesai (tapi sampai kapan). Gedung ini menjadi tempati para mahasiswa untuk berkuliah dan menjadi salah satu kebutuhan yang tidak terelakkan. Nilai guna dari Gedung Baru ini yang nantinya jika terselesaikan maka memiliki nilai tukar atau nilai jual maka saat itulah Gedung ini memiliki nilai dan nilai tersebut menjadi komiditi.

Tentu Gedung berbeda dengan sepasang sandal. Sandal memiliki nilai ketika sudah bisa dipakai, sementara Gedung Mohon Doa Restu, dalam tahap pembangunan saja gedung ini sudah memiliki nilai dan menjadi komiditi. apa yang menjadi nilainya yakni konsep dari Gedung itu, tertuang dalam spanduk besar yang terus menyambut para calon Mahasiswa Baru. Walaupun konsep ini belum terealisasikan secara sempurna- pembangunan belum tuntas- para mahasiswa berkewajiban membayar uang pembangunan. Baiaya Sistem Kredit Semester (SKS) naik dari tahun 2013 sejumlah Rp100.000 per SKS hingga saat ini tahun 2016 mencapai Rp120.000 untuk jurusan Komunikasi, Manajemen, dan Akuntansi S1. Potongan Indeks Prestasi (IP) mahasiswa ditiadakan karena alasan pembangunan. Fasilitas yang digunakan seperti, WC, ruangan kelas tidak dibenahi secara maksimal karena alasan pembangunan.

Digedung D Unifa misalnya, suara sentakan kaki dari lantai dua sangat terdengar di lantai satu dan itu sangat menganggu proses belajar mengajar. Kadang dosen berhenti sejenak karena hentakannya sangat terasa. Lalu akankah kondisi seperti ini terus ada sembari menunggu Gedung Baru terselesaikan (tapi sampai kapan). Memang kejelasan gedung ini terasa ketika spanduk tersebut terbentang menyambut calon mahasiswa Unifa. Terasa bukan karena gedung yang akan terselesaikan namun gedung ini masih meminta untuk dioakan.

Sadar bahwa Gedung Baru lama terselesaikan maka kita diminta bersama-sama untuk mendoakan gedung ini. Tetapi bagi calon mahasiswa Unifa, doa bukan sekadar memohon kepada Tuhan tetapi membayar kewajiban. Tentu spanduk Mohon Doa Restu lebih gentleman yang dengan terang-terang meminta bantuan doa dibanding Gedungnya yang hanya memberi janji terselesaikan tahun itu. Penerimaan mahasiswa baru tahun 2014 ia (baca: gedung) berjanji akan selesai, tahun 2015 ia kembali berjanji akan selesai. Kita tunggu bagaimana janjinya lagi, apakah masih tetap sama atau sudah memberikan kejelasan yang pasti. Memang menunggu sangat menyakitkan tapi lebih sakit rasanya jika kejelasan yang tidak pasti itu disampaian untuk membahagiakan orang yang berada dalam kebingungan.

Jika Chairil Anwar ingin hidup seribu tahun lagi, mungkin bagi mahasiswa Unifa yang ingin merasakan nikmatya berkuliah di Gedung Baru dan merasakan fasilitasnya maka relalah untuk “berkuliah seribu tahun lagi”.

Penulis : Arief Bobhil Paliling

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here