Aksi Mengayuh Sepeda, Warga Tumpang Pitu Desak Gubernur Jatim
Aksi Mengayuh Sepeda, Warga Tumpang Pitu Desak Gubernur Jatim

By KertasOnline 26 Feb 2020, 22:39:40 WIB Metropolis

KERTASONLINE.COM ----- Spanduk berukuran 40 meter yang  bertuliskan "Tolak Tambang Emas Salakan dan Sekitarnya" dan “Cabut IUP PT.BSI dan PT.DSI”  terbentang hingga menutup bagian depan Kantor Gubernur Jawa Timur (Jatim). Spanduk tersebut dibentangkan oleh massa aksi, warga, dan jejaring solidaritas Jatim.


Sebelum massa aksi tiba di depan Kantor  Gubernur, pada 15 Februari, warga melakukan aksi mengayuh sepeda dari Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, sejauh 300 Kilometer, menuju Kantor Gubernur Jatim dan singgah dibeberapa titik kota konflik agraria yakni Banyuwangi, Jember, Lumajang, Probolinggo, Pasuruan, Sidoarjo dan Surabaya.

Baca Lainnya :


Sekitar Pukul 12.00 WIB, Kamis, 20 Februari, puluhan massa aksi tiba di depan Kantor Gubernur Jatim. Puluhan polisi mulai berjaga-jaga dan beberapa polisi lainnya berdiri tepat di pintu masuk depan kantor  Gubernur.


Puluhan massa aksi itu terdiri dari warga dan jejaring solidaritas yang berdatangan dari beberapa Kota/Kabupaten. Massa aksi melakukan orasi, serta nyanyi-nyanyian untuk menjaga ritme aksi. Setelah waktu salat Zuhur tiba, massa aksi, warga dan solidaritas melakukan salat berjamaah dan melantunkan ayat suci Al-Quran serta Hajat bersama.


Aksi tersebut mendesak  Gubernur Jatim,  Khofifah Indar Parawansa, agar mencabut perizinan pertambangan PT.BSI dan PT.DSI serta memulihkan kembali kawasan Tumpang Pitu yang telah rusak.


Aksi itu akan berlangsung hingga Gubernur Jatim menemui massa aksi. Warga dan jejaring solidaritas beberapa hari ini melakukan aksi mogok makan di Kantor Gubernur Jatim. Namun, Khofifah Indar Parawansa, hingga saat ini belum menemui massa aksi.



PT.BSI Melalui Putusan Bupati Banyuwangi


Melalui putusan Bupati Banyuwangi tertanggal  9 Juli 2012 , No.188/547/KEP/429.011/2012. PT Bumi Suksesindo (BSI) telah memiliki Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi (IUP OP) seluas 4.998 ha. Sebagaimana terakhir kali diubah dengan Keputusan Bupati Banyuwangi, No. 188/928/KEP/429.011/2012 tertanggal 7 Desember 2012. IUP OP BSI berlaku sampai dengan 25 Januari 2022.


PT.BSI merupakan perusahaan pertambangan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) terletak di Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur.


Kegiatan utama PT. BSI adalah memproduksi emas dan tembaga di Tujuh Bukit Operation atau yang lebih dikenal dengan sebutan Tumpang Pitu.


Aini, salah satu warga Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, mengatakan, pada tahun 2012 Bupati Banyuwangi melalui Zulkifli Hasan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, menurunkan status hutan lindung Tumpang Pitu. "Itu (Tumpang Pitu) sebenarnya hutan lindung,” katanya.


PT BSI mulai beroperasi sejak tahun 2014. Namun, kata Aini, PT.BSI mulai mengeksplorasi sejak tahun 1997.


"Operasinya mulai 2014 udah digempur (Eksploitasi)  sampai sekarang," lanjutnya, "kalau eksplorasinya udah lama, mulai tahun 1997 udah ada eksplorasi," ujarnya.




PT.DSI Melalui Putusan Gubernur Jatim


Setelah Gunung Tumpang Pitu menjadi  tambang emas, giliran PT. Damai Suksesindo (DSI) yang coba menggarap Gunung Salakan, PT. DSI dan PT. BSI sama-sama anak dari perusahaan PT. Merdeka Copper Gold.


"Tumpang Pitu sudah kelihatan rusak, belum cukup itu. Tahun ini, mereka ingin menggarap Salakan (Gunung) juga," ujar Hidayat, warga Desa Sumbermulyo, Pesanggaran, Banyuwangi.


Hal itu melalui Izin Usaha Pertambangan (IUP) eksplorasi PT. DSI yang diterbitkan berdasarkan Keputusan Gubernur Jatim  No. P2T/83/15.01/V/2018 tertanggal 17 Mei 2018.


Atas IUP Eksplorasi yang diputuskan Gubernur Jatim, PT.DSI melakukan kegiatan eksplorasi dan studi kelayakan dalam IUP yang berlokasi di Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi seluas 6.558,46 Ha, mencakup pegunungan Salakan sendiri.


Sedangkan tahap produksi. Saat ini, kata Hidayat belum dilakukan, sebab masih dihadang oleh warga Banyuwangi dan sekitarnya.


"Kami sebagai warga itu sekarang mendirikan tenda perjuangan di pintu masuk Gunung Salakan. Sampai hari ini masih berdiri tendanya," ungkapnya.


Gunung Salakan adalah gunung yang mengelilingi 5 desa diantaranya sebelah barat terdapat 2  Desa, satu lingkaran lagi sebelah timur terdapat 3 desa. Bagi masyarakat, Gunung Salakan merupakan sebagai benteng alami sekaligus titik aman pengungsian saat terjadi bencana tsunami.



Semenjak kegiatan industri pertambangan itu beroperasi di Gunung Tumpang Pitu dan sekitarnya. Beberapa dampak terjadi, seperti pada tahun 2016, banjir lumpur melanda pada kawasan Gunung Tumpang Pitu. 300 hektar tanaman jagung milik warga gagal panen.


"Dampaknya banyak, jadi pada tahun 2016 sempat banjir lumpur," ucap Aini.


Tidak hanya itu, operasi pertambangan itu berdampak pada sumur warga yang mengering. Sumur warga di sekitar Tumpang Pitu, sudah mulai mengering. "Air bersihnya udah nggak ada di sana," kata Hidayat.


Selain itu, hasil penangkapan nelayan berkurang. Sekarang, Hidayat mengungkapkan, untuk mendapatkan ikan harus melaut selama 9 jam. Padahal dulu, kata dia, nelayan hanya melaut di sekeliling Gunung Tumpang Pitu. "Sekarang nggak ada ikan di sekeliling gunung itu," tuturnya.


Editor: Fitriani




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment