Mahasiswa Terancam Cuti, Kebijakan Kampus Dinilai Tak Demokratis dan Transparan di Masa Pandemi

0
222

KERTASONLINE.COM – Di masa pandemi ini, sebagian orang tua mahasiswa kehilangan penghasilan. Sementara uang semester masih menunggak, bahkan tak dapat membiayai semester berikutnya. Imbasnya, mahasiswa terancam cuti. Seperti yang dialami Erasmos Manglo, mahasiswa Universitas Fajar (Unifa).

“Kebetulan di desaku karantina wilayahnya diperketat. Nah yang biasa beli hasil pertanian di desaku cuma orang dari Polman (Polewali Mandar) yang naik, sejak adanya itu (Covid-19) tidak ada lagi yang beli hasil tani di atas,” kata Erasmos Manglo saat dihubungi via telepon WhatsApp, Eras banyak berbicara kepada saya tentang kondisi orang tuanya yang tak berpenghasilan akibat pandemi ini.

Orang tua Eras merupakan petani kopi di desa Mamullu, Kecamatan Pana, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat (Sulbar) dan hanya bergantung dari hasil tani kopi tersebut. Jika tak ada yang membeli hasil panennya, artinya orang tua Eras tak berpenghasilan. Kondisi itu sudah berlangsung sejak pemerintah Sulbar mulai memperketat jalur masuk ke Provinsi pada akhir Maret lalu.

“Iya sampai sekarang belum ada (membeli hasil tani), karena Kabupaten Mamasa memang masih perketat ki di perbatasan,” kata Eras saat dihubungi Kertasonline, Sabtu, 20 Juli.

Penerapan karantina wilayah saat itu, membuat pasar-pasar ditutup, orang di desa tak bisa keluar masuk kabupaten, begitu juga sebaliknya. Imbasnya, orang tua Eras tak dapat menjual kopi hasil panennya di pasar. Hingga saat itu hasil panen kopi milik orang tua Eras terpaksa disimpan.

“Masalahnya hasil pertanian mau dijual ke mana?,” Kata Eras.

Eras tidak mempermasalahkan kopi yang terpaksa disimpan. Hanya saja, kebutuhan sehari-hari keluarganya hanya bergantung pada hasil jualan kopi. “Cuma yang jadi masalah, bagaimana cara kehidupannya kita selama ditampung ini (kopi). Kan tidak ada apa-apa?,” Ucapnya.

Mulai dari diberlakukannya karantina wilayah di Sulbar, Eras terpaksa memilih untuk menetap di Makassar sejak kampusnya diliburkan. Semenjak itu pula, ia tak mendapatkan kiriman uang dari orang tuanya.

Ia pun tinggal bersama paman dan tantenya. Untuk memenuhi kebutuhan (kuota) untuk perkuliahan daring, dia ikut membantu pamannya bekerja di bagian pemasangan kabel listrik.

“Ada kebetulan perumahan dia bikin omku. Kan biasa juga kerja-kerja pemasangan listrik, jadi ikut tong mi di situ untuk biaya pembeli kuota ta,” lanjut Eras, “Cuma nda ada mi lagi (kerja) sekarang”.

Walau tak bisa pulang, Eras selalu menelepon kedua orang tuanya di kampung. Ia dan orang tuanya selalu bercerita soal hasil tani di kampung yang tidak laku hingga dampak yang akan terjadi ke depannya.

Terancam Cuti dari Kampus

Eras merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Dia dan adiknya menempuh pendidikan di perguruan tinggi yang berbeda. Eras sendiri mengambil program studi Teknik Mesin di Unifa. Sedangkan adiknya melanjutkan studinya di Universitas Bosowa program studi Pertanian.

Saat ini, Eras terdaftar sebagai mahasiswa semester enam. Sementara uang semesternya masih menunggak. Orang tuanya tak bisa berbuat banyak selain menunggu kondisi kembali membaik serta pasar-pasar kembali dibuka saat itu. Terlebih lagi, ia dan adiknya harus membayar uang semester tahun ajaran baru yang akan datang.

Jika situasi terus menerus berlanjut sampai tahun ajaran baru, di antara mereka ada yang terpaksa mengalah memilih untuk cuti dari kampus.

“Salah satu harusnya ada yang mengalah kayaknya,” keluhnya di balik suara telepon.

Bantuan Potongan 10%: ‘Itu Dianggap Wajar’

Pada 6 Juni lalu, melalui akun media sosial resmi, Unifa mengumumkan pemotongan Biaya Penyelenggaraan Pendidikan (BPP) sebesar 10%, sebagai bantuan kepada semua mahasiswa, akibat dampak dari pandemi covid-19.

“Perlu digaris bawahi ini (potongan BPP 10%) diberikan kepada mahasiswa bukan untuk membeli kuota. Jadi ini kebijakan untuk bantuan kepada mahasiswa dalam rangka pandemi ini,” jelas Muh Ridwan selaku Deputi Rektor II Bid. Umum dan Keuangan Unifa dalam rapat online yang digelar bersama ketua-ketua lembaga kemahasiswaan Unifa, Sabtu, 13 Juli.

Ridwan berdalih, pengambilan kebijakan 10% itu dikarenakan seluruh pembiayaan (air & listrik) kampus Unifa selama pandemi ini penyusutannya tidak terlalu menurun signifikan.
“Hanya turun 18 jutaan setiap bulan,” katanya. Maka, ia menggagap potongan 10% tersebut adalah kewajaran.

“Sekitar 5% awalnya dalam perhitungan, jadi kita beri bantuan kepada mahasiswa menjadi 10% dan itu di anggap wajar,” terang Ridwan.

Mahasiswa Menuntut 50% BPP

Padahal, sejak 15 Mei, Aliansi Mahasiswa Unifa yang terdiri dari 16 Lembaga Kemahasiswaan telah mengirim surat tuntutan kepada pimpinan kampus.

Surat itu ditandatangani masing-masing ketua lembaga kemahasiswaan. Dalam surat tersebut terdapat empat tuntutan. Salah satu tuntutannya yaitu meminta kampus agar BPP dipotong sebesar 50%.

Akan tetapi, pimpinan kampus menganggap tuntutan mahasiswa itu berat untuk dikeluarkan.

“Saat kita hitung, berat itu 50% untuk dikeluarkan,” kata Rektor Unifa, Mulyadi Hamid saat dimintai tanggapan terkait tuntutan mahasiswa, Kamis, 28 Mei.

Selain itu, Fadly, Ketua Himpunan Hubungan Internasional mengatakan, sumber pendanaan Perguruan Tinggi Swasta berasal dari mahasiswa. Makanya kata dia, mahasiswa tidak menuntut sepenuhnya, hanya 50% dituntut.

“Karena yang dipenuhi sama pihak institusi itu hanya fasilitas mengajar. Sedangkan kita membayar sepenuhnya,” kata Fadli, Selasa, 6 Juli.

Sedangkan kebijakan kampus pemotongan 10% BPP yang di keluarkan 6 Juni kemarin, Fadli menilai sangat tidak demokratis.

“Karena nda melibatkan mahasiswa dan tidak mempertimbangkan kerugian mahasiswa selama pandemi,” jelasnya.

Seharusnya, ia mengatakan pimpinan kampus mengadakan peninjauan terlebih dahulu serta melibatkan mahasiswa sebelum mengeluarkan kebijakan.

Tidak hanya itu, Fadli menyebut kebijakan yang dikeluarkan pihak kampus tidak transparan. “Tidak ada bukti data spesifik,” ujarnya.

Fadli juga menilai alasan yang dikeluarkan deputi umum dan Keuangan Unifa atas kebijakan pemotongan BPP 10% itu, “Tak masuk akal”.

“Coba kita hitung berapa kerugian mahasiswa selama pandemi. Itu bahkan bisa melebihi apa yang dikalkulasikan pihak institusi,” tegasnya.

Sementara di saat krisisnya perekonomian orang tua mahasiswa saat ini, Eras hanya berharap pihak kampus bisa mengeluarkan kebijakan yang dapat meringankan beban semua orang tua mahasiswa dalam persoalan pembiayaan perkuliahan.

Editor: Fitriani

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here